BRI tebar dividen Rp 209 per saham, cair 8 Mei 2026

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menetapkan pembagian dividen tunai kepada pemegang saham untuk tahun buku 2025 dengan total nilai mencapai Rp 52,10 triliun atau setara Rp 346 per saham.

Dalam keterbukaan informasi BEI, perseroan menyampaikan jumlah tersebut telah termasuk dividen interim sebesar Rp 137 per saham yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026. Dengan demikian, sisa dividen tunai yang akan dibagikan kepada pemegang saham sebesar Rp 209 per saham.

“Dengan demikian, sisa jumlah dividen tunai yang akan dibayarkan kepada pemegang saham sebesar Rp 31.470.159.890.136,00 atau sebesar Rp 209,00 per saham,” jelas pengumuman BRI, dikutip Selasa (14/4).

Pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 8 Mei 2026 kepada pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 22 April 2026 sebagai recording date. Adapun periode perdagangan saham dengan hak dividen (cum dividen) di pasar reguler dan negosiasi berlangsung hingga 20 April 2026, sementara di pasar tunai hingga 22 April 2026.

Selanjutnya, saham akan diperdagangkan tanpa hak dividen (ex dividen) mulai 21 April 2026 di pasar reguler dan negosiasi serta 23 April 2026 di pasar tunai.

Perseroan menjelaskan pembayaran dividen bagi pemegang saham yang sahamnya berada dalam penitipan kolektif akan dilakukan melalui PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan didistribusikan ke rekening dana nasabah pada perusahaan efek atau bank kustodian pada tanggal pembayaran. Sementara, bagi pemegang saham warkat, dividen bakal ditransfer langsung ke rekening masing-masing.

BRI Raup Laba Bersih Rp 57,13 T pada 2025

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengumumkan pencapaian laba bersih sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 57,13 triliun. Angka tersebut turun sekitar 5,2 persen dari laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp 60,3 triliun.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan total aset BRI tumbuh sebesar 7,1 persen secara tahunan menjadi sebesar Rp 2.135 triliun. Kemudian Dana Pihak Ketiga (DPK) perusahaan menunjukkan kenaikan sebesar 7,4 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 1.467 triliun, didorong pertumbuhan dana murah (CASA).

BRI juga mencatat cost of fund dari DPK pada akhir tahun 2025 mengalami penurunan menjadi sebesar 2,9 persen, membaik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2004 sebesar 3,1 persen.

“Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba. Hingga akhir tahun 2025 BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 57,132 triliun,” ungkap Hery saat konferensi pers secara virtual, Kamis (26/2).

Dari sisi intermediasi penyaluran kredit BRI mengalami kenaikan sebesar 12,3 persen (yoy) menjadi Rp 1.521 triliun dengan fokus penyaluran pada segmen UMKM. Pencapaian ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional pada tahun 2025 yakni sebesar 9,6 persen (yoy).