
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi rebound pada April usai lama tertekan sepanjang kuartal I/2026. Adapun, sentimen musim pembagian dividen hingga rebalancing portofolio saham menjadi pendorong utamanya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG telah anjlok 17,92% ke level 7.097,05 di sepanjang tahun berjalan hingga 27 Maret 2026.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan secara historis, IHSG pada bulan April cenderung berada dalam keadaan bullish. Selain itu, Nafan juga menjelaskan IHSG cenderung berada dalam kondisi lower base effect sepanjang Maret.
“Jadi ada lower base effect juga, tentu harapannya di bulan April pergerakan IHSG mulai membaik karena investor sudah mulai melaksanakan rebalancing portofolio usai libur panjang,” ujar Nafan, Minggu (29/3/2026).
: IHSG Diproyeksi Bearish Pekan Depan, Geopolitik hingga MSCI jadi Sentimen
Dia melanjutkan sentimen lainnya yang akan mempengaruhi IHSG adalah musim laporan keuangan emiten dan jadwal pembagian dividen. Menurutnya, pembagian dividen menjadi sweetener atau pemanis bagi investor.
Menurut Nafan, dividen dari perusahaan seperti perbankan juga cukup kompetitif, sehingga dapat menahan tekanan jual bagi indeks.
Selain itu, lanjutnya, review MSCI juga akan menjadi salah satu sentimen yang dinantikan investor. Menurutnya, hal ini seharusnya bisa menjadi katalis positif bagi foreign flow.
Sementara itu, dari data ekonomi, investor menanti rilis data inflasi Maret di awal April. Apabila inflasi tetap terkendali, menurutnya kepercayaan investor terhadap daya beli domestik akan pulih.
Dia melanjutkan, investor juga masih akan mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah pada April mendatang.
“Ada juga kekhawatiran higher for longer policy oleh bank sentral global, termasuk The Fed. Ini terjadi karena meredam kekhawatiran stagflasi,” tuturnya.
Dia juga menuturkan investor akan menantikan data ketenagakerjaan AS. Menurutnya, katalis-katalis tersebut akan mempengaruhi dinamika pasar modal pada bulan April.
Hari ini, Senin (30/3/2026), IHSG diprediksi masih akan berada dalam keadaan cenderung melemah atau bearish. Tekanan diperkirakan datang dari kombinasi sentimen global dan domestik.
Analisis teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menjelaskan bahwa tekanan bagi IHSG masih terlihat cukup konsisten, dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
“Proyeksi IHSG pekan depan, saat ini market masih cenderung dalam fase konsolidasi dengan bias melemah atau bearish minor,” ujar Reza, Minggu (29/3/2026).
Reza melanjutkan bahwa laporan keuangan emiten 2025 memang menjadi salah satu katalis pendorong pergerakan pasar. Namun, kata dia, katalis utama IHSG saat ini masih berasal dari faktor eksternal, khususnya konflik Timur Tengah yang hingga saat ini masih belum pasti.
Dia menjelaskan kondisi terakhir saat ini Amerika Serikat menunda rencana penyerangan hingga 6 April 2026 dan mengajukan 15 poin perdamaian. Namun, pihak Iran masih belum memberikan respons dan masih membatasi akses ke Selat Hormuz untuk perdagangan global.
: Cek Saham Jagoan MNC Sekuritas saat IHSG Lesu
Hal ini mendorong kenaikan harga komoditas seperti minyak bumi dan batu bara, yang dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan inflasi global ke depan.
Reza juga menuturkan bahwa untuk pekan depan, terdapat beberapa rilis data ekonomi penting yang perlu diperhatikan. Dari domestik, data-data ekonomi yang perlu diperhatikan menurutnya adalah neraca perdagangan Indonesia yang diproyeksikan masih surplus.
Lalu, inflasi Maret 2026 yang diperkirakan naik ke kisaran 5%–5,4% secara tahunan, didorong oleh momentum Lebaran, peningkatan konsumsi BBM, serta kenaikan harga energi akibat gangguan pasokan global.
Sementara itu, rilis data global yang perlu diperhatikan menurutnya adalah data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat dan Unemployment Rate AS.
“Data tenaga kerja AS ini akan menjadi salah satu acuan penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan,” ucapnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.