Transaksi LCT naik 309%, BI dorong diversifikasi dari dolar AS

Ussindonesia.co.id , MAKASSAR — Bank Indonesia (BI) akan terus mengoptimalkan local currency transaction (LCT) antar negara-negara mitra dagang di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Sebagai informasi, LCT adalah penyelesaian transaksi yang dilakukan secara bilateral oleh pelaku usaha di Indonesia dan negara mitra dengan menggunakan mata uang negara mitra melalui bank Appointed Cross Currency Dealers (ACCD). 

Upaya diversifikasi eksposur mata uang ini diharapkan juga bisa mendorong efisiensi biaya transaksi, pengembangan pasar mata uang lokal di regional serta pengembangan akses partisipasi pelaku pasar. Sebab, dengan mekanisme LCT, kedua negara yang melakukan transaksi tidak perlu lagi menggunakan dolar AS. 

: Potensi Tinggi, BI Harus Terus Dorong LCT di Negara dengan Jumlah PMI Melimpah

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy menjelaskan, urgensi penggunaan LCT semakin tinggi khususnya setelah pengumuman tarif impor oleh AS pada 2025 lalu. Volume transaksinya sudah mencapai setara US$22,61 miliar pada Januari-April 2026, atau meroket 309% (yoy) dari periode yang sama pada 2025 sebesar US$7,33 miliar. 

“Bukan kami menghindari dolar AS, karena kami tahu global itu masih [menggunakan dolar]. Tetapi untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung dengan domestik, kenapa harus pakai dolar dulu, karena kalau muter sudah pasti ada middle-man, sudah pasti enggak efisien. Itu inti dari LCT sebenarnya,” jelas Ruth pada acara pelatihan wartawan yang diselenggarakan di Makassar, Jumat (22/5/2026). 

: : Rupiah Ambrol, Kemenperin Minta Impor Alihkan dari Negara LCT China hingga Jepang

Adapun negara-negara yang paling banyak menerapkan LCT dengan Indonesia dalam transaksi ekonomi dan keuangan adalah China (89%), Jepang (6%) dan Malaysia (3%). Secara keseluruhan, volume transaksi ini terus meningkat dari awalnya hanya setara US$2,53 miliar pada 2021 menjadi US$25,72 miliar pada 2025.

Ruth menyatakan bahwa pihaknya optimistis tren LCT semakin meningkat. Sebab, volumenya pada Januari-April 2026 sudah mencapai US$22,61 miliar atau kurang US$3,1 miliar saja dari total sepanjang 2025. 

: : Transaksi LCT Indonesia dan Negara Mitra Tembus US$4,7 Miliar pada Semester I/2024

Rata-rata bulanan pelaku LCT juga terus meningkat dari 497 pelaku usaha pada 2021, lalu meningkat hingga 9.720 pelaku usaha pada 2025. Adapun jumlah sepanjang Januari-April 2026 adalah 5.265 pelaku usaha rata-rata per bulan. 

Mekanismenya, kerja sama LCT harus disepakati antara bank sentral. Sejak 2018, Bank Indonesia (BI) sudah menandatangani kerja sama LCT dengan bank sentral Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan dan Uni Emirat Arab (UEA). 

Kemudian, importir maupun eksportir di masing-masing negara mitra LCT akan membuka rekening di bank ACCD. Dengan demikian, saat transaksi dilakukan, maka mata uang yang digunakan bakal disesuaikan dengan negara yang menjadi mitra transaksi. 

Ke depan, BI akan segera memperluas mekanisme LCT dengan negara-negara mitra lainnya. Dalam waktu dekat, Indonesia akan melakukan kerja sama LCT dengan Singapura, India, dan Arab Saudi. 

“Ini to be implemented dalam waktu dekat adalah SGD, [Rupee] India dan [Riyal] Arab Saudi,” pungkas Ruth. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede pun mengamini ihwal perlunya optimalisasi hingga perluasan kerja sama LCT. Terutama di tengah tren depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Menurut catatan Josua, pelemahan nilai tukar saat secara tahun berjalan 2026 sudah mencapai lebih dari 5% (year-to-date/ytd). Beberapa mata uang negara mitra yang juga melemah di hadapan dolar AS termasuk Rupee India, Won Korea Selatan, Yen Jepang, Peso Filipina, Dolar Hong Kong, Bath Thailand, serta Dolar Taiwan. 

Masalahnya, pada periode yang sama pula, nilai tukar Rupiah hanya menguat di hadapan rupee India. Apabila dibandingkan dengan negara Asia lainnya, kurs mata uang Garuda melemah. 

“Yang paling dalam kita melemah terhadap Ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap Singapura dolar, yang berikutnya terhadap Hong Kong, terhadap Yuan,” jelas Josua. 

Akan tetapi, Josua menilai bahwa faktor yang mendorong depresiasi rupiah tidak hanya berasal dari kondisi global saja melainkan juga permasalahan domestik. 

Di sisi lain, ada faktor musiman seperti permintaan dolar yang meningkat pada kuartal II/2026 seperti musim haji, repatriasi dividen korporasi serta pembayaran utang luar negeri. 

Oleh sebab itu, Josua menilai penggunaan LCT perlu digalakkan. Seperti misalnya pada musim haji, permintaan konversi rupiah ke dolar AS yang tinggi turut menekan kurs. Padahal, harusnya LCT bisa diterapkan antara Indonesia dan Arab Saudi. 

“Makanya memang kita juga perlu menggalakkan tadi namanya LCT, jadi saya juga menyuarakan juga LCT. Sekalipun memang juga harapannya pun kita juga mendorong Bank Indonesia menyuarakan ke peers central bank lain juga,” ujarnya.