
Nilai tukar rupiah melemah 0,37% ke level 17.309 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Rabu (29/4). Rupiah tertekan jelang pengumuman suku bunga The Federal Reserve di tengah kian memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 27 poin ke level 17.270 per dolar AS. Kurs rupiah terus melemah ke level 17.309 per dolar AS hingga pukul 09.30 WIB.
Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,38%, baht Thailand 0,31%, yuan Cina 0,02%. peso Filipina 0,32%, won Korea Selatan 0,23%, dan dolar Hong Kong 0,01%. Sedangkan yuan Jepang dan ringgit Malaysia menguat masing-masing 0,02% dan 0,03%.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, pelemahan rupiah, antara lain dipicu memanasnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah usai Amerika Serikat menolak proposal Iran. Kondisi tersebut memicu pesimisme pasar terhadap prospek perdamaian di kawasan tersebut.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off dan kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujarnya kepada Katadata, Rabu (29/4).
Lukman menjelaskan, penolakan AS mendorong kembali kenaikan harga minyak global dan memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven. Proposal tersebut meliputi rencana Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sembari menunda pembahasan soal program nuklirnya ke negosiasi lanjutan.
Dalam kondisi tersebut, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.200 hingga Rp 17.300 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terjadi menjelang pengumuman suku bunga The Fed pada Rabu (29/4) waktu Washington DC atau Kamis (30/4) dini hari waktu Indonesia. Para pejabat The Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Kebijakan The Fed kemungkinan dipengaruhi oleh perkembangan terbaru dalam drama politik seputar peralihan kepemimpinan di bank sentral tersebut. Keputusan Departemen Kehakiman pekan lalu untuk menghentikan investigasi kriminal kontroversial terhadap The Fed telah membuka jalan bagi pengesahan Kevin Warsh, pilihan Presiden Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai ketua Fed.
Senator Thom Tillis, yang sebelumnya menghalangi pemungutan suara, kini menyatakan akan mendukung pengesahan Warsh setelah menerima jaminan dari Departemen Kehakiman bahwa investigasi tersebut “benar-benar dan sepenuhnya berakhir.”
Komite Perbankan Senat, di mana Tillis adalah anggotanya, dijadwalkan untuk memberikan suara pada nominasi Warsh pada 29 April. Juru bicara Fed saat ini masih menolak berkomentar.
Pertemuan kebijakan terakhir Powell sebagai ketua ini kemungkinan besar akan minim kejutan. Kekhawatiran tentang bagaimana perang Iran dapat memengaruhi inflasi kemungkinan akan membuat para pembuat kebijakan tidak akan banyak mengambil perubahan. Suku bunga AS akan tetap di kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Para pejabat juga kemungkinan tidak akan memberikan sinyal tegas tentang arah kebijakan selanjutnya. Robert Tetlow, mantan penasihat senior di Fed di Washington, mengatakan, mereka masih kesulitan untuk mengukur bagaimana guncangan energi pada akhirnya akan berdampak.