
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatat penurunan kinerja sepanjang Januari–September 2025. Kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) dapat menjadi katalis pendorong kinerja BSDE ke depannya.
BSDE mengantongi pendapatan Rp 8,76 triliun per kuartal III-2025. Jumlah tersebut turun 12,95% dari Rp 10,06 triliun per kuartal III-2024. Senada, laba bersih BSDE juga terkoreksi 49,53% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1,36 triliun per September 2025.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan tantangan utama BSDE pada awal 2026 berasal dari ketidakpastian suku bunga yang masih relatif tinggi, yang dapat menahan keputusan pembelian properti berbasis KPR.
Tekanan biaya konstruksi dan persaingan antar pengembang di Jabodetabek juga berpotensi menekan margin. Di sisi lain, faktor makro seperti daya beli dan sentimen konsumen tetap perlu dicermati.
“Sentimen kunci meliputi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, stabilitas ekonomi domestik, serta tren penjualan properti residensial,” ucap Harry Su kepada Kontan, Senin (12/1/2026).
Luncurkan Kluster Hunian Baru, Simak Rekomendasi Saham Bumi Serpong Damai (BSDE)
Harry menambahkan, kebijakan pemerintah terkait insentif properti, seperti PPN DTP, juga dapat menjadi katalis penting bagi permintaan. Selain itu, perkembangan proyek infrastruktur di sekitar BSD City turut memengaruhi persepsi pasar terhadap prospek BSDE.
Menurut Harry, potensi peningkatan permintaan kelas menengah ke atas pada awal 2026 terlihat lebih terbatas. Hal ini karena suku bunga yang masih relatif tinggi dapat menahan minat beli, termasuk di segmen premium yang tetap sensitif terhadap cicilan dan opportunity cost.
“Tren konsumen cenderung lebih selektif dan menunda keputusan pembelian besar di fase awal tahun ketika ketidakpastian makroekonomi masih terasa,” terang Harry.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan, melihat secara keseluruhan ada beberapa sentimen kunci yang perlu diperhatikan untuk mencermati kinerja BSDE di awal tahun ini.
Pertama, arah suku bunga acuan Bank Indonesia dan dampaknya terhadap tingkat suku bunga KPR akan berdampak langsung pada daya beli konsumen dan minat pembelian rumah.
Kedua, kemajuan peluncuran proyek baru dan pencapaian target prapenjualan akan menjadi indikator penting sejauh mana BSDE dapat mengelola pertumbuhan organik bisnisnya.
Bumi Serpong Damai (BSDE) Bayar Kupon Surat Utang pada Awal 2026
Ketiga, kemampuan perusahaan dalam memonetisasi proyek melalui penjualan lahan strategis atau joint venture juga menjadi faktor yang dapat memperkuat posisi likuiditas dan mendukung ekspansi bisnis.
Terkait potensi permintaan properti di awal 2026, Ekky menilai ada sentimen positif dari potensi pemangkasan suku bunga BI dan perpanjangan diskon PPN rumah 100% yang dipandang dapat mendorong permintaan kredit pemilikan rumah serta meningkatkan minat konsumen untuk masuk ke pasar properti.
Ekky mengatakan bahwa penyesuaian kembali suku bunga serta insentif fiskal tertentu dapat membantu mengurangi hambatan pembelian rumah, sehingga menciptakan peluang peningkatan permintaan, khususnya di segmen residensial dan komersial di lokasi-lokasi strategis.
“Sektor properti secara keseluruhan tetap relevan untuk dipertimbangkan oleh investor yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang, dengan catatan bahwa volatilitas dan sensitivitas terhadap suku bunga perlu dimitigasi melalui manajemen risiko yang disiplin,” jelas Ekky.
Sementara itu, Yasmin Soulisa, analis Ciptadana Sekuritas Asia, mencatat per 30 September 2025, pinjaman bank perusahaan meningkat 13% dibandingkan akhir tahun 2024.
Ini menyusul fasilitas baru dari BRI dan BNI, dengan utang sepenuhnya dalam denominasi rupiah. Belanja modal mencapai Rp 3,89 triliun, difokuskan pada akuisisi lahan dan infrastruktur, termasuk jalan tol Serpong–Balaraja.
“Kami menyesuaikan proyeksi pendapatan kami untuk mencerminkan penjualan properti yang lebih lambat dan tekanan margin,” ujar Yasmin dalam risetnya pada 24 Desember 2025.
BSDE Chart by TradingView
Yasmin memproyeksikan pendapatan dan laba bersih BSDE tahun 2025 masing-masing mencapai Rp 11,07 triliun dan Rp 1,81 triliun. Pendapatan dan laba bersih BSDE tahun 2026 diproyeksi mencapai Rp 11,64 triliun dan Rp 2,01 triliun.
Adapun pada tahun 2024, BSDE mengantongi pendapatan Rp 13,79 triliun dan laba bersih sebesar Rp 4,35 triliun.
Yasmin, Ekky, dan Harry Su merekomendasikan Buy saham BSDE dengan target harga masing-masing Rp 1.200 per saham, Rp 1.200 per saham, dan Rp 1.100 per saham.
Risiko utama terhadap rekomendasi tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dari perkiraan, perubahan regulasi di sektor properti, dan kenaikan biaya konstruksi.