IHSG tersungkur 4,32% sesi I, dihantam perang AS-Iran dan kejutan transparansi saham?

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami tekanan di sepanjang perdagangan sesi I hari ini, Rabu (4/3/2026). Tidak tanggung-tanggung, pelemahan IHSG bahkan sampai 4% lebih.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 4,32% ke level 7.596,57 pada akhir perdagangan sesi I, Rabu (4/3/2026). Sebanyak 63 saham menguat, 713 saham melemah, dan 37 saham stagnan.

IHSG bergerak pada rentang 7.584 – 7.897 pada sesi pertama hari ini. Kapitalisasi pasar di BEI tercatat Rp13.572,61 triliun.

: Hati-hati Volatilitas IHSG Jangka Pendek Saat Penyesuaian Free Float 15%,

Tim riset Maybank Sekuritas mengatakan volatilitas jangka pendek terhadap IHSG perlu diwaspadai setelah BEI mengumumkan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%.

Langkah ini memang dinilai positif untuk transparansi jangka panjang karena pasar kini bisa menilai struktur kepemilikan suatu emiten secara lebih akurat. Namun, di tahap awal penerapannya, pasar berpotensi bergejolak.

“Jangka pendek volatilitas tinggi sangat mungkin,” ujar Tim Riset Maybank Sekuritas, Rabu (4/3/2026).

Setelah data 1% dibuka, sejumlah saham yang selama ini tercatat memiliki porsi free float lebih besar ternyata didominasi oleh kepemilikan individu yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Akibatnya, free float terlihat turun signifikan untuk beberapa emiten.

Bagi saham-saham yang sudah masuk indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI dan indeks domestik seperti LQ45 tetapi tidak mengabarkan free float pun berpotensi mengalami outflow.

Menurut Maybank Sekuritas, untuk emiten dengan kinerja solid dan ekspansi kuat, penyesuaian free float dapat diatasi lewat corporate action, meski tidak bisa dilakukan secara instan. Artinya, dampak negatif bersifat jangka pendek.

: OJK Targetkan 75% Emiten Penuhi Minimum Free Float 15% pada Tahun Pertama

Sementara itu, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menjelaskan pergerakan IHSG hari ini sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga mengalami penurunan tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, dan ASX.

Bahkan, kata Irvan, Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8%

“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis Energi,” kata Irvan, Rabu (4/3/2026). 

Menurut Irvan, hal ini juga sudah tercermin pada harga minyak mentah dunia yang meningkat. Dilansir Bloomberg pada Rabu (4/3/2026), harga minyak West Texas Intermediate naik ke level di atas US$75 per barel usai reli 11% selama dua hari. Penguatan ini menjadi yang terbesar dalam 4 tahun terakhir. Pada pukul 7.51 pagi waktu Singapura, harga minyak WTI untuk pengiriman April naik 1,1% ke level US$74,41 per barel.

Sementara, minyak Brent ditutup dekat level US$81 per barel, tepatnya US$81,40 per barel atau naik 4,7% pada penutupan perdagangan kemarin untuk kontrak Mei.

: Hari Kelima Perang Iran vs AS-Israel, Harga Minyak Terus Memanas

Presiden Donald Trump mengatakan pada Selasa kemarin bahwa US International Development Finance Corporation akan menawarkan asuransi kapal untuk membantu memastikan kelancaran aliran energi dan perdagangan lainnya, serta menyediakan pengawalan angkatan laut jika diperlukan.

Langkah AS ini menyusul tanda-tanda meningkatnya gangguan bagi produsen di kawasan tersebut akibat penutupan jalur air. Irak, produsen OPEC terbesar kedua, telah mulai menutup ladang Rumaila, ladang terbesar negara itu, dan proyek West Qurna 2, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.