Bank Mandiri sebut dana SAL Rp 55 T akan disalurkan ke UMKM hingga padat karya

Manajemen PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) buka suara terkait penempatan dana pemerintah berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 55 triliun di perseroan. Dana tersebut merupakan bagian dari total Rp 200 triliun yang ditempatkan pemerintah di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan penempatannya telah diperpanjang hingga September 2026.

Direktur BMRI Mochamad Rizaldi mengatakan, penempatan dana SAL tersebut sejatinya difokuskan untuk mendukung penyaluran kredit serta menjaga kelancaran fungsi intermediasi perbankan.

Dia melaporkan, penyaluran dana diarahkan ke sektor-sektor produktif seperti UMKM, industri padat karya serta sektor strategis lainnya, termasuk perkebunan, ketahanan pangan, hilirisasi sumber daya alam, energi terbarukan, layanan kesehatan dan manufaktur.

“Harapan kami, Bank Mandiri berupaya terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan memperkuat daya saing ekspor serta memperluas penciptaan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Rizaldi dalam paparan publik kuartal I 2026 BMRI secara Virtual, Selasa (21/4).

Baca juga:

  • Bank Mandiri (BMRI) Cetak Laba Rp 15,4 T Kuartal I, Kredit Tumbuh jadi Penopang
  • Bank Mandiri Gelar Donor Darah Massal bagi 2.800 Pendonor
  • Bank Mandiri Gelar Penguatan Layanan Livin’ by Mandiri Jelang Lebaran

Ia menjelaskan, penempatan dana SAL merupakan bagian dari upaya bersama perseroan untuk menjaga efektivitas transmisi likuiditas di sistem keuangan, sekaligus mendukung percepatan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi.

Di internal BMRI, kata dia, dana tersebut dikelola secara hati-hati (prudent) dan produktif dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku serta kebutuhan likuiditas bank. Sesuai tujuan penempatannya, dana difokuskan untuk memperkuat penyaluran kredit.

Namun, Rizaldi tidak menyebutkan apakah dana tersebut juga ditempatkan pada instrumen surat berharga negara (SBN), termasuk besaran porsinya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambah penempatan dana SAL ke bank Himbara sebesar Rp 100 triliun. Hal ini dilakukan sebelum Lebaran Idulfitri 2026 lalu. Langkah tersebut dilakukan Purbaya setelah dia memutuskan untuk memperpanjang penempatan dana  sebesar Rp 200 triliun hingga September 2026.

Purbaya menjelaskan, penempatan dana SAL di Bank Himbara kini mencapai Rp 300 triliun. Ia menjelaskan tambahan penempatan dana ini bertujuan untuk melonggarkan likuiditas perbankan yang mulai ketat. Penilaian itu didasari dari pengamatannya atas meningkatnya yield surat berharga.

“Kalau bond yield naik 0,1% saya udah perhatiin, ada apa nih? Naik 0,4%, pasti kekeringan, kekurangan likuiditas di bank kurang atau apa penyebabnya? Saya cek, oh betul bank kurang. Saya tambah lagi masukin ke sistem,” katanya. 

Purbaya menyebut pembagian penempatan dana dilakukan secara fleksibel. Selain Bank Himbara, BPD DKI atau Bank Jakarta juga mendapatkan penempatan dana sekitar Rp 2 triliun. Di sisi lain, ia mengatakan belum melakukan hal yang sama untuk bank swasta. 

BMRI Cetak Laba Rp 15,4 Triliun pada Kuartal I 2026

Sementara itu, BMRI membukukan laba konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut naik 16,6% dari laba konsolidasi periode yang sama tahun 2025.  

Bank Mandiri mencatatkan pendapatan bunga bersih mencapai Rp 1.530 triliun. Pertumbuhannya mencapai 17,4% secara tahunan dibandingkan kredit pada 2024 sebesar Rp 1.383 triliun. 

“Pertumbuhan kredit tersebut juga kami fokuskan untuk mendorong aktivitas ekonomi real, khususnya pada sektor produktif dan padat karya,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Riduan dalam paparan publik Kuartal I 2026 Bank Mandiri yang digelar secara virtual, Selasa (21/4).

Hal tersebut, lanjut Riduan, tercermin dari pertumbuhan kredit UMKM Bank Mandiri yang mencapai 5,27% secara yoy, jauh lebih baik dibandingkan kredit UMKM yang di industri perbankan yang masih melanjutkan konstraksi.

Total aset konsolidasi Bank Mandiri juga naik 17,4% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 2.254 triliun. Adapun pertumbuhan kredit tersebut juga diikuti dengan kualitas aset yang terjaga. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross bank only tercatat 0,98%, dengan coverage ratio yang tetap solid di level 245%.

“Pertumbuhan Bank Mandiri yangs angat baik tersebut selalu diiringi dengan pengelolaan kualitas aset yang disiplin,” ujarnya.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 21,1% yoy menjadi Rp 1.675 triliun.