Kisi-kisi pipeline IPO Mandiri Sekuritas, persiapan tetap jalan walau pasar bergejolak

Ussindonesia.co.id JAKARTA — Mandiri Sekuritas terus memproses calon emiten yang akan menggalang dana di pasar modal lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada kuartal I/2026 walaupun kondisi pasar bergejolak.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menjelaskan saat ini calon emiten di dalam pipeline perseroan memang ada kekhawatiran mengenai kondisi pasar seperti outlook negatif yang disematkan Moody’s untuk Indonesia. Namun, nantinya hal itu akan ditindaklanjuti oleh pemerintah. 

“Dari klien-klien, mereka concern, tapi kalau lihat market juga reaksinya sejauh ini positif saja ya ga terlalu crash gitu. Jadi saya masih optimistis,” kata Oki ditemui Jumat (13/2/2026).

: Wait and See Calon Emiten IPO Saat Moody’s Turunkan Outlook Indonesia

Sementara itu, Oki mengapresiasi langkah regulator pasar modal seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tengah mereformasi pasar modal. Adapun, langkah reformasi ini menyusul pengumuman penyedia indeks global MSCI bulan lalu yang akan membekukan rebalancing untuk saham asal Indonesia yang menyinggung soal transparansi.

MSCI pun mengingatkan apabila regulator pasar modal RI tidak dapat menangani isu-isu yang menjadi concern MSCI maka Indonesia berpotensi turun kasta menjadi frontier market.

“Reformasi pasar modal juga sudah mulai berjalan baik, jadi saya enggak melihat ada isunya ya,” kata Oki.

Oki melanjutkan saat ini Mandiri Sekuritas tengah memproses beberapa IPO perusahaan. Menurutnya, Mandiri Sekuritas akan membawa sejumlah IPO pada semester II/2025. 

“Mereka memilih window yang tepat aja nanti. Tapi persiapan tetap berjalan, mereka tetap lihat,” ucapnya. 

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai outlook negatif dari Moody’s lebih sebagai sinyal bahwa risiko ke depan meningkat, tapi bukan berarti pintu pendanaan di pasar modal langsung tertutup. Dengan demikian, lanjutnya, pasar modal tetap bisa dipakai untuk pendanaan.

“Hanya saja dengan kondisi risiko yang naik, perusahaan akan lebih hati-hati dalam melakukan aksi korporasi, baik IPO, rights issue, maupun penerbitan instrumen lain karena biaya dan konsekuensi valuasi yang lebih berat,” ujar Ekky.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.