Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi menunjuk Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell. Penunjukkan itu dilakukan pada Jumat (30/1/2026).
Penunjukkan Warsh sebagai ketua bank sentral AS tersebut mengakhiri kisruh yang terjadi antara Trump dan The Fed yang mulai memanas sejak ia menjabat lagi sebagai presiden pada Januari 2025 lalu.
“Aku sudah mengenal Kevin (Warsh) sejak lama. Aku yakin dia akan dikenang sebagai salah satu Ketua The Fed terhebat. Mungkin bisa juga yang terbaik,” kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social usai mengumumkan penunjukan Warsh.
1. Penunjukkan Kevin Warsh akan ditinjau oleh senat Amerika Serikat
Meski sudah ditunjuk Donald Trump jadi Ketua The Fed, Kevin Warsh belum bisa menjabat. Sebab, penunjukkan tersebut akan ditinjau oleh senat Amerika Serikat terlebih dahulu. Ini diperlukan untuk menilai kelayakan Warsh sebelum menjabat.
Jika disetujui, Warsh akan resmi menjabat sebagai ketua Federal Reserve pada Mei 2026 mendatang. Itu bertepatan dengan waktu akhir masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed sebelumnya. Sebab, Powell sudah menjabat sejak 2018.
Sambil menunggu persetujuan senat, Warsh akan mengisi jabatan di posisi Dewan Gubernur The Fed. Ia akan menemani Stephen Miran yang menjabat sebagai Gubernur The Fed untuk sementara waktu.
2. Penunjukkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed dinilai tepat
Para ekonom menilai penunjukkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru sudah tepat. Sebab, Warsh dianggap bisa menjaga independensi The Fed sebagai bank sentral Amerika Serikat agar tidak selalu dipengaruhi Donald Trump.
“Dia (Kevin Warsh) memiliki rasa hormat dan kredibilitas dari pasar keuangan,” kata Kepala Investasi The Bahnsen Group, David Bahnsen, di acara “Squawk Box” yang dihelat CNBC.
“Tidak ada orang yang akan mendapatkan pekerjaan ini yang tidak akan menurunkan tarif dalam jangka pendek. Namun, aku percaya bahwa dalam jangka panjang, dia akan menjadi kandidat yang kredibel,” tambah Bahnsen.
3. The Fed selalu diintervensi Donald Trump sejak pertama kali jadi presiden AS
Saat Donald Trump resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2017, independensi The Fed sebagai bank sentral memang terganggu. Sebab, Trump kerap kali mengintervensi kebijakan moneter yang dibuat mereka.
Pada 2018, misalnya, Trump memerintahkan The Fed untuk menurunkan suku bunga dengan jumlah tinggi. Langkah ini diambil untuk mendorong perekonomian karena bunga pinjaman bank di AS jadi lebih murah.
Trump juga melakukan hal serupa pada 2025. Tahun lalu, Trump kembali meminta The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam jumlah tinggi. Bahkan, ia saat itu meminta penurunan suku bunga kepada The Fed sebanyak tiga kali berturut-turut.
Langkah ini lantas menuai kecaman dari para pejabat The Fed. Inilah yang membuat bank tersebut berseteru dengan Trump sepanjang 2025. Puncaknya adalah ketika Jerome Powell menolak menganggarkan dana fantastis untuk renovasi kantor The Fed. Imbas tindakan ini, Trump menyebut Powell sebagai pembangkang.
Konflik Powell–Trump Picu Pertanyaan soal Masa Depan The Fed Jerome Powell Ungkap DOJ Ancam Dakwaan Pidana terhadap The Fed Trump Sudah Tentukan Calon Ketua The Fed Pengganti Powell