
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten di sektor ritel dinilai masih tetap tangguh meski pemerintah tengah mengembangkan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di berbagai daerah.
Pemerintah sendiri menargetkan sedikitnya 20.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai beroperasi pada Agustus 2026. Jumlah tersebut lebih rendah dibanding target awal yang mencapai 30.000 koperasi.
Kehadiran koperasi tersebut diperkirakan belum akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja maupun pertumbuhan bisnis emiten ritel modern dalam waktu dekat.
MPPA Sebut Kehadiran Kopdes Merah Putih Tak Langsung Ubah Persaingan Ritel
Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Tomin Widian mengatakan hingga saat ini belum ada dampak material terhadap kinerja operasional AMRT yang disebabkan oleh kehadiran Kopdes Merah Putih.
Sejalan dengan hal itu, tidak terdapat penutupan gerai yang diakibatkan oleh keberadaan Kopdes Merah Putih.
Tomin juga bilang belum ada dampak material terhadap rantai pasok AMRT akibat pendirian Kopdes Merah Putih.
Dari sisi strategi mitigasi untuk menjaga pertumbuhan toko, AMRT berfokus pada peningkatan layanan kepada pelanggan, antara lain pemenuhan produk sesuai kebutuhan pelanggan, penentuan harga yang kompetitif, serta pembuatan program promosi yang relevan.
“Perseroan tetap memandang optimis terhadap peluang pertumbuhan pasar ritel Indonesia yang masih memiliki potensi besar, khususnya di wilayah-wilayah yang belum terlayani secara optimal,” kata Tomin, Jumat (5/6/2026).
AMRT juga akan tetap ekspansi sebanyak 800 gerai hingga akhir tahun 2026, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Cek Rekomendasi Saham Emiten Produsen Batubara yang Terancam Penurunan Ekspor
Senada, Corporate Secretary PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) Suantopo Po bilang sampai kini belum ada dampak material terhadap kinerja operasional MIDI yang ditimbulkan oleh kehadiran Kopdes Merah Putih, serta tidak terdapat penutupan gerai yang disebabkan oleh kehadiran Kopdes Merah Putih.
“MIDI tetap fokus pada peningkatan kualitas layanan ke konsumen sebagai strategi mitigasi,” jelas Suantopo.
Dari perspektif dunia usaha, lanjut Suantopo, setiap pelaku usaha dapat memiliki model bisnis, segmentasi dan target pasar yang berbeda sehingga saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Dus, perusahaan tetap fokus pada peningkatan kualitas layanan ke konsumen.
Adapun MIDI sendiri akan ekspansi sebanyak 200 gerai baru hingga akhir tahun 2026.
Sementara itu, Corporate Secretary PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) Kiki Yanto Gunawan mengatakan model usaha KDMP memiliki segmen dan karakteristik tersendiri sehingga belum berdampak secara langsung terhadap kegiatan usaha entitas asosiasi DNET.
Selain itu, industri ritel modern nasional masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup luas seiring dengan perkembangan konsumsi masyarakat dan perluasan akses layanan ritel di berbagai wilayah.
“Hingga saat ini, DNET belum melihat adanya dampak material terhadap wilayah operasional maupun gerai entitas asosiasi Perseroan terkait kehadiran Kopdes,” kata Kiki dalam keterbukaan informasi, Kamis (4/6/2026).
Kopdes Merah Putih dan Masa Depan Bumdes
Sehubungan dengan kabar mengenai penutupan atau penyesuaian operasional gerai di wilayah tertentu, termasuk di Lombok Tengah, hal tersebut merupakan bagian dari evaluasi operasional dan kepatuhan terhadap ketentuan perizinan serta tata ruang yang berlaku di daerah setempat.
Penyesuaian tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses bisnis yang umum dan tidak berkaitan secara langsung dengan keberadaan maupun operasional KDMP.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja emiten ritel modern.
DNET Chart by TradingView
Sebab, Kopdes Merah Putih lebih difokuskan untuk melayani masyarakat di wilayah pedesaan dan pelosok, sehingga memiliki segmen pasar yang berbeda dengan pelaku ritel modern.
Nafan bilang emiten ritel memiliki diferensiasi produk, model bisnis, serta karakteristik pasar yang berbeda. Apalagi ritel modern cenderung lebih banyak menyasar konsumen di kawasan perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
“Menurut saya ini bukan terlalu masalah, tidak membawa dampak material maupun tidak mengancam bisnis ritel modern, baik itu minimarket maupun home imporvement,” ucap Nafan kepada Kontan, Minggu (7/6/2026).
Indoritel Makmur (DNET) Buka Suara Soal Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih
Lebih lanjut, Nafan meyakini ekspansi bisnis emiten ritel juga tidak akan terhambat. Perusahaan masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, tidak hanya di Pulau Jawa tetapi juga di luar Jawa, termasuk dengan memperluas penetrasi ke kota-kota lapis kedua dan lapis ketiga yang dinilai masih menawarkan potensi pasar yang menarik.
Di sisi lain, target pembentukan Kopdes Merah Putih juga dinilai lebih moderat. Pemerintah menargetkan sekitar 20.000 Kopdes Merah Putih beroperasi pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan target awal sebanyak 30.000 unit.
Dengan kondisi tersebut, Nafan menilai dampak kehadiran Kopdes Merah Putih terhadap industri ritel modern akan relatif terbatas, sehingga emiten ritel tetap dapat menjalankan strategi ekspansi bisnisnya secara optimal.
Nafan juga menyarankan akumulasi beli saham AMRT di target harga terdekat di level Rp 1.415 per saham.