
Perubahan komposisi indeks global MSCI pada Mei 2026 diperkirakan tidak hanya memicu arus dana keluar (outflow) dari pasar saham Indonesia. Tetapi juga membuka peluang arus beli baru yang selama ini kurang diperhatikan pelaku pasar.
Dalam laporan riset bertajuk Tactical Alert, Henan Putihrai Sekuritas mengungkapkan, dinamika yang terjadi pascapengumuman MSCI pada Senin (20/4) lalu cenderung dipersepsikan secara sepihak.
“Diskusi yang berkembang di pasar sejak pengumuman tersebut cenderung terfokus pada narasi outflow satu arah,” tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (24/4).
Namun, berdasarkan analisis terhadap data kepemilikan tujuh exchange-traded fund (ETF) global dengan total dana kelolaan sekitar US$ 73,9 miliar atau sekira Rp 1.274 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.249,8 per dolar AS), ditemukan pola rotasi yang tidak seragam di balik pergerakan tersebut.
MSCI sebelumnya mengumumkan dua kebijakan utama dalam Semi-Annual Index Review (SAIR) Mei 2026, yakni penghapusan saham dengan status high shareholding concentration (HSC) serta pembekuan penyesuaian ke arah positif bagi saham Indonesia. Kebijakan tersebut diperkirakan memicu outflow pasif sekitar US$ 380 juta, yang berasal dari penyesuaian portofolio dana berbasis indeks.
Kendati demikian, kata Henan, perubahan ini tidak terjadi dalam satu tahap, melainkan melalui tiga fase utama yang memiliki implikasi berbeda terhadap arus dana di pasar. Pada 12 Mei 2026, MSCI akan mengumumkan daftar final dan mengeksekusi penghapusan saham HSC.
Selanjutnya, pada periode 12 hingga 31 Mei, pasar akan memasuki fase forced selling window di mana ETF mulai melakukan penyesuaian portofolio. Puncaknya terjadi pada 1 Juni 2026, ketika bobot baru indeks berlaku efektif dan ETF global diwajibkan menyesuaikan portofolio secara penuh.
Dalam fase terakhir inilah potensi arus beli muncul. Henan menilai sebagian saham Indonesia saat ini berada dalam posisi underweight pada beberapa ETF global, sehingga berpotensi mengalami pembelian paksa (forced buying) saat penyesuaian akhir dilakukan.
“ETF pasif yang bersangkutan akan terikat secara metodologis untuk melakukan rebalancing ke target weight yang baru. Ini mengindikasikan arus beli pasif pada saham-saham yang masih berada pada posisi underweight,” tulis laporan tersebut.
Perbedaan strategi antar-ETF juga memperkuat potensi pergerakan dua arah tersebut. Sebagian ETF melakukan pengurangan merata terhadap seluruh saham Indonesia, sementara yang lain justru menambah eksposur secara selektif.
Bahkan, terdapat ETF yang sengaja mengecualikan sejumlah saham dari penambahan kepemilikan, menciptakan kondisi underweight yang berpotensi dikoreksi pada saat rebalancing.
Berikut gambaran sederhana pola rotasi ETF pasif yang diamati Henan:
ETF Pola Umum terhadap Saham Indonesia Implikasi Utama ACWI Sebelas saham mendapat share creation +4,7% sampai dengan +5,4%; enam saham dikecualikan pada 0 persen (AMMN, BRPT, UNTR, GOTO, CPIN, AMRT). Menciptakan kondisi underweight → potensi forced buying saat rebalancing. EEM Menjual seluruh saham Indonesia. Tekanan jual berbasis negara (country-level outflow), bukan saham. XMEE Menambah seluruh saham secara proporsional. Dampak netral, mengikuti bobot. AEME Menambah saham tertentu saja. Sinyal selektif, bisa mendorong saham tertentu. HMEM Mengurangi sekitar setengah di sembilan saham. Pengurangan per saham, bukan keluar total dari Indonesia. EMMUSA Penambahan selektif di empat saham dengan likuiditas teratas. Potensi dorongan beli terbatas pada saham pilihan, menunjukan sinyal keyakinan paling kuat. LEMA Menambah semua saham sekitar +0,4%. Membeli semua saham secara merata, sehingga pergerakannya stabil dan mudah diprediksi.
Dalam konteks ini, menurut Henan, dua saham yang menjadi sorotan adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Keduanya tidak termasuk dalam daftar HSC dan memiliki kapitalisasi free float di atas ambang batas MSCI. Namun, keduanya teridentifikasi berada dalam posisi underweight pada salah satu ETF global terbesar, sehingga berpotensi mengalami arus beli saat penyesuaian akhir dilakukan.
Laporan Henan juga menyebutkan penghapusan saham akibat status HSC tidak berkaitan dengan kualitas fundamental perusahaan. “Penghapusan saham dari indeks MSCI karena status HSC tidak memberikan penilaian terhadap kualitas bisnis, arus kas, prospek operasional, maupun struktur tata kelola emiten,” kata analis Henan dalam riset tersebut.
Dengan begitu, pergerakan harga saham dalam periode ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknis dan mekanisme indeks dibandingkan kondisi fundamental emiten. Henan menilai bahwa fokus berlebihan pada potensi outflow justru berisiko mengabaikan peluang yang muncul dari mekanisme rebalancing.
Sebagai penutup, laporan tersebut menyimpulkan bahwa dinamika MSCI kali ini bersifat dua arah. “ETF yang berada dalam posisi underweight struktural terhadap target weight MSCI yang baru memiliki kewajiban untuk melakukan koreksi posisi, yang secara mekanis mengindikasikan arus beli pasif,” tulis Henan.
Kendati demikian, seluruh analisis ini tetap bergantung pada sejumlah faktor yang belum pasti, termasuk keputusan final MSCI pada 12 Mei serta kondisi pasar global. Oleh karenanya, investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.