Trump isyaratkan AS akan buka paksa Selat Hormuz, bakal libatkan NATO?

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyebut pihaknya akan segera membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini terblokade akibat konflik dengan Iran. Namun, dia mengakui langkah tersebut tidak akan berjalan mulus.

“Ini tidak akan mudah. Tapi saya katakan bahwa kami akan membuatnya (Selat Hormuz) terbuka kembali dalam waktu yang tidak lama lagi,” kata Trump kepada wartawan pada Jumat (10/4) waktu AS, dikutip Reuters.

Trump tidak menjelaskan secara terperinci langkah yang akan ditempuh Washington untuk mewujudkan rencana tersebut. Dia hanya mengisyaratkan bahwa sejumlah negara lain siap membantu membuka jalur pelayaran strategis tersebut. 

Ia menilai banyak negara berkepentingan terhadap keamanan Selat Hormuz karena jalur tersebut menjadi rute utama perdagangan energi global. “Negara-negara lain juga menggunakan selat itu. Jadi kami memiliki beberapa negara yang akan datang membantu,” ujarnya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sekitar 20% pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Sejak pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari, Teheran memblokade jalur tersebut. Penutupan ini memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Trump sebelumnya juga menyatakan kekecewaannya terhadap sekutu-sekutu AS di Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dia menilai NATO belum memberikan dukungan memadai untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut.

Menurut laporan Reuters, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, setelah bertemu Trump, telah memberi tahu pemerintah negara-negara Eropa bahwa presiden AS itu menginginkan komitmen konkret dalam beberapa hari ke depan untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.

Konflik ini bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.

Serangkaian serangan tersebut, termasuk serangan Israel terhadap Lebanon, dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.

Perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah ini juga mengguncang pasar keuangan global. Trump pada Selasa (7/4) lalu mengumumkan adanya gencatan senjata dengan Teheran, setelah sebelumnya sempat mengancam akan menghancurkan “peradaban Iran sepenuhnya”.

Walaupun demikian, hingga kini lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih terhenti di tengah kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut.