
Ussindonesia.co.id HOUSTON. Harga minyak dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin (26/1/2026), setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 2%.
Pelemahan terjadi seiring pelaku pasar menilai dampak badai musim dingin terhadap produksi minyak di Amerika Serikat, sekaligus mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Minyak mentah Brent ditutup turun 29 sen atau 0,4% ke level US$ 65,59 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 44 sen atau 0,7% ke US$60,63 per barel.
Meski terkoreksi, kedua patokan harga tersebut masih mencatat kenaikan mingguan sekitar 2,7% dan ditutup pada level tertinggi sejak 14 Januari pada akhir pekan lalu.
Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Menanti Dampak Tarif AS Terhadap India
Badai musim dingin yang melanda AS akhir pekan kemarin sempat mengganggu produksi minyak secara signifikan. Analis dan pelaku pasar memperkirakan produsen minyak AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari, setara sekitar 15% dari total produksi nasional.
Gangguan produksi diperkirakan mencapai puncaknya pada Sabtu, dengan Cekungan Permian menjadi wilayah terdampak paling besar, kehilangan sekitar 1,5 juta barel per hari.
Namun, kondisi mulai membaik pada Senin. Produksi yang dihentikan di Permian diperkirakan menyusut menjadi sekitar 700.000 barel per hari dan diproyeksikan pulih sepenuhnya pada 30 Januari.
Di sektor gas, tercatat sekitar dua lusin gangguan di fasilitas pengolahan gas dan stasiun kompresor di Texas. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan lebih dari 200 gangguan yang terjadi saat badai ekstrem pada 2021.
Harga Minyak Turun Tipis, Investor Menanti Laporan Pasokan Minyak
Dari sisi pasokan global, Kazakhstan bersiap melanjutkan produksi di ladang minyak terbesarnya. Meski demikian, sumber industri menyebut volume produksi masih rendah dan status force majeure untuk ekspor CPC Blend masih berlaku.
Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) menyatakan terminal Laut Hitam mereka telah kembali beroperasi penuh setelah pemeliharaan di salah satu titik sandar selesai.
Pelaku pasar juga tetap waspada terhadap risiko geopolitik. Ketegangan AS-Iran kembali menekan sentimen setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya memiliki “armada” yang bergerak menuju Iran, meski berharap tidak perlu digunakan.
Peringatan tersebut direspons keras oleh pejabat senior Iran yang menyebut setiap serangan akan dianggap sebagai perang total.
Menurut Dennis Kissler, Senior Vice President Trading di BOK Financial, harga minyak masih bergerak dalam fase menunggu kejelasan arah kebijakan AS terhadap Iran.
Harga Minyak Turun, Investor Menimbang Data Ekonomi AS dan Ketegangan Geopolitik
Selain itu, perkembangan pembicaraan damai Ukraina-Rusia-AS serta sikap OPEC yang cenderung mempertahankan kebijakan produksi saat ini juga menjadi faktor penekan harga.
OPEC+ diperkirakan akan melanjutkan penundaan kenaikan produksi untuk Maret dalam pertemuan mendatang, menurut sejumlah delegasi OPEC+.
Di sisi lain, Rystad Energy memperingatkan produksi shale oil AS berpotensi turun hingga 400.000 barel per hari pada 2026 jika negara-negara OPEC meningkatkan pangsa pasar dan harga minyak jatuh ke kisaran US$ 40 per barel.