
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) melaporkan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) per 17 Desember 2025.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/1/2026), SUPA diketahui meraup dana IPO sebesar Rp 2,79 triliun. Setelah dikurangi biaya penawaran umum senilai Rp 67,43 miliar, perseroan membukukan hasil realisasi bersih Rp 2,73 triliun.
Dari jumlah tersebut, hingga akhir Desember 2025, perseroan telah merealisasikan penggunaan dana sebesar Rp 1,29 triliun, seluruhnya dialokasikan untuk modal kerja dalam rangka penyaluran kredit perseroan. Nilai ini setara dengan sekitar 47,24% dari total dana bersih IPO.
Akulaku Finance Beberkan Tantangan yang Dapat Pengaruhi Kinerja Paylater pada 2026
Sementara itu, sisa dana IPO sebesar Rp 1,44 triliun belum digunakan.
Head of Legal and Corporate Secretary SUPA mengatakan, bank menempatkan sisa dana tersebut pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) Deposit Facility (DF) dengan tingkat bunga 3,75% dan tenor overnight. Penempatan dana ini dilakukan pada pihak ketiga.
Adapun dalam rencana awal penggunaan dana IPO, perseroan menargetkan 70% dana dialokasikan untuk modal kerja penyaluran kredit dan 30% untuk belanja modal. Namun hingga periode pelaporan, belum terdapat realisasi penggunaan dana untuk belanja modal.
Untuk diketahui, komponen terbesar biaya penawaran umum berasal dari biaya jasa penyelenggaraan (management fee) sebesar Rp 27,98 miliar atau sekitar 1% dari total dana IPO.
Kemudian, disusul biaya lain-lain yang dapat diatribusikan langsung sebagai biaya emisi senilai Rp 24,79 miliar atau 0,89%.
SUPA Chart by TradingView
Biaya lain yang tercatat meliputi biaya penjaminan emisi dan penjualan masing-masing sebesar Rp 2,24 miliar, serta biaya jasa profesi penunjang pasar modal sebesar Rp 10,08 miliar.