Lonjakan 551 Persen Transaksi Token Saham Teknologi Ungkap Perubahan Perilaku Investor Kripto RI

Ussindonesia.co.id – Aktivitas perdagangan aset kripto bertema tokenized stocks atau saham yang ditokenisasi melonjak tajam di Indonesia, mengindikasikan perubahan preferensi investor ritel terhadap instrumen yang memberi akses ke pasar saham global melalui blockchain. 

Lonjakan ini tampak dari data transaksi pada beberapa token berbasis saham teknologi Amerika Serikat yang meningkat hingga 551 persen secara mingguan pada November 2025.

Kenaikan tersebut terekam melalui aktivitas pengguna pada salah satu platform aset kripto berizin di Indonesia, Pintu. Meski menjadi bagian dari rangkaian kegiatan internal perusahaan, data tersebut merefleksikan tren pasar yang lebih luas: semakin banyak investor lokal melirik aset kripto yang merepresentasikan saham global seperti Tesla, Apple, dan Nvidia.

Menurut Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, tiga token yang mencatat lonjakan tertinggi adalah TSLAX, CRCLX, dan NVDAX, yang semuanya mencerminkan saham emiten teknologi dengan kapitalisasi raksasa.

“Volatilitas pasar global beberapa bulan terakhir membuat investor mencari instrumen alternatif yang tetap memberi eksposur ke saham luar negeri tanpa batasan jam bursa. Tokenisasi saham menjadi salah satu pilihan yang paling banyak dicoba,” ujar Iskandar melalui keterangannya.

Tokenisasi Saham Naik Daun, Pasar Masih Kecil tapi Bertumbuh Cepat

Tokenized stocks merupakan bagian dari kategori real-world asset (RWA), model yang mengubah aset dunia nyata menjadi representasi digital di blockchain. Tren ini sedang berkembang pesat di sejumlah pasar Asia dan Eropa, seiring meningkatnya eksperimen institusi keuangan dalam integrasi aset digital.

Laporan InvestaX mencatat kapitalisasi pasar tokenisasi saham mencapai US$424 juta (Rp 7,1 triliun) per Juni 2025. Meski angkanya kecil dibanding pasar saham global yang bernilai USD 134 triliun, pertumbuhannya diperkirakan akan sangat agresif. 

Platform riset Rwa.xyz sendiri memproyeksikan nilainya dapat menembus USD 1,3 triliun pada 2030, naik lebih dari 2.600 kali lipat. Analis menilai daya tarik utama tokenisasi terletak pada beberapa hal.

Misalnya adalah akses 24 jam, berbeda dari jam bursa tradisional, kepemilikan fraksional, memungkinkan investor membeli sebagian kecil aset mahal, likuiditas lintas blockchain, serta kemudahan integrasi dengan ekosistem DeFi.

Namun, mereka juga mengingatkan risiko terkait perbedaan mekanisme harga, regulasi lintas yurisdiksi, serta likuiditas yang tak selalu sebanding dengan saham aslinya.

Sementara data token yang paling banyak diperdagangkan menunjukkan kecenderungan investor Indonesia untuk mengejar kinerja perusahaan teknologi besar Amerika Serikat, sektor yang tetap populer di kalangan investor muda dan ritel.

Meski pasar kripto sempat volatil selama kuartal IV 2025, token berbasis saham teknologi tetap menarik karena dianggap memberi eksposur mirip saham dengan fleksibilitas aset digital. 

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa investor tidak hanya bertransaksi pada koin utama seperti Bitcoin dan Ethereum, tetapi mulai mengekspansi portofolio mereka ke produk kripto berbasis aset tradisional.

Sebagai informasi juga, Indonesia sendiri masih berada dalam masa transisi pengawasan aset kripto dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga regulasi produk-produk baru seperti RWA dan tokenisasi masih akan terus berkembang.