Jakarta, IDN Times – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan cenderung menguat ke depan. Penguatan ini didorong oleh laju inflasi yang rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang masih positif.
“(Pelemahan) nilai tukar ini disebabkan oleh faktor-faktor yang bisa kita sebut teknikal, yang lebih berkaitan dengan jangka pendek. Secara fundamental, nilai tukar rupiah akan menguat,” kata Perry dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan rupiah ditutup menguat pada level Rp16.768 per dolar AS. Rupiah tercatat menguat 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
1. Rupiah akhir 2025 melemah dibanding akhir 2024
Berdasarkan data yang dipaparkannya, nilai tukar rupiah pada 31 Desember 2025 tercatat Rp16.675 per dolar AS, melemah 3,48 persen (point-to-point) dibandingkan dengan akhir 2024.
Selanjutnya, hingga 23 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp16.815 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 0,83 persen dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2025.
2. Pelemahan rupiah disebabkan gejolak global
Menurut Perry, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
“Selain itu, peningkatan permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik yang sejalan dengan aktivitas ekonomi juga turut memengaruhi kinerja rupiah,” ujar Perry.
Ke depan, BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk melalui intervensi terukur di pasar transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market.
3. Purbaya yakin BI bisa kendalikan rupiah terus menguat
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa meyakini BI mampu mengendalikan tingkat nilai tukar rupiah pada 2026. Bila mengacu data terkini, rupiah sudah berhasil menguat, setelah setelah sempat hampir menyentuh Rp17.000, dengan level Rp16.945 per dolar AS pada Selasa (20/1).
“Saya pikir mereka cukup ahli, dan saya akan serahkan ini ke bank sentral. Mereka cukup jago mengendalikan nilai tukar rupiah,” kata Purbaya.
Meski mengandalkan bank sentral, Purbaya menyatakan akan terus berkoordinasi secara aktif dengan otoritas moneter dalam upaya menjaga nilai tukar rupiah.
“Bank sentral akan menjaga nilai tukar rupiah, dan kami akan terus berkoordinasi dengan mereka. Saya yakinkan, Pak Gubernur tadi bilang rupiah akan menguat terus. Saya ikut saja,” ucapnya.
Purbaya Sebut Penguatan Rupiah Tak Hanya Berkat Thomas Jadi Deputi BI Rupiah Menguat Tipis, Pasar Masih Waspadai Drama Politik AS