
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham memang menawarkan potensi kenaikan nilai investasi yang signifikan. Terutama ketika investor mampu masuk pada saat valuasi menarik dan keluar ketika tren pasar mulai melemah.
Dalam jangka panjang, saham secara historis mampu memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan instrumen lainnya.
Nah, investor dengan profil risiko agresif umumnya menempatkan sebagian besar portofolionya di instrumen berisiko tinggi, termasuk saham. Ini ditujukan untuk memperoleh pertumbuhan aset yang lebih cepat dibandingkan instrumen investasi konservatif.
Pendekatan tersebut juga diterapkan CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Setya Ananda Wijaya Laksana. Ia mengakui memiliki profil investor yang cenderung agresif dalam mengelola portofolio investasinya.
Prospek Investasi Tahun Kuda Api 2026, Cermati Diversifikasi Portofolio!
Bernadus mengatakan karakter tersebut tidak terlepas dari profesinya saat ini yang membuatnya memiliki akses luas terhadap dinamika dan informasi pasar saham. Paparan terhadap pergerakan pasar tersebut membantunya memahami perubahan tren investasi saham.
“Saya tahu bagaimana pasar bergerak dan bisa ditelaah secara seksama melalui pengalaman. Itu menjadi pegangan saya dalam berinvestasi,” kata Bernadus kepada Kontan, Rabu (11/2/2026) lalu.
Pernah Cuan dan Rugi Saat Covid-19
Salah satu momen paling berkesan baginya terjadi saat pandemi Covid-19. Ketika pasar saham anjlok, ia mengalokasikan dana tunai untuk membeli saham-saham unggulan yang kemudian mengalami pemulihan tajam. Keuntungan investasi pada periode itu membantunya membeli sejumlah aset mulai dari apartemen dan kendaraan pribadi.
“Waktu itu zaman Covid-19, Indeks Harga Saham Gabungan sempat hancur gila-gilaan. Disitu Puji Tuhan saya punya cash dan dapat bonus kerja, saya masukin ke saham. Disitu bisa bagger bahkan di saham perbankan. Lalu ketika tahun 2021-2022 saya cash out sebagian saya belikan properti dan mobil,” kenangnya.
Secara keseluruhan, hasil investasi saham yang dikumpulkannya selama ini turut berkontribusi dalam penambahan berbagai aset pribadi, termasuk rumah tinggalnya yang berada di kawasan Jakarta Selatan.
Asing Net Sell Rp 2,50 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dilepas Sepekan Terakhir
Namun, perjalanan investasinya tidak selalu berjalan mulus saat momen pandemi lalu. Ia mengaku pernah mengalami kerugian cukup besar, terutama akibat terlambat keluar dari saham-saham bank digital yang sebelumnya sempat melonjak, namun kemudian mengalami koreksi tajam.
Pengalaman serupa juga terjadi saat pasar saham mengalami tekanan pada awal tahun ini. Meski telah merealisasikan sebagian keuntungan sebelumnya, masih ada sejumlah posisi saham yang belum sempat dilepas sehingga ikut terdampak penurunan pasar dan menimbulkan kerugian yang cukup besar secara persentase.
Disiplin Ikuti Arah Pasar
Dari pengalaman tersebut, ia menekankan pentingnya disiplin mengikuti arah pasar. Menurutnya, ketika pasar menilai suatu sektor sudah tidak lagi menarik, maka investor sebaiknya segera melakukan penyesuaian portofolio dan tidak memaksakan diri bertahan melawan tren pasar.
Bernadus juga bilang pengalaman selama gejolak pasar, termasuk saat pandemi dan berbagai koreksi besar pasar saham menjadi pelajaran penting baginya bahwa fleksibilitas dan disiplin jauh lebih penting daripada sekadar mengejar keuntungan cepat.
“Disini yang paling penting adalah kita jangan melawan market. Kalau market berkata sektor ini sudah engga bagus lagi ya kita harus keluar,” ucapnya.
Tahun Kuda Api 2026: Sektor Saham Logam, Api, dan Kayu Diproyeksi Prospektif
Saat ini, mayoritas portofolio investasinya berada di saham sekitar 65%. Sementara sisanya 35% ditempatkan di instrumen cash asset seperti reksadana pasar uang, current account dan saving account.
Bernadus menegaskan strategi alokasi aset tersebut bukanlah keputusan yang statis, melainkan sangat bergantung pada kondisi pasar. Ketika pasar berada dalam tren melemah atau bergerak sideways, porsi saham biasanya dikurangi guna melindungi modal.
Sebaliknya, saat pasar mulai menunjukkan pemulihan, eksposur ke saham kembali ditingkatkan untuk menangkap potensi kenaikan harga.
Diversifikasi
Bernadus juga tetap menerapkan diversifikasi strategi di dalam portofolionya, meski agresif di pasar saham. Sebagian saham disimpan untuk tujuan income investing, yakni saham perusahaan dengan kinerja laba stabil dan rutin membagikan dividen, sehingga memberikan arus kas tambahan setiap tahun.
“Kalau untuk strategi income investing saya mencari perusahaan dengan earning per share yang terus tumbuh dari waktu ke waktu dan rutin membagikan dividen. Contohnya saham-saham perbankan di Badan Usaha Milik Negara seperti Bank BRI, BNI, Mandiri dan lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, sebagian portofolio lain digunakan untuk strategi trading momentum atau swing trading, dengan memanfaatkan saham-saham yang memiliki volatilitas tinggi guna mengejar potensi keuntungan jangka pendek hingga menengah.
Jelang Imlek 2026: Sektor Logam, Energi, AI hingga CPO Diramal Cuan di Tahun Kuda Api
Dalam perjalanan investasinya, Bernadus menilai pasar saham memberikan peluang pertumbuhan nilai aset yang jauh lebih besar dibandingkan instrumen investasi lain, selama investor mampu memahami siklus pasar dan mengelola risiko dengan baik.
Namun, ia menekankan bahwa strategi agresif tersebut tidak cocok untuk semua investor. Setiap individu perlu memahami profil risiko masing-masing sebelum menentukan alokasi investasi.
“Tiap orang punya risiko profile masing-masing,” tambahnya.