Saham energi IDX Energy melambung sendiri saat IHSG lumpuh imbas perang Timur Tengah

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Lonjakan harga saham emiten minyak dan gas (migas) mendorong indeks IDXENERGY, menjadi satu-satunya indeks saham sektoral yang menguat ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini, Senin (2/3/2026) ditutup koreksi.

Berdasarkan data Bloomberg, saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) naik 5,79% ke Rp1.370, saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 25% ke Rp2.200, sampai saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang ditutup menguat 15,65% ke Rp1.995.

Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan harga saham emiten migas saat ini berpeluang menuju ke range baru jika harga minyak bertahan di harga tingginya.

“Tetapi investor tetap perlu mencermati sensitivitas laba terhadap harga minyak, volume produksi, struktur biaya, serta kebijakan energi domestik karena normalisasi minyak berisiko memicu mean reversion valuasi,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).

: Seberapa Lama Sentimen Harga Minyak Mampu Panaskan Saham Migas MEDC, ENRG, Cs?

Sukarno melihat reli saham migas berpotensi berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah selama eskalasi konflik menjaga harga minyak di level tinggi. Namun, sifatnya cenderung taktikal karena kenaikan didorong risk premium sehingga peluang profit taking tetap besar.

Untuk rekomendasi, Sukarno menyarankan agar investor fokus pada strategi trading momentum dengan disiplin risk management. Saham-saham emiten migas seperti ENRG dan MEDC masuk dalam rekomendasi Kiwoom Sekuritas.

“Saham yang menarik dicermati adalah ENRG dengan trading buy target harga Rp2.300 dan MEDC dengan target harga Rp2.070. Entry saat momentum kuat, gunakan trailing stop, dengan horizon hold sekitar 1 sampai 2 bulan selama belum ada sinyal reversal teknikal,” tandasnya.

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti memprediksi harga minyak global bisa melambung sampai 100% dari level dasarnya, jika eskalasi perang AS-Iran tak mereda. Pada penutupan Jumat (27/2), minyak WTI berada di level US$67,02 per barel dan Brent di US$72,8 per barel. 

“Nah ini skenarionya, jadi kemungkinan akan semakin tinggi di atas 100% dari baselines berarti harga minyak sekitar US$140 yaitu pada 7 Maret 2026,” ujarnya.

Sementara pada skenario moderat, kenaikan sebesar 25% diprediksi membuat harga minyak dunia akan mendekat US$87,50 per barel. Bahkan, sebelum ada di level tersebut menurutnya harga minyak akan sangat mungkin menguat di kisaran US$70 sampai US$80 per barel dalam jangka pendek. Yayan juga bilang, kenaikan harga minyak global juga dapat membuat harga BBM di Tanah Air ikut melonjak. 

“Kemungkinan harga BBM akan naik sekitar 5% hingga 10% dalam minggu depan, jika eskalasinya berlanjut,” kata Yayan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.