
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,22% atau 38 poin ke Rp17.181 per dolar AS pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,11% ke 98,28.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa rupiah di pasar keuangan dihadapkan dengan beragam sentimen, mulai dari konflik geopolitik global hingga likuiditas utang pemerintah. Diperkirakan rupiah pada perdagangan berikutnya melemah kembali.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.180 sampai Rp17.220 per dolar AS,” kata Ibrahim, Rabu (22/4/2026).
: Breaking! BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75% dalam RDG April 2026
Dari sisi global, sentimen datang dari Presiden AS Donald Trump yang mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, untuk memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang. Namun di sisi lain, Trump juga mengatakan Angkatan Laut AS akan mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang. Kondisi ketidakpastian global akan tetap menyertai gerak rupiah di pasar.
Saat ini, fiskal negara juga berisiko tertekan oleh tren kenaikan harga minyak global. Ibrahim menjelaskan bahwa lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur 20% pasokan minyak dan gas alam cair global sebagian besar terhenti pada hari Selasa (21/4).
: : BI Tetap Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 4,9%-5,7%, Global Melambat ke 3%
Inflasi energi global juga akan memengaruhi kebijakan bank sentral AS. Kandidat Ketua The Fed pilihan Trump, Kevin Warsh menekankan independensi Fed dari politik, tetapi juga mengisyaratkan perombakan kebijakan besar di bank sentral jika dikonfirmasi sebagai ketuanya.
Sementara di dalam negeri, pemerintah sedang menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2026 seiring jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun, level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
: : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 22 April 2026
“Lonjakan kewajiban ini menandai fase krusial dalam pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Ibrahim.
Nilai jatuh tempo 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sebesar Rp800,33 triliun, dan menjadi puncak dalam siklus pembayaran utang periode 2025–2036. Ibrahim bilang, tekanan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Besarnya kewajiban tersebut merupakan akumulasi penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia selama pandemi COVID-19.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75%. Sejalan dengan itu, bank sentral juga tetap mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 3,75% dan suku bunga Lending Facility 5,5%.
“Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah,” tandasnya.