Pilah-pilih saham cuan tahan boncos saat defisit APBN membengkak

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Defisit APBN sepanjang 2025 sebesar 2,92% terhadap PDB membawa sentimen yang dapat mendorong maupun membebani pergerakan sejumlah saham. 

Adapun, defisit APBN tahun lalu menjadi desifit terbesar dalam dua dekade terakhir, tanpa menghitung masa pandemi covid-19 2020 dan 2021. Kondisi ini menekan rupiah, membuatnya berada pada level terendah sejak April 2025 usai terdepresiasi dalam tujuh hari perdagangan beruntun.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menilai di tengah situasi makro ekonomi ini, ada sejumlah saham yang terdampak negatif, dan ada juga yang justru mendapat katalis positif.

Untuk yang terdampak negatif, David melihat ada saham-saham dari sektor konstruksi dan infrastruktur. Pada perdagangan terakhir, Jumat (9/1/2026), indeks saham infrastruktur mengalami koreksi paling tajam, sebesar 1,08% ke 2.745,44.

“Biasanya ini menjadi sektor pertama yang mengalami efisiensi anggaran jika belanja negara dialihkan ke subsidi atau bantuan sosial,” ujar David kepada Bisnis, Senin (12/1/2026).

: Rapor APBN 2025: Rasio Pajak Jeblok, Rasio Utang Tembus 41%, Tahun Ini Tambal Sulam

Kedua adalah saham sektor properti. Menurutnya, sektor ini sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga jika pemerintah terus memacu penerbitan utang yang menaikkan yield obligasi. Pada perdagangan Jumat kemarin, indeks saham sektor properti dan real estate masih menguat 2,39% ke 1.246,85.

Berikutnya, sektor yang terdampak negatif adalah saham-saham emiten semen dan material. Menurutnya segmen ini dapat terimbas langsung dari melambatnya proyek-proyek infrastruktur yang menjadi proyek strategis nasional (PSN).

Di sisi lain, sejumlah sektor menurut David justru mendapat momentum positif seperti sektor consumer staples. Menurutnya, defisit yang lebar biasanya disebabkan oleh peningkatan belanja bantuan sosial (Bansos) dan program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menguntungkan emiten makanan atau minuman.

Kedua adalah sektor komoditas dan logam. David melihat defisit APBN 2025 menunjukkan sinyal bahwa pemerintah agresif melakukan pembelanjaan untuk program prioritas seperti hilirisasi, sehingga saham-saham emiten nikel, tembaga dan emas tetap menarik.

“Ketiga adalah perbankan big caps. Meskipun berisiko dari sisi biaya dana, bank-bank besar tetap menjadi target utama safe haven bagi investor asing karena profitabilitasnya yang tangguh,” tandasnya.

Dalam kondisi volatilitas pasar seperti saat ini ini, David menyarankan agar investor melakukan strategi defensive with growth dan fokus pada emiten yang memiliki arus kas kuat dan tidak terlalu bergantung pada proyek pemerintah.

Pertama, investor dapat diversifikasi ke saham-saham sektor Konsumsi dengan memanfaatkan momentum peningkatan daya beli dari stimulus pemerintah. Kedua, investor dapat memantau imbal hasil obligasi.

Jika yield SBN 10 tahun naik tajam, dia menyaranan agar mengurangi eksposure di sektor properti dan bank kecil. Terakhir, David menyarankan investor melakukan buy on weakness dan memanfaatkan penurunan harga pada saham blue-chip yang memiliki fundamental kuat namun terkena sentimen jangka pendek.

Sementara untuk saham-saham pilihan IPOT Sekuritas, David merekomendasikan saham ANTM dan MDKA untuk mengambil momentum pasar saat ini. Sementara untuk core holdings atau dalam jangka lebih panjang, David menyarankan BBRI dan BBCA.

“Meski asing mengecilkan net buy, saham ini [BBRI dan BBCA] tetap menjadi motor utama IHSG menuju level 9.000,” pungkasnya.

: Fluktuasi Tinggi IHSG Ambles 2% Saat Perdagangan Intraday, Apa Penyebabnya?

Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan bahwa di situasi pasar saat ini investor disarankan agar tetap fokus pada saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi. Di saat banyak terjadi noise di bursa, menurutnya strategi akumulasi bertahap adalah yang paling cocok, sambil mencermati perkembangan perekonomian ke depan.

Senada, Reydi juga menyebut sektor yang relatif sensitif atas sentimen defisit APBN melebar adalah saham-saham emiten yang bergantung pada belanja pemerintah seperti konstruksi dan infrastruktur. Sentimen negatif itu bisa makin besar jika muncul kekhawatiran terjadinya inefesiensi anggaran ke depan. 

“Untuk sektor yang bertahan, bisa dari perbankan besar karena likuiditasnya stabil. Sektor omoditas juga resilien karena pergerakannya cenderung dipengaruhi oleh faktor global ketimbang fiskal domestik secara langsung,” ujar Reydi.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.