
Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa negaranya perlu mengakuisisi Greenland karena alasan keamanan nasional. Dia bahkan tidak menutup kemungkinan akan menggunakan kekuatan militer.
Trump mengatakan ia berencana untuk mengambil kendali pulau itu “dengan cara mudah” atau “dengan cara sulit”. Pada masa kepemimpinan pertamanya sebagai Presiden AS di 2019, Trump telah menawarkan untuk membeli wilayah yang dataran salju tersebut.
Tuntutannya telah ditolak oleh para pemimpin Greenland dan oleh Denmark, anggota NATO yang menjadikan pulau itu sebagai wilayah semi-otonom.
Di Mana Greenland Berada?
Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang terletak di Arktik. Dengan luas sekitar 2,2 juta km persegi ukurannya kira-kira enam kali lipat luas Jerman.
Greenland juga merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah di dunia, dengan populasi sekitar 56.000 orang. Sebagian besar warga wilayah ini adalah penduduk asli Inuit.
Lokasinya di antara Amerika Utara dan Arktik yang menjadikannya lokasi strategis untuk sistem peringatan dini jika terjadi serangan rudal, dan untuk memantau kapal-kapal di wilayah tersebut. Pada puncak Perang Dingin, AS memiliki rencana untuk menempatkan rudal nuklir di pulau itu tetapi membatalkan proyek tersebut karena masalah teknik dan keberatan dari Denmark.
Amerika Serikat telah mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule, sejak Perang Dunia Kedua. Saat ini, pangkalan tersebut memantau keberadaan rudal.
Peta menunjukkan lokasi Greenland dan ibu kotanya Nuuk, relatif terhadap Denmark, Kanada, dan Amerika Serikat. Sekitar 80% wilayah Greenland tertutup es, yang berarti sebagian besar penduduk tinggal di pantai barat daya di sekitar ibu kota, Nuuk.
Mengapa Trump Inginkan Greenland?
Ekonomi Greenland sebagian besar berbasis pada perikanan, dan menerima subsidi besar dari pemerintah Denmark.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap sumber daya alam Greenland, termasuk mineral langka, uranium, dan besi, telah meningkat. Pulau ini juga berpotensi memiliki cadangan minyak dan gas yang signifikan. Sumber daya ini mungkin menjadi lebih mudah diakses karena pemanasan global menyebabkan pencairan lapisan es yang menutupi pulau tersebut.
Sumber daya mineral yang berharga telah menjadi fokus utama Trump di tempat lain, termasuk dalam hubungannya dengan Ukraina. Namun, presiden AS itu mengatakan bahwa dirinya membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional, bukan mineral.
Lebih dari sekali, ia menggambarkan ancaman yang ia rasakan dari kekuatan saingan. “Jika kita tidak mengambil Greenland, Rusia atau China akan mengambil Greenland,” ujarnya.
Bagaimana Donald Trump Bisa Mengambil Greenland?
Trump meningkatkan seruan untuk mengambil alih Greenland setelah serangan militer AS baru-baru ini di Venezuela, di mana presidennya Nicolás Maduro dan istrinya ditangkap dan dibawa ke New York.
Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen menanggapi dengan mengatakan “itu sudah cukup sekarang”, menggambarkan gagasan kendali AS sebagai “fantasi”.
Tetapi Trump dan sekutunya terus mengulangi ancaman mereka. Gedung Putih mengatakan sejumlah opsi sedang dibahas, termasuk memanfaatkan militer AS.
Salah satu ajudan utamanya, Stephen Miller, mengatakan “tidak ada yang akan melawan AS atas masa depan Greenland”. Menteri Luar Negeri Marco Rubio dilaporkan mengatakan kepada anggota parlemen bahwa rencana Amerika adalah membeli daripada menginvasi pulau tersebut.
Seorang juru bicara departemen luar negeri Rubio menambahkan bahwa penekanannya adalah pada membangun “hubungan komersial yang langgeng”, dan menekankan bahwa AS memiliki “musuh bersama” dengan Denmark dan anggota aliansi militer NATO lainnya.
Trump sebelumnya mengajukan tawaran untuk membeli pulau itu pada tahun 2019, selama masa jabatan presiden pertamanya, tetapi diberitahu bahwa pulau itu tidak dijual. Ia kembali membangkitkan minatnya tak lama setelah kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025.
Wakil Presiden JD Vance mengunjungi Greenland pada Maret tahun itu, dan menyampaikan pidato yang menuduh Denmark gagal berinvestasi cukup untuk melindungi wilayah tersebut.
Pada akhir tahun 2025, Trump menunjuk utusan khusus untuk Greenland, Jeff Landry, yang secara terbuka berbicara tentang menjadikan pulau itu bagian dari AS.
Apa Tanggapan Denmark dan Sekutu NATO Lainnya?
Greenland tidak memiliki militer independen sendiri dan bukan anggota NATO, tetapi merupakan bagian dari aliansi melalui Denmark. Sikap Trump tentang masa depan pulau itu telah mengejutkan Kopenhagen, yang secara tradisional menikmati hubungan dekat dengan Washington.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mengambil alih Greenland akan mengakhiri NATO.
Ia dan rekannya dari Inggris, Sir Keir Starmer, menandatangani pernyataan bersama para pemimpin negara anggota NATO lainnya, yaitu Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Spanyol. Pernyataan itu berbunyi: “Greenland adalah milik rakyatnya, dan hanya Denmark dan Greenland yang dapat memutuskan hal-hal yang menyangkut hubungan mereka.”