
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Harga perak kembali menguat setelah sempat terkoreksi di awal Februari 2026.
Melansir Trading Economics pada Minggu (22/2/2026) pukul 10.40 WIB, harga logam mulia ini tercatat menyentuh level US$ 82,3 per ons troi atau naik 15,55% Ytd. Harga perak bangkit setelah anjlok ke posisi US$ 67,2 per ons troi pada 6 Februari 2026.
Padahal, pada akhir bulan Januari 2026 perak sempat menyentuh all time high di level US$ 116,6 per ons troi.
Kondisi ini menegaskan logam putih ini masih memiliki momentum positif.
Harga Perak Kembali Bullish, Ada Potensi Menguat hingga Semester I 2026
Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai penguatan harga perak saat ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan fase lanjutan dari dinamika pasar yang lebih besar.
“Kenaikan ini mencerminkan adanya pergantian gigi di pasar setelah fase koreksi yang sehat,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Menurut Wahyu, koreksi harga perak sebelumnya lebih disebabkan aksi distribusi dan profit taking untuk mendinginkan indikator teknikal yang sempat berada di area overbought. Karena itu, tekanan turun tidak berlangsung lama.
Selain faktor teknikal, sentimen de-dolarisasi juga menjadi penopang penting harga perak.
Ia menyoroti pembelian agresif oleh bank sentral, terutama dari China dan kawasan Timur Tengah, serta langkah negara-negara BRICS yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Faktor ini menjadi fondasi kuat yang menjaga harga perak tidak merosot terlalu jauh,” jelas Wahyu.
Saranacentral Bajatama (BAJA) Akan Gelar Rights Issue untuk Bayar Utang
Dari sisi fundamental, perak juga mendapat dukungan kuat dari sektor industri. Berbeda dengan emas, permintaan perak banyak ditopang kebutuhan fisik, khususnya untuk panel surya dan kendaraan listrik.
Wahyu menilai peluang harga perak kembali menyusul ATH tetap terbuka, meskipun pergerakannya kemungkinan tidak akan berlangsung lurus.
Menurut dia, dalam jangka pendek Februari-Maret, harga perak berpotensi bergerak mencari pijakan baru dengan fase konsolidasi terlebih dahulu.
Momentum kenaikan yang lebih tajam diperkirakan akan muncul apabila rasio emas-perak semakin menyempit. Selain itu, faktor makro juga akan sangat menentukan.
Memasuki pertengahan 2026, Wahyu memperkirakan pergerakan perak akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan bullish. Ia memproyeksikan harga perak pada semester I 2026 berpotensi berada dalam kisaran US$ 50 – US$ 130 per ons troi.
Meskipun data tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat sempat menimbulkan keraguan pasar terhadap kecepatan pemangkasan suku bunga, ketidakpastian politik di AS serta tensi dagang global masih akan menjadi faktor pendukung.
“Dalam kondisi tersebut, investor cenderung tetap melirik perak sebagai aset pelindung,” pungkasnya.