GAIN: Makanan sehat dan berkelanjutan belum jadi pilihan utama di Indonesia

Pola makan sehat dan berkelanjutan belum menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia, meskipun saat ini telah berkembang. Pola makan tersebut menyejajarkan aspek kesehatan dengan pengurangan dampak lingkungan serta pelestarian keanekaragaman hayati. 

Country Director Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia Agnes A. Mallipu mengatakan, pilihan pangan yang sehat dan ramah lingkungan banyak berkembang di daerah, terutama melalui pengembangan pangan-pangan lokal. 

“Tapi (makanan sehat) ini belum menjadi arus utama kita, ini yang mungkin ke depan bisa kita dorong,” kata Agnes, dalam Diskusi Nasional Multipihak: Aksi Bersama Menuju Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan di Indonesia’, di Jakarta, Kamis (9/4). 

Padahal, berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation, enam dari sepuluh penyakit yang paling sering menyebabkan kematian dan disabilitas di Indonesia, berkaitan dengan pola makan. Misalnya darah tinggi, risiko pola makan, kurang gizi, high fasting plasma glucose, indeks massa tubuh tinggi, dan kolesterol jahat. 

Sistem Pangan yang Tak Berkelanjutan Bisa Rusak Lingkungan

Di samping itu, sistem pangan yang dikelola tanpa prinsip berkelanjutan juga dapat merusak lingkungan. Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), sistem pangan global sejauh ini telah berdampak pada deforestasi, gas rumah kaca, erosi lapisan tanah atas, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga overfishing atau penangkapan ikan berlebih.

Business Engagement and Development Specialist World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Samuel Pablo Pareira mengatakan, pola makan sehat dan berkelanjutan merupakan cara yang mampu menekan dua masalah tersebut: kesehatan dan lingkungan. 

“Pola makan yang tidak hanya sehat tapi juga berkelanjutan ini berkontribusi untuk mendukung banyak sekali program nasional, seperti penurunan stunting, perlindungan biodiversitas, pemberdayaan petani kecil dan pangan lokal, serta peningkatan ketahanan iklim dan pangan,” ucap Pablo, dalam diskusi yang sama. 

Dalam kesempatan tersebut Agnes juga menjelaskan, untuk mengedepankan pola makan yang sehat dan berkelanjutan, perlu ada pembentukan demand. “Kita harus ciptakan rasa membutuhkan atau ingin makanan-makanan yang sehat,” kata dia. 

Di satu sisi, makanan-makanan yang kurang sehat, seperti makanan tinggi gula, tinggi garam, dan tinggi lemak, harus dibatasi.