
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra meminta kepolisian untuk mengungkap aktor intelektual di balik penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus di Jalan Salemba, Jakarta Pusat pada Kamis (12/3), malam.
“Saya meminta aparat penegak hukum, khususnya Polri, memastikan pengusutan tuntas sampai ke aktor intelektual, bukan hanya pelaku penyerangan di lapangan,” kata Yusril dalam siaran pers pada Jumat (13/3).
Ia menilai pola serangan tersebut menunjukkan adanya perencanaan yang terorganisir. Yusril mendorong agar aparat penegak hukum mengusut perkara ini hingga tuntas dan tidak berhenti pada pelaku lapangan semata.
Yusril juga menyampaikan dirinya telah berkoordinasi dengan Kapolda Metro Jaya, yang menangani kasus ini bersama Bareskrim Polri. Menurutnya, saat ini aparat masih melakukan pendalaman terhadap perkara tersebut sehingga belum dapat memberikan informasi lebih lanjut kepada publik.
Baca juga:
- Airlangga Ungkap Skenario Terburuk Dampak Perang, Opsi Defisit 4% hingga Perppu
- AS Tawarkan Imbalan Rp 169 Miliar untuk Setiap Informasi tentang Pemimpin Iran
- Menteri Hukum: RUU Disinformasi Fokus Atur Medsos, Bukan Media Arus Utama
Menteri Sekretaris Negara 2004-2007 itu menilai setiap pihak wajib menghormati perbedaan pandangan dalam negara demokrasi. Kekerasan terhadap aktivis demokrasi dan HAM menurutnya tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun. “Menyerang aktivis demokrasi dan HAM, meskipun berbeda pendapat dengan mereka, tetap tidak dapat dibenarkan,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal KontraS, Andy Irfan, menyampaikan penyerangan tersebut terjadi sesaat setelah Andrie Yunus menyelesaikan perekaman siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dengan tema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” sekitar pukul 23.00 WIB.
Tindakan ini mengakibatkan luka bakar serius pada sejumlah bagian tubuh, terutama pada tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta area mata.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal, Andrie Yunus mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan sekitar 24% dan saat ini tengah menjalani penanganan intensif di rumah sakit.
Andy mengatakan serangan terhadap Andrie Yunus bukan sekadar serangan terhadap satu individu, melainkan serangan terhadap seluruh gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan demokrasi, keadilan, dan hak asasi manusia di Indonesia.
Menurutnya, teror dan kekerasan tidak akan menghentikan perjuangan melawan impunitas. Sebaliknya, peristiwa ini semakin meneguhkan komitmen masyarakat sipil untuk terus melawan ketidakadilan serta menuntut pertanggungjawaban negara atas setiap bentuk kekerasan terhadap pembela HAM.
“Kami tidak takut. Teror tidak akan menghentikan perjuangan. Kami akan terus melawan setiap bentuk kekerasan dan impunitas,” kata Andy dalam siaran pers pada Jumat (13/3).