
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih dibeli investor asing kala Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas dan foreign outflow masih terjadi di pasar saham Tanah Air.
Sebagai gambaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 4,20% dan parkir di level Rp 5.594,76 pada Jumat (5/6/2026). IHSG juga sudah turun 19,58% dalam sebulan dan 35,3% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Aliran dana asing pun tercatat keluar dari pasar saham Indonesia dalam sebulan terakhir sebesar Rp 24,77 triliun di pasar reguler dan Rp 9,24 triliun di seluruh pasar.
Jika ditarik lebih jauh, Rp 68,5 triliun YTD di pasar reguler dan Rp 57,63 triliun YTD di seluruh pasar.
Saham-Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Turun 1,70% ke 5.839, Kamis (4/6)
Meskipun begitu, masih ada sejumlah emiten yang mencatatkan net buy dalam sebulan terakhir. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatatkan net buy tertinggi dalam sebulan terakhir, yaitu Rp 1,2 triliun.
Lalu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang dibeli asing Rp 621,1 miliar, PT Timah Tbk (TINS) Rp 545,1 miliar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp 347,6 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 242,1 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 230,9 miliar.
Kemudian, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan net buy Rp 181,6 miliar, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) Rp 180,9 miliar, dan PT Indika Energy Tbk (INDY) Rp 178,3 miliar.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto melihat, hal tersebut lantaran masih ada daya tarik di sektor komoditas logam dan energi.
MDKA dan EMAS memberi eksposur ke emas dan tembaga, yang diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik dan narasi transisi energi.
“Sementara, ADRO, BUMI, INCO, TINS, dan DEWA memberi eksposur ke batu bara dan logam dasar yang tetap relevan untuk kebutuhan energi dan industri,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (7/6/2026).
Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Anjlok di Level 5.941
Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menilai, ada empat faktor utama mengapa emiten tersebut masih dikoleksi asing dalam sebulan terakhir.
Pertama, rotasi dari saham perbankan ke komoditas sejak awal 2026. Rotasi tersebut disebabkan oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik, pelemahan rupiah, tekanan kualitas kredit, dan ketidakpastian MSCI.
“Komoditas menjadi pilihan karena pendapatan berbasis dolar, tidak terlalu bergantung pada konsumsi domestik, dan mendapat manfaat dari depresiasi rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (7/6/2026).
Kedua, tema global terkai “energy transition“. MDKA, INCO, dan TINS memiliki eksposur kuat pada nikel, tembaga, baterai EV, dan energi terbarukan
“Walaupun harga nikel belum pulih penuh, investor asing tetap melihat sektor ini sebagai tema struktural jangka panjang. Mereka membeli ketika valuasi sedang murah,” katanya.
Ketiga, valuasi saham komoditas yang sudah terlalu murah. Keempat, momentum indeks dan positioning.
IHSG Ambruk 4,11% ke 5.941, Cek Saham yang Banyak Dijual Asing, Rabu (3/6)
Menjelang review MSCI maupun FTSE, banyak fund manager melakukan reposisi. Sementara beberapa saham konglomerasi besar terkena tekanan akibat isu konsentrasi kepemilikan.
“Saham seperti MDKA, ADRO, INCO dan TINS justru terlihat lebih aman dari sisi struktur pasar,” tutur Edwin.
Rully berpandangan, selama tema komoditas dan emas masih konstruktif dan tidak ada downgrade besar dari MSCI atau FTSE atas Indonesia, net buy selektif di emiten-emiten tersebut masih bisa berlanjut, meskipun volatilitasnya bisa tinggi.
“Sentimen positif untuk kinerja para emiten tersebut adalah ramp?up produksi emas/tembaga, proyek tambang Pani, dual listing EMAS, dan harga emas yang cenderung ditopang oleh suku bunga riil rendah dan geopolitik,” ungkapnya.
Edwin sepakat, dana asing kemungkinan pun akan kembali keluar dari saham-saham tersebut menjelang pengumuman MSCI dan FTSE di pertengahan Juni 2026.
Namun, digarisbawahi juga bahwa ada perbedaan antara dana aktif (active fund) dan dana pasif (ETD dan index fund).
Untuk dana aktif, biasanya investor membeli berdasarkan valuasi, prospek laba, dan siklus komoditas. Untuk dana pasif, wajib mengikuti indeks.
Intip Saham Net Buy Terbesar Asing Saat IHSG Merosot Tajam, Jumat (5/6)
Dana aktif tidak terlalu peduli FTSE atau MSCI. Sementara, dana pasif harus mengikuti perubahan bobot indeks tanpa mempertimbangkan fundamental. Oleh karena itu volatilitas menjelang effective date indeks biasanya meningkat.
“Namun jika saham-saham tersebut tetap tidak terkena isu indeks secara langsung, tekanan jualnya relatif terbatas,” paparnya.
Menurut Edwin, jika asing keluar dari saham-saham tersebut, dananya akan pindah ke tiga sektor. Yaitu, sektor big banks (BBCA, BBRI, dan BMRI), sektor telekomunikasi (TLKM), dan sektor consumer (ICBP dan MYOR).
Alasannya terkait likuiditas, defensif, dan valuasi menarik. Apabila suku bunga mulai turun dan konsumsi membaik, sektor konsumer bisa kembali menjadi tujuan dana asing.
Ke depan, Edwin melihat saham INCO, MDKA, dan ADRO yang paling menarik didukung oleh tema global, likuiditas, dan masih menjadi tujuan dana asing. TINS dan EMAS juga dilihat menarik, tetapi lebih bergantung pada harga komoditas.
“Di tier c, ada saham DEWA dan BUMI yang lebih cocok untuk investor dengan toleransi risiko tinggi,” paparnya.
Untuk jangka menengah, Rully merekomendasikan buy untuk INCO dengan target harga Rp 7.400 per saham.