Wall Street bangkit, saham chip rebound di tengah meredanya konflik Iran-Israel

Ussindonesia.co.id  NEW YORK. Wall Street kembali menguat pada perdagangan Senin (8/6/2026) setelah sektor teknologi, khususnya saham-saham semikonduktor, bangkit dari aksi jual besar yang terjadi pada akhir pekan lalu.

Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga turut memperbaiki sentimen investor dan mendorong minat beli di pasar saham AS.

Pada perdagangan pagi waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,29% ke 51.015,91. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,68% ke 7.434,28 dan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 1,09% ke level 25.989,52.

Kenaikan pasar dipimpin saham-saham chip yang sebelumnya terpukul hebat.

Wall Street Menguat, Saham Chip Bangkit dan Ketegangan Timur Tengah Mereda

Indeks sektor teknologi S&P 500 naik 1,9%, sedangkan Philadelphia Semiconductor Index melesat 4,6%, memulihkan sebagian kerugian setelah aksi jual pada Jumat lalu yang sempat menghapus nilai pasar produsen chip AS hingga sekitar US$1 triliun.

Saham Intel menjadi sorotan dengan lonjakan 8,5% setelah laporan menyebutkan Alphabet menunjuk perusahaan tersebut untuk memproduksi sekitar 3 juta chip internal.

Selain itu, Nvidia dikabarkan juga tengah mengevaluasi teknologi yang dimiliki Intel. Penguatan juga terjadi pada saham Nvidia yang naik 1,7%, Broadcom menguat 2,8%, dan Micron Technology melesat 8,7%.

“Kadang pergerakan pasar terlalu cepat dan terlalu jauh. Koreksi memang diperlukan, dan biasanya setelah itu aliran investasi mulai menyebar ke sektor lain,” kata Kepala Strategi Pasar B Riley Wealth, Art Hogan.

Selain ditopang pemulihan sektor teknologi, pasar juga mendapat dorongan dari meredanya konflik antara Iran dan Israel.

Wall Street Ditutup Menguat, Ditopang Harapan Konflik di Timur Tengah Mereda

Militer Iran menyatakan gelombang pertama serangan terhadap Israel telah berakhir, sementara Israel disebut menghentikan serangan atas permintaan Presiden AS Donald Trump.

Meski ketegangan belum sepenuhnya hilang, meredanya eskalasi membuat kekhawatiran investor berangsur menurun. Sebelumnya, konflik kedua negara sempat mendorong harga minyak melonjak lebih dari 5%.

Namun pada perdagangan terbaru, kenaikan harga minyak menyusut menjadi kurang dari 2%, sementara saham sektor energi tetap menguat 1,3%.

Di sisi lain, investor masih mencermati arah kebijakan moneter AS. Data ketenagakerjaan Mei yang jauh lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Berdasarkan perhitungan pasar berjangka, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai sekitar 42%.

Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS bulan Mei yang dijadwalkan keluar pada Rabu.

Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur dampak kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah terhadap inflasi.

Wall Street Meroket! Saham Teknologi Pimpin Penguatan Bursa Saham AS

Meski tantangan masih membayangi, optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) terus menopang prospek pasar saham AS.

Citigroup bahkan menjadi salah satu lembaga keuangan terbaru yang menaikkan target indeks S&P 500 hingga menembus level 8.000 pada akhir 2026, didorong oleh ketahanan laba korporasi dan pertumbuhan bisnis berbasis AI.

Di tengah reli pasar, saham Marvell Technology melonjak hampir 10% setelah dipastikan akan masuk ke indeks S&P 500 mulai 22 Juni mendatang.

Sementara itu, saham perusahaan farmasi Eli Lilly naik 2,3% setelah hasil uji klinis menunjukkan obat obesitas generasi barunya, retatrutide, mampu mengurangi apnea tidur sekaligus membantu penurunan berat badan dan meredakan nyeri lutut.

Secara keseluruhan, mayoritas saham di Wall Street bergerak di zona hijau.

Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang naik mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,76 banding 1, sedangkan di Nasdaq rasionya mencapai 1,97 banding 1.