
Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup sedikit lebih rendah pada penutupan perdagangan Senin (20/4). Pendorongnya adalah ketegangan AS-Iran yang kembali memanas mempertanyakan keberlanjutan gencatan senjata selama dua minggu.
Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) Indeks S&P 500 (5PX) masing-masing turun 4,87 poin, atau 0,01 persen menjadi 49.442,56, turun 16,92 poin, atau 0,24 persen menjadi 7,109,14 dan Nasdaq Composite (IXIC) turun 64,09 poin, atau 0,26 persen menjadi 24.404,39.
Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menghadiri pembicaraan perdamaian dengan Amerika Serikat di Pakistan. Hal ini disampaikan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters, seiring langkah Islamabad yang berupaya mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Namun, sumber lain menyebut Wakil Presiden JD Vance masih berada di Amerika Serikat dan membantah laporan yang menyebut dirinya tengah menuju Pakistan untuk mengikuti pembicaraan tersebut.
Di sisi lain, dinamika di Selat Hormuz turut mempengaruhi pergerakan pasar global. Iran sempat membuka jalur pelayaran tersebut pada Jumat, mendorong reli pasar saham dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi selama tiga sesi berturut-turut serta mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 11 bulan. Meski begitu, jalur tersebut kembali ditutup pada akhir pekan.
Harga minyak pun melonjak signifikan. Minyak mentah AS naik 6,87 persen dan ditutup di level USD 89,61 per barel, sementara Brent menguat 5,64 persen menjadi USD 95,48 per barel. Kenaikan ini turut mendorong indeks energi S&P 500 (SPNY) naik 10,21 persen.
“Berita selama akhir pekan tentang penutupan kembali selat atau pemeriksaan kapal Iran, itu sedikit menjauhkan kita dari pembukaan kembali sepenuhnya, tetapi waktunya tampaknya tidak terlalu jauh seperti yang diperkirakan setidaknya dengan pembicaraan selama minggu ini,” ujar Tom Hainlin, ahli strategi investasi nasional di US Bank Wealth Management di Minneapolis dikutip dari Reuters, Selasa (21/4).

Ia menambahkan, pasar saat ini juga tengah mencermati musim laporan keuangan kuartal pertama untuk melihat dampak konflik terhadap ekonomi riil.
“Namun, Anda juga sedang berada di tengah musim laporan keuangan kuartal pertama, jadi pertanyaannya adalah, apakah ada dampak yang meluas ke ekonomi riil, dan sejauh ini Anda telah mendengar dari bank bahwa kredit konsumen terlihat baik dan pengeluaran mereka juga terlihat baik,” lanjutnya.
Sektor layanan komunikasi (.SPLRCL) menjadi yang paling tertekan. Saham Meta (META.O) turun 2,56 persen dan mengakhiri tren kenaikan selama sembilan sesi berturut-turut—yang merupakan rekor terpanjang sejak Oktober.
Netflix (NFLX.O) juga turun 2,55 persen dan telah melemah sekitar 12 persen sejak pengumuman kinerja kuartalan serta mundurnya salah satu pendiri perusahaan, Reed Hastings, pekan lalu.
Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street, naik 1,37 poin ke level 18,85 setelah sebelumnya sempat mencapai posisi tertinggi dalam sepekan di 19,99.
Ke depan, investor akan mencermati dampak konflik Iran terhadap kinerja perusahaan dan ekonomi global, termasuk laporan dari Lockheed Martin (LML.N) dan IBM (IBM.N) yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.
Tesla (TSLA.O) juga akan membuka musim laporan keuangan untuk kelompok saham megacap “Magnificent Seven” pada Rabu mendatang.
Dari 48 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga Jumat pagi, sebanyak 87,5 persen berhasil melampaui ekspektasi analis, dengan pertumbuhan laba kuartal pertama saat ini mencapai 14,4 persen menurut data LSEG.
Di sisi lain, saham QXO (QXON) turun 3,12 persen setelah perusahaan tersebut menyepakati akuisisi senilai USD 17 miliar terhadap TopBuild (BLD.N), yang justru mendorong saham perusahaan target melonjak 19,38 persen.
Jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,08 banding I di NYSE, tetapi jumlah saham yang turun lebih banyak daripada yang naik dengan rasio 1,01 banding 1 di Nasdaq.
Indeks S&P 500 mencatatkan 44 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan tidak ada rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatatkan 173 rekor tertinggi baru dan 42 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 16,42 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 18,54 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.