
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) sesi I perdagangan Kamis (8/1/2026) menguat 0,44% ke 8.984,48. Laju indeks ditopang penguatan saham berkapitalisasi pasar jumbo seperti AMMN, BMRI sampai BBRI.
Melansir IDX Mobile, dalam perdagangan sesi I ini sebanyak 387 saham menguat, 320 saham melemah dan 251 saham tidak berubah.
Saham dengan kapitalisasi pasar terbesar yang menguat pada sesi I ini antara lain adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang naik 5,33% ke Rp8.400, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) naik 0,81% ke Rp3.730, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) naik 0,83% ke Rp4.850, sampai saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang menguat 3,93%.
: IHSG Cetak ATH Lagi! Saham ADRO hingga BBRI Naik ke Zona Hijau
Di sisi lain, saham berkapitalisasi pasar besar yang melemah hingga sesi I ini antara lain adalah saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun 1,23% ke Rp8.050, saham PT Bank Permata Tbk. (BNLI) turun 0,98% ke Rp5.075, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) turun 0,90% ke Rp220.000, serta saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang turun 0,28% ke Rp3.530.
Adapun, IHSG melanjutkan tren positif mengakhiri seluruh perdagagan sejak awal 2026 dengan pertumbuhan. Sejalan dengan indeks komposit, saham AMMN juga terus ditutup menguat sejak perdagangan 2 Januari 2026 hingga sesi I hari ini.
: : Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 8 Januari 2026
Pada penutupan pasar terakhir, Rabu (7/1), IHSG menguat 0,13% ke level 9.44,81. Tim riset Phintraco Sekuritas menjelaskan, secara teknikal histogram positif MACD berlanjut menguat, namun momentum beli mulai melemah, sementara Stochastic RSI berada di area overbought.
“Sehingga perlu diwaspadai potensi terjadinya aksi profit taking, terutama jika ketegangan geopolitik global kembali memanas. IHSG diperkirakan bergerak di area support 8.850-8.900 dan resistance di 8.970-9.000,” tulis riset tersebut, Kamis (8/1/2026).
: : Ramai-Ramai Asing Masuk Kala IHSG Terus Cetak Rekor Baru
Phintraco Sekuritas menjabarkan sejumlah sentimen yang menyertai gerak pasar saham. Dari sisi kebijakan, pemerintah akan memangkas target produksi mineral dan batu bara yang tercantum dalam RKAB 2026. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengendalikan keseimbangan supply dan demand sehingga diharapkan dapat memulihkan harga mineral dan batu bara yang mengalami penurunan pada tahun lalu akibat kelebihan pasokan. Kebijakan ini diharapkan akan berdampak positif terhadap saham terkait.
Sementara itu, Presiden Prabowo mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras dalam waktu satu tahun (7/1), serta berencana merealisasikan swasembada untuk komoditas pangan lainnya secara berturut-turut setiap tahun. Hal ini sejalan dengan program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Kemudian, investor juga akan mencermati data ekonomi terbaru yang dirilis pemerintah, yaitu cadangan devisa Indonesia Desember 2025. Cadangan devisa Indonesia meningkat signifikan menjadi US$156,5 miliar pada Desember 2025, dibandingkan US$150,1 miliar pada November 2025.
Sekuritas menilai peningkatan tersebut mencerminkan perbaikan likuiditas di tengah normalisasi dinamika pasar keuangan global. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah, yang secara kumulatif memperkuat buffer stabilisasi eksternal nasional.
“Ke depan, aliran masuk modal asing diprakirakan tetap berlanjut seiring persepsi investor terhadap prospek perekonomian domestik yang konstruktif serta imbal hasil investasi yang tetap atraktif. Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah guna menjaga stabilitas makroekonomi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.