
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Absennya aksi penawaran umum perdana saham (IPO) BUMN pada 2026 sesuai dengan keputusan Danantara Indonesia dinilai akan mendorong rotasi likuiditas investor ke saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chips.
Sebelumnya, Danantara memastikan tidak ada IPO BUMN pada tahun ini karena memprioritaskan penyelesaian 41 rencana kerja terkait dengan konsolidasi BUMN. Aksi korporasi pelat merah ini diperkirakan akan kembali bergulir pada 2027.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menjelaskan bahwa absennya emiten pelat merah dalam daftar antrean IPO skala jumbo bakal mengubah arah arus modal di pasar reguler.
Menurutnya, investor institusi dan pengelola dana global kemungkinan besar akan lebih selektif dengan memprioritaskan portofolio pada saham-saham yang memiliki fundamental kokoh dan cenderung likuid.
“Investor, termasuk investor global, kemungkinan lebih fokus pada saham-saham blue chip, seperti yang tergabung dalam IDX30 maupun LQ45. Saham-saham tersebut sudah likuid dan memiliki fundamental yang relatif kuat,” pungkas Nafan saat dihubungi Bisnis, Kamis (12/2/2026).
: Danantara Tunda IPO BUMN, Aturan Free Float 15% Jadi Tumpuan Likuiditas
Dia menilai bahwa langkah Danantara merupakan periode konsolidasi untuk membenahi internal BUMN, mulai dari restrukturisasi kredit hingga merger.
Kendati proses tersebut membuat kapitalisasi pasar indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi tidak meningkat signifikan tahun ini, sisi positifnya adalah tercipta fondasi emiten yang lebih berkualitas di masa depan.
Di sisi lain, minat investor asing terhadap Indonesia sebagai bagian dari pasar berkembang dinilai tetap terjaga. Namun, tanpa adanya pilihan baru dari sektor BUMN, manajer investasi global bakal mencari peluang pertumbuhan pada emiten yang sudah memiliki kejelasan rekam jejak dan tata kelola yang baik.
Nafan juga menekankan bahwa masa tunggu hingga 2027 harus dimanfaatkan perusahaan pelat merah untuk menurunkan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) dan memastikan kepastian dividen.
“Restrukturisasi yang efektif diharapkan dapat menurunkan beban bunga sehingga profitabilitas meningkat. Faktor lain yang penting adalah kepastian dividen, karena emiten yang mampu memberikan dividend yield menarik tetap memiliki daya tarik tersendiri,” tutur Nafan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.