
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibuka pada Rabu, 18 Februari 2026 setelah libur panjang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
BEI meniadakan aktivitas perdagangan pada 16 Februari karena cuti bersama Imlek dan 17 Februari karena perayaan Tahun Baru Imlek. Bursa memastikan perdagangan kembali berjalan normal setelah libur.
Menjelang penutupan sebelum libur, kinerja pasar menunjukkan penguatan. Dalam sepekan periode 9-13 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 3,49 persen dan ditutup di level 8.212,271 dari 7.935,260 pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, secara musiman Februari kerap diwarnai pelemahan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyebut tren tersebut tidak mengubah prospek jangka menengah pasar.
“Kinerja pergerakan pihak IHSG misalnya kalau selama Februari, kan, tahun ini, kan, berada di zona negatif tapi untung saja kalau kita melihat secara rata-rata 25 tahun terakhir IHSG masih dalam keadaan positif, masih relatif bullish,” jelas Nafan kepada kumparan, Selasa (27/2).

Nafan menilai pelemahan justru bisa menjadi peluang akumulasi saham berfundamental kuat.
“Bisa menjadikan momentum untuk bottom fishing dengan mencermati saham-saham yang berfundamental solid dan juga secara valuasi memang ter-discount,” kata dia.
Namun, momentum Imlek yang berlanjut ke Ramadan hingga Lebaran dinilai berpotensi menjaga perputaran ekonomi dan memberikan katalis positif bagi pergerakan saham.
“IHSG ini semestinya masih masih prospektif dalam menyambut momentum Imlek, Ramadan, maupun juga Lebaran,” ujarnya.
Karakter Pasar di Tahun Kuda Api
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia melihat tahun 2026 sebagai periode perubahan karakter pasar. Dalam laporannya, transisi menuju Tahun Kuda Api digambarkan sebagai fase percepatan aktivitas pasar sekaligus peningkatan risiko volatilitas, di tengah potensi reformasi struktural dan penguatan integritas pasar modal.
Riset itu menilai investor tidak lagi cukup mengandalkan strategi pasif karena rotasi sektor akan berlangsung cepat dan didorong narasi pertumbuhan.
“Di tahun Kuda Api, berdiam diri adalah risiko terbesar. Bergeraklah cepat atau Anda akan tersapu oleh laju pasar,” kata Liza.
Dalam konteks pasar, menurut Kiwoom Sekuritas, kombinasi elemen “api” dan “kuda” melambangkan transformasi, ekspansi, dan kompetisi. Strategi investasi cenderung bergeser dari pendekatan buy and hold menuju rebalancing aktif dan pemanfaatan momentum sektor.
Riset tersebut menggarisbawahi sejumlah sektor dengan potensi akselerasi, antara lain ekosistem digital, infrastruktur digital, serta teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan dan skalabilitas tinggi.
Selain itu, sektor transisi energi, komoditas strategis, industri berbelanja modal besar, dan emiten terkait agenda strategis nasional juga dipandang berpotensi mendapat perhatian pasar.
Namun akselerasi ini diiringi risiko overheating yang dapat memicu pembalikan arah tajam, sehingga disiplin manajemen risiko dan pengambilan keuntungan tetap menjadi faktor penting.
Laporan tersebut juga menekankan tahun ini pasar tidak bergerak seragam mengikuti indeks, melainkan didominasi saham dengan narasi pertumbuhan kuat dan likuiditas tinggi.
Adapun, Kiwoom merinci emiten pilihan pada tahun Kuda Api ini ialah BMRI, BTPS, INKP, ERAL, JPFA, INET, TRIN, ENRG, TLKM, fan RMKE.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.