Sikap Warren Buffett terhadap industri penerbangan sudah lama menjadi bahan diskusi di kalangan investor. Selama bertahun-tahun, mantan CEO Berkshire Hathaway itu dikenal konsisten menghindari saham maskapai, meskipun sektor ini memiliki peran krusial dalam perekonomian global.
Dalam surat tahunan kepada pemegang saham pada 2007, Buffett secara gamblang menjelaskan pandangannya. Ia menyebut bisnis maskapai sebagai contoh terburuk dari perusahaan yang tumbuh cepat, membutuhkan modal besar, tetapi nyaris tidak menghasilkan keuntungan.
“Investor terus menuangkan uang ke dalam lubang tanpa dasar, tergiur pertumbuhan yang seharusnya justru dihindari,” tulis Buffett kala itu, dikutip dari GOBankingRates.
Lantas, mengapa investor legendaris berjuluk Oracle of Omaha begitu skeptis terhadap saham maskapai? Berikut rekam jejak dan alasan di balik pandangannya.
1. Rekam jejak Warren Buffett di industri maskapai
Dalam berbagai wawancara dan cuplikan video, Buffett berulang kali menegaskan, industri penerbangan memiliki struktur biaya yang tidak bersahabat bagi investor. Biaya tetapnya sangat besar, mulai dari pesawat, perawatan, hingga tenaga kerja, sementara biaya tambahan per kursi relatif rendah. Kombinasi ini membuat margin keuntungan sangat rentan.
Ia bahkan menyebut bisnis maskapai sebagai “jebakan mematikan” bagi investor. Pandangan keras ini bertahan hingga 2016, ketika Buffett secara mengejutkan mengubah sikapnya.
Pada tahun tersebut, Berkshire Hathaway mulai membeli saham empat maskapai besar Amerika Serikat: American Airlines, Delta Air Lines, United Airlines, dan Southwest Airlines. Kala itu, sejumlah analis menilai langkah Buffett cukup berisiko karena laba maskapai diduga sudah berada di puncaknya, didorong oleh harga bahan bakar yang rendah dan konsolidasi industri pasca-kebangkrutan.
Namun, keputusan itu tidak bertahan lama. Pada Mei 2020, Buffett mengumumkan Berkshire Hathaway telah menjual seluruh kepemilikan saham maskapai, dengan nilai lebih dari 4 miliar dolar AS.
2. Perubahan akibat pandemik
Dalam rapat pemegang saham virtual, Buffett menyampaikan, pandemik telah mengubah dunia penerbangan secara fundamental. Ia mengaku tidak yakin apakah kebiasaan bepergian masyarakat akan kembali seperti semula.
Menariknya, pada 2019 industri penerbangan AS baru saja mencatatkan tahun ke-10 berturut-turut mencetak laba. Namun, pandemik menjadi faktor eksternal yang memaksa Buffett mengubah strategi. Ia juga menegaskan, ketika memutuskan menjual, ia selalu melepas seluruh kepemilikan, bukan sekadar mengurangi porsi.
3. Pandangan para ahli soal investasi saham maskapai
Berikut pendapat para pakar investasi untuk menilai apakah skeptisisme Buffett terhadap saham maskapai masih relevan, sebagaimana dilansir GOBankingRates.
-
Industri maskapai dinilai sangat berisiko
Presiden dan Senior Portfolio Manager di ValueTrend Wealth Management, Keith Richards menilai karakter industri penerbangan tidak cocok dengan gaya investasi Buffett.
“Bisnis maskapai sangat siklikal dan penuh ketidakpastian, sementara Buffett menyukai perusahaan yang stabil dan bisa diprediksi,” ujarnya.
Analis obligasi senior di Gimme Credit, Jay Cushing menambahkan, sektor ini sejak lama dikenal rentan terhadap guncangan eksternal yang sulit dikendalikan.
Lonjakan harga minyak, ancaman terorisme, hingga konflik serikat pekerja dapat langsung memangkas margin keuntungan dan mengganggu operasional.
-
Struktur bisnis menyulitkan profit konsisten
Richards juga menyorot maskapai sulit membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Biaya tetap yang tinggi dan biaya variabel yang sulit dibebankan ke konsumen membuat ruang laba menjadi sangat sempit.
Cushing menambahkan, industri ini sangat teregulasi dan padat serikat pekerja, sehingga fleksibilitas manajemen terbatas dan biaya operasional meningkat. Selain itu, maskapai harus terus menggelontorkan dana besar untuk pembelian pesawat, perawatan, dan infrastruktur.
“Dengan struktur seperti ini, bahkan maskapai yang dikelola dengan baik pun kesulitan menghasilkan imbal hasil yang konsisten bagi investor,” ujarnya.
Meski industri penerbangan sangat penting bagi perekonomian global, struktur biaya tinggi, risiko eksternal, dan sifat bisnis yang siklikal membuat saham maskapai kurang menarik bagi investor berorientasi nilai seperti Warren Buffett. Pengalaman Buffett sendiri menunjukkan, bahkan dengan manajemen yang solid, faktor di luar kendali dapat dengan cepat mengubah prospek investasi di sektor ini.
Berkshire Masuki Era Greg Abel, Pasar Masih Ragu Pasca Buffett Mundur Warren Buffett Resmi Lepas Jabatan, Wall Street Soroti Warisannya Penyesalan Terbesar Warren Buffett: Tidak Beli 2 Saham Ini Sejak Awal