Populer: Bank jual dolar AS di atas Rp 17.000; BI intervensi besar-besaran

Nilai tukar rupiah masih tertekan mendekati Rp 17.000 terhadap dolar AS. Beberapa bank bahkan mulai menjual kurs melebihi Rp 17.000 per dolar AS. Berita ini menjadi salah satu berita populer sepanjang Rabu (21/1).

Mengutip Bloomberg, rupiah tercatat melemah 20,00 poin (0,12 persen) ke Rp 16.936 per dolar AS pada pukul 16.00 WIB, Rabu (21/1). Namun demikian, Bank Indonesia (BI) memastikan siap melakukan intervensi untuk stabilkan nilai tukar rupiah.

Beberapa Bank Jual Dolar AS di Atas Rp 17.000

Tekanan di pasar spot tersebut juga tercermin pada kurs jual di sejumlah bank besar nasional yang sudah menembus level Rp 17.000 per dolar AS, khususnya pada transaksi TT Counter.

TT Counter adalah kurs yang digunakan bank untuk transaksi valas non-tunai melalui teller, atau telegraphic transfer. Kurs ini berlaku untuk pengiriman dan penerimaan dana valas lewat transfer bank, seperti pembayaran impor, remitansi, dan transaksi bisnis internasional. Tidak ada uang dolar fisik yang berpindah karena seluruh transaksi dilakukan secara pemindahbukuan antarbank.

Untuk kur jual di Bank Negara Indonesia (BNI) memasang kurs beli dolar AS di Rp 16.815 dan kurs jual Rp 17.105 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan kurs beli dolar AS di Rp 16.865 dan kurs jual Rp 17.065 per dolar AS. Angka ini menandakan bahwa tekanan pelemahan rupiah juga tercermin pada harga jual di bank pelat merah tersebut.

Kondisi serupa terlihat di Bank Mandiri. Bank berlogo pita emas itu menetapkan kurs beli dolar AS di Rp 16.770 dan kurs jual Rp 17.070 per dolar AS untuk transaksi TT Counter.

BI Intervensi Besar-besaran

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan tidak akan ragu melakukan intervensi besar-besaran untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan domestik. Pernyataan itu disampaikan Perry seiring dinamika nilai tukar yang sempat bergejolak.

Perry menekankan, bank sentral telah menyiapkan seluruh instrumen kebijakan dan tidak segan masuk ke pasar dalam skala besar demi meredam volatilitas rupiah.

“Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1).

Ia menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, Perry menyoroti meningkatnya ketidakpastian akibat geopolitik serta kebijakan tarif Amerika Serikat.