Pelemahan rupiah menekan emiten sektor kesehatan, ini rekomendasi analis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini yang telah menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat menjadi sentimen negatif bagi emiten di sektor kesehatan.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, tingginya ketergantungan impor di sektor ini membuat indeks sektoral kesehatan (IDXHEALTH) tertekan.

“Dampaknya negatif. Tingginya eksposur impor di sektor kesehatan menjadi beban yang menekan sentimen pergerakan indeks sektoral,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Jelang Akhir Gencatan Senjata AS–Iran, Bitcoin Tertahan di Level US$ 75.000

Menurut Wafi, emiten farmasi menjadi pihak yang paling terdampak, mengingat sekitar 90% bahan baku aktif atau active pharmaceutical ingredients (API) masih diimpor.

“Pelemahan rupiah mendorong beban pokok produksi dan menekan margin laba,” jelasnya.

Di sisi lain, emiten rumah sakit dinilai relatif lebih tangguh dalam menghadapi tekanan kurs.

“Meski biaya pengadaan alat kesehatan dan obat meningkat, rumah sakit memiliki pricing power untuk meneruskan kenaikan biaya ke tarif layanan,” imbuh Wafi.

Untuk menjaga margin, ia menyebut emiten kesehatan umumnya menerapkan sejumlah strategi, seperti lindung nilai atau hedging valuta asing, mempercepat pembelian persediaan (front-loading inventory), hingga penyesuaian harga jual secara bertahap, khususnya pada layanan spesialis dan non-regulasi.

Wafi merekomendasikan saham sektor kesehatan seperti MIKA dengan target harga Rp 3.200 dan HEAL Rp 1.500.

Cek Prospek Kinerja Fore Kopi (FORE) Usai Catat Kenaikan Kinerja di Awal Tahun 2026

Senada, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya operasional sektor kesehatan secara langsung.

“Pelemahan rupiah menjadi sentimen negatif karena meningkatkan biaya operasional, terutama bagi emiten yang bergantung pada impor bahan baku dan alat kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, emiten farmasi menghadapi tekanan biaya yang cukup besar akibat kenaikan harga bahan baku berbasis dolar, sehingga berpotensi menekan margin laba jika tidak diimbangi penyesuaian harga jual.

Sementara itu, rumah sakit juga menghadapi kenaikan biaya pengadaan alat kesehatan, obat-obatan, serta biaya pemeliharaan yang sebagian besar berbasis impor.

“Hal ini berpotensi mendorong kenaikan operating cost, sehingga profitabilitas bisa tertekan, terutama jika ruang penyesuaian tarif terbatas,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, Azis merekomendasikan hold untuk saham KLBF dengan target harga Rp1.080.