Bagaimana efek outlook negatif Moody’s dan Fitch ke rencana penarikan utang RI?

Dua lembaga pemeringkat global, Moody’s dan Fitch Ratings kompak mengubah outlook surat utang Indonesia menjadi negatif meski mempertahankan peringkatnya di level layak investasi. Namun, bagaimana sebenarnya implikasinya terhadap rencana penarikan utang pemerintah, terutama di tengah ketidakpastian akibat perang Iran dan Amerika Serikat?

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan, sebagian besar pembiayaan utang Indonesia hingga kini masih didukung oleh penerbitan surat berharga negara atau SBN. Saat ini, menurut dia, peminat surat utang negara atau SUN dan surat berharga syariah negara atau SBSN juga masih tinggi. 

“Kalau kami lihat bid cover ratio (rasio penawaran terhadap permintaan) SUN masih terjaga di 2 kali dan bahkan SBSN 3,1 kali, lebih baik dibandingkan tahun lalu,” ujar Juda dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (11/3).

Juda juga mencatat minat investor asing terhadap SBN juga masih terjaga dengan baik. Bid cover ration  SUN oleh investor asing mencapai 2,4 kali, sedangkan SBSN itu 2,8 kali,” kata Juda.

Menurut catatan Juda, rasio penawaran investor asing terhadap permintaan SUN masih sama seperti tahun lalu. Sedangkan pada SBSN terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebanyak 2,7 kali.

“Hal ini menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental eknomi masih terjaga di tengah ketidakpastian global,” kata dia. 

Meski demikian, Kementerian Keuangan mencatat, realisasi pembiayaan utang dalam dua bulan pertama tahun ini hanya mencapai Rp 185,3 triliun, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 249,9 triliun 

Meski demikian, pembiayaan utang hingga Februari 2026 telah mencapai 22,3% dari target dalam APBN 2026.  “Pembiayaan anggaran 2026 terjaga dengan baik dalam batas yang terkendali,” kata Juda. 

Dengan realisasi pembiayaan utang pada Januari 2026 yang sudah mencapai Rp 127,4 triliun, pemerintah hanya menambah utang Rp 58 triliun pada Februari 2026. Ini artinya, penarikan utang setelah pelunasan pada bulan lalu  di bawah separuh bulan sebelumnya. 

Juda menjelaskan, strategi pembiayaan utang pemerintah sejauh ini dilakukan antisipatif untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai sekaligus menjaga fleksibilitas pembiayaan untuk merespons dinamika pasar yang sedang terjadi.

Moody’s pada awal bulan lalu mengubah outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif dengan mempertahankan peringkat Baa2 atau investment grade. Fitch Ratings kemudian memberikan rapot serupa kepada surat utang Indonesia pada awal bulan ini. 

Kedua lembaga rating ini, antara lain menyoroti risiko kerentanan fiskal Indonesia akibat potensi pelebaran defisit anggaran. Namun sorotan ini belum memperhitungkan dampak dari perang Iran – AS yang meletus pada awal bulan ini dan diperkirakan banyak ekonom dapat mendorong defisit APBN menembus lebih dari 3% PDB jika tak dilakukan rasionalisasi belanja.