MDLA bukukan laba Rp119,32 miliar kuartal I-2026, simak rekomendasi sahamnya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Medela Potentia Tbk (MDLA) mencatatkan kinerja yang cukup solid pada Kuartal I-2026, seiring pertumbuhan bisnis distribusi farmasi yang masih stabil.

Perseroan membukukan laba periode berjalan sebesar Rp119,32 miliar atau tumbuh 7,4% secara tahunan (year on year/YoY). Pertumbuhan ini ditopang oleh penjualan farmasi yang mencapai Rp3,26 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kualitas pertumbuhan MDLA masih terjaga, meskipun laju pertumbuhan laba belum terlalu agresif.

“Pertumbuhan laba memang belum terlalu tinggi, tetapi bisnis inti distribusi farmasi tetap solid, didukung permintaan healthcare domestik yang relatif stabil,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).

Menurut Wafi, posisi MDLA sebagai salah satu pemain distribusi kesehatan masih cukup kuat di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Medela Potentia (MDLA) Tebar Dividen Rp12,6 per Saham

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai fundamental MDLA masih sehat. Namun, ia melihat adanya tekanan biaya operasional yang membuat pertumbuhan laba lebih moderat dibandingkan pertumbuhan penjualan.

Dari sisi manajemen, pergantian Direktur Utama dinilai menjadi bagian dari fase transformasi perusahaan. Wafi memandang perubahan tersebut berpotensi memperkuat strategi jangka panjang perseroan, terutama dalam mendorong ekspansi distribusi, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperluas kerja sama dengan prinsipal global.

“Pasar akan mencermati apakah manajemen baru mampu mempercepat ekspansi dan meningkatkan efisiensi,” katanya.

Sementara itu, Azis menilai pergantian manajemen cenderung berdampak netral hingga positif, selama mampu memperkuat arah bisnis dan eksekusi strategi perusahaan ke depan.

Di sisi ekspansi, peresmian gudang distribusi baru di Medan dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat jaringan logistik perseroan, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat.

Wafi menilai keberadaan fasilitas tersebut berpotensi mempercepat distribusi produk, menekan biaya logistik, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan.

“Dalam jangka menengah, ini dapat mendukung pertumbuhan pendapatan sekaligus menjaga margin operasional,” jelasnya.

Azis juga berpandangan langkah ekspansi tersebut akan memperkuat penetrasi pasar sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi di kawasan dengan pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan yang tinggi.

  MDLA Chart by TradingView  

Lebih lanjut, peluang diversifikasi bisnis melalui kolaborasi dengan prinsipal alat kesehatan global dinilai dapat menjadi katalis positif bagi kinerja MDLA ke depan.

Wafi menyebut segmen alat kesehatan memiliki margin yang lebih tinggi dibandingkan distribusi farmasi, sehingga berpotensi meningkatkan profitabilitas perusahaan.

“Ke depan, MDLA berpotensi berkembang menjadi integrated healthcare supply player, tidak hanya distributor farmasi,” tambahnya.

Senada dengan itu, Azis menilai kolaborasi tersebut dapat memperluas portofolio produk sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan dari segmen dengan margin lebih tinggi.

Dari sisi rekomendasi investasi, Wafi memberikan rating beli untuk saham MDLA dengan target harga Rp390 per saham.

Sementara itu, Azis merekomendasikan trading buy dengan target harga saham MDLA di kisaran Rp268 hingga Rp270 per saham.

Dengan prospek permintaan produk kesehatan yang masih bertumbuh, MDLA dinilai memiliki peluang untuk mempertahankan kinerja positif dalam jangka menengah.