
Ketidakpastian geopolitik akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) membuat pergerakan pasar saham global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tekanan.
Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, mengatakan strategi utama bagi investor di tengah gejolak pasar adalah menghindari pembelian saham secara sekaligus.
“Untuk tips investor ya, tipsnya di tengah kondisi yang volatile, ya lebih baik. Pertama, mereka harus melakukan pembelian secara bertahap ya, jadi jangan langsung full power,” ujar Gunarto, kepada kumparan, Selasa (10/3).
Menurutnya, investor sebaiknya fokus pada saham dengan fundamental kuat tetapi memiliki valuasi yang masih murah. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain price earning ratio (PER), price to book value (PBV), posisi kas perusahaan, tingkat utang, serta kemampuan menghasilkan laba dari aset yang dimiliki.
Gunarto melanjutkan, membeli saham berkualitas saat harga mengalami koreksi justru bisa menjadi peluang bagi investor, asalkan dilakukan secara bertahap dan memiliki horizon investasi yang jelas.
“Enggak perlu khawatir, karena yang kita beli itu barang bagus tapi harga murah. Dan beli di saat harga mengalami koreksi ya, itu kan enak jadinya. Tapi memang belinya harus bertahap sih, ada time horizonnya harus ditentukan gitu,” kata Gunarto.
Sektor Energi hingga Teknologi Menarik
Dari sisi sektoral, Gunarto melihat beberapa sektor masih memiliki prospek menarik di tengah dinamika global saat ini. Sektor energi dan komoditas jadi salah satu yang diuntungkan dari kenaikan harga energi akibat tensi geopolitik.
“Terus untuk sektornya, karena kita lihat sekarang energi kan kuat ya, pengaruhnya nih. Sama saham sektor energi, saham minyak berarti kan kuat juga nih. Saham energi, saham pangan, kita lihat juga saham CPO juga masih bagus ya,” ujarnya.
Sektor teknologi informasi dan telekomunikasi juga dinilai tetap memiliki prospek jangka panjang yang baik. Sektor kesehatan, perbankan, transportasi, hingga logistik dan pergudangan juga jadi sektor yang menarik untuk diperhatikan.
Lebih lanjut, dia juga menyoroti potensi sektor energi baru, khususnya emiten yang berkaitan dengan pengelolaan sampah menjadi sumber energi.
IHSG Masih Berpotensi Tertekan
Gunarto menilai tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut selama tensi geopolitik global tetap tinggi dan investor asing belum sepenuhnya yakin terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Terus juga investor global ataupun lembaga asing belum diyakinkan mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang solid. Saya rasa pasar kita masih akan terus under pressure,” ucap dia.
Karena itu, kata Gunarto, diperlukan upaya komunikasi yang lebih kuat kepada investor global untuk menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil.
Dalam kondisi pasar yang tak stabil, diversifikasi portofolio menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko investasi.
“Untuk diversifikasi portfolio itu penting, pasti kan selain kita harus diversifikasi sektoralnya untuk saham-sahamnya, kita juga perlu diversifikasi instrumen investasi juga,” kata Gunarto.
Investor, lanjutnya, juga bisa mempertimbangkan instrumen yang lebih stabil seperti surat utang negara jika menginginkan pendapatan rutin.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan IHSG masih memiliki peluang menguat dalam jangka menengah ke level 8.528, meskipun tetap dibayangi pelemahan.
“IHSG diperkirakan akan uji wave (X) di level 8.528 sebagai skenario positif pada 2026. Sementara itu, IHSG diperkirakan akan uji wave (iii) di level 6.898 sebagai skenario negatif pada 2026,” kata Nafan.
Nafan menyarankan investor tetap fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah, fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen resiko dengan disiplin.
Nafan menyebutkan, sejumlah saham pilihan untuk 2026 antara lain ADMR, ADRO, AKRA, ANTM, ARCI, AUTO, BBCA, BBNI, BBRI, BBTN, BMRI, BUMI, EXCL, HRUM, MDKA, PGAS, PWON, RALS, SILO, SMDR, TINS, ULTJ, dan UNTR.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.