
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) berhasil raih kinerja moncer sepanjang tahun 2025. Namun, risiko tekanan harga bahan baku membayangi prospek kinerja INDF untuk tahun ini.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, model bisnis terintegrasi vertikal INDF menjadi kunci, dengan kontribusi positif dari seluruh lini usaha termasuk segmen distribusi dan agribisnis yang menopang pertumbuhan penjualan 6,65% secara year on year (YoY) di 2025.
“Kuartal II – 2026 diproyeksikan solid didukung tiga katalis yakni segmen agribisnis yang diuntungkan implementasi B50, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang kembali ke momentum peluncuran produk baru, dan penurunan beban bunga yang memperkuat laba bersih,” ujar Abida kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Abida melihat, tiga tantangan utama yang perlu diwaspadai INDF. Antara lain, pelemahan rupiah yang menekan margin segmen ICBP mengingat sebagian bahan baku masih diimpor, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih yang membatasi pertumbuhan volume. Serta dinamika depresiasi nilai tukar rupiah yang berisiko menekan net profit margin INDF.
Kripto Naik, Ini Sinyal dan Strategi yang Perlu Dicermati Investor
Adapun sentimen positif yang perlu diperhatikan di antaranya implementasi B50 yang mendorong permintaan CPO dan menopang segmen agribisnis.
Potensi penurunan BI Rate yang mendorong konsumsi domestik, dan efisiensi biaya yang berlanjut. Sementara sentimen negatif yang perlu diwaspadai antara lain volatilitas rupiah dan perlambatan ekonomi global yang menekan ekspor ICBP.
“Serta tekanan harga komoditas input seperti gandum untuk Bogasari,” jelas Abida.
Di sisi lain, Putu Chantika Putri, Analis Ciptadana Sekuritas Asia bilang, produk bermerek konsumen atau consumer branded products (CBP) telah secara signifikan meningkatkan mesin inovasinya pada tahun fiskal 2025. Yakni dengan meluncurkan lebih dari 60 produk baru dan mengembalikan lini produknya ke tingkat pra-pandemi.
“Dorongan ini, yang mencakup kategori baru dan perluasan lini produk, telah membantu mempertahankan keterlibatan konsumen, yang diterjemahkan menjadi pertumbuhan penjualan sebesar 3,3% secara tahunan, sebagian besar didorong oleh volume,” ujar Putu dalam risetnya pada 13 April 2026.
Dari sisi biaya, tekanan input yang masih ada, telah menyebabkan manajemen mengadopsi sikap penetapan harga yang lebih terukur.
Tidak ada kenaikan harga jual rata – rata (average selling price/ASP) yang diterapkan pada awal tahun 2026, dibandingkan dengan kenaikan 3% – 4% yang terlihat pada tahun 2025 untuk mi instan. Hal ini mengingat kondisi permintaan yang masih lemah.
“Meskipun demikian, penetapan harga tetap menjadi pengungkit daripada kendala. Kenaikan ASP lebih lanjut pada kuartal ke-3–4 tahun 2026 tetap menjadi pilihan yang terlihat jika tekanan biaya terus berlanjut,” kata Putu.
IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Berpotensi Lanjutkan Fase Bearish
Lebih lanjut dari divisi agribisnis membukukan pertumbuhan pendapatan yang kuat sebesar 31,8% yoy pada 2025, didorong oleh harga jual rata-rata crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit yang lebih tinggi (naik 10,1% yoy) dan ekspansi volume.
Putu memperkirakan, lintasan ini akan berlanjut hingga 2026, didukung oleh harga CPO yang stabil yang selaras dengan tolok ukur global dan secara struktural didukung oleh mandat biofuel.
Namun, potensi kenaikan harga jual rata-rata kemungkinan akan dibatasi sebagian oleh bea ekspor Indonesia yang lebih tinggi (dinaikkan menjadi 12,5% pada Maret 2026), yang mendukung program biodiesel.
“Kami juga memperkirakan beberapa penurunan volume dalam jangka pendek karena faktor musiman yang membebani produksi tandan buah segar, sementara tekanan biaya dari pupuk kemungkinan akan tetap tinggi,” terang Putu.
Meskipun demikian, margin EBIT diperkirakan mencapai 20,4% pada 2026, dibandingkan 19,6% pada 2025). Ini didukung oleh harga CPO yang lebih tinggi.
Berdasarkan analisis Ciptadana Sekuritas Asia, asumsi harga minyak sawit global sekitar RM 4.500 per ton, mengingat permintaan yang didorong oleh kebijakan di seluruh Indonesia dan Malaysia.
INDF Chart by TradingView
Willy Goutama, Analis Maybank Sekuritas menilai posisi bisnis INDF yang besar dan terdepan di pasar akan memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari percepatan pertumbuhan pendapatan dan terus menawarkan imbal hasil dividen yang menarik.
Willy memperkirakan, prospek ketenagakerjaan yang lemah dan pertumbuhan pendapatan yang lambat di seluruh pasar target PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Ia telah menyesuaikan proyeksi penjualan ICBP turun 9% dan tepung terigu turun 1% pada tahun 2026 menjadi Rp 77,8 triliun dan Rp 33,2 triliun. Di sisi lain, karena harga CPO cenderung naik yakni 18% per 9 April 2026, Willy meningkatkan penjualan CPO INDF pada 2026 sebesar 39% menjadi Rp 23,6 triliun.
“Pada tahun fiskal 2026, prospek bisnis komoditas yang kuat akan mengimbangi kelemahan ICBP,” ujar Willy dalam risetnya pada 9 April 2026.
Rugi Fast Food (FAST) Menyusut 54,05% pada Tahun 2025, Intip Prospeknya ke Depan
Putu memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih INDF tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 131,79 triliun dan Rp 12,46 triliun. Adapun pada tahun 2025, INDF mengantongi pendapatan Rp 123,49 triliun dan laba bersih Rp 10,68 triliun.
Abida memproyeksikan earning per share (EPS) INDF tahun 2026 mencapai Rp 1.420, naik 16,7% yoy.
Putu, Willy, dan Abida merekomendasikan beli saham INDF dengan target harga masing – masing Rp 8.200 per saham, Rp 7.600 per saham, dan Rp 9.400 per saham.