
Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) meyakini kebijakan pembebasan bea masuk impor LPG menjadi 0% dapat membantu menstabilkan produksi industri plastik nasional sekaligus menjaga harga di pasar domestik. Kebijakan ini juga dinilai mampu mendorong tingkat utilisasi pabrik naik hingga 85%.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono mengatakan, LPG (liquefied petroleum gas) alias elpiji dapat menjadi bahan baku alternatif pengganti nafta yang selama ini banyak dipasok dari Timur Tengah.
Menurut dia, diversifikasi bahan baku dibutuhkan agar industri tidak bergantung pada satu sumber pasokan. “LPG ini bisa digunakan sebagai bahan baku alternatif pengganti nafta. Jadi kita butuh selain substitusi supplier, kita juga butuh substitusi barangnya,” ujar Fajar kepada Katadata.co.id, Jumat (1/5).
Ia menjelaskan, teknologi di dalam negeri saat ini sudah memungkinkan LPG diolah menjadi bahan baku plastik. Namun, pemanfaatannya sebelumnya terkendala tarif bea masuk impor.
Baca juga:
- Hari Buruh, Pegadaian Salurkan Bantuan untuk Masjid di NTB
- Donald Trump Sebut Perang dengan Iran telah Berakhir, Benarkah?
- Solar di SPBU Vivo Tembus Rp 30.890, Intip Daftar Harga BBM Mei 2026
Karena itu, pelaku industri telah mengusulkan kepada pemerintah agar tarif impor LPG untuk kebutuhan bahan baku diturunkan menjadi nol persen. Usulan itu, kata dia, telah disetujui dalam rapat koordinasi pemerintah dan kini tinggal menunggu aturan teknis dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian.
“Bea masuknya menjadi nol. Tinggal menunggu PMK (peraturan menteri keuangan) dari Kementerian Keuangan dan petunjuk teknis dari Kementerian Perindustrian,” tuturnya.
Fajar menuturkan, jika aturan tersebut segera terbit, industri bisa segera mengeksekusi impor LPG yang telah dibicarakan dengan para pemasok. Langkah ini diyakini akan meningkatkan utilisasi pabrik yang saat ini sekitar 75%.
“Dengan tambahan LPG ini nanti bisa menjadi 85% sampai kembali ke normal operasi, sehingga pasokan dalam negeri aman,” ujarnya.
Bisa Gantikan Nafta 40%
Menurut Fajar, penggunaan LPG berpotensi mensubstitusi kebutuhan nafta sekitar 30% hingga 40% dari total kebutuhan impor industri saat ini. Hal itu dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dari kawasan tertentu.
Adapun pasokan LPG yang tengah dibidik industri saat ini mayoritas berasal dari Amerika Serikat. Namun, pengadaan membutuhkan waktu karena proses pengiriman melalui kapal diperkirakan memakan waktu sekitar 50 hari.
“Paling cepat paling tidak 50 hari dari sekarang. Kami kejar supaya saat LPG datang bisa nyambung dengan kondisi operasi kami,” katanya.
Selain mendukung produksi, Inaplas menilai kebijakan pembebasan bea masuk LPG juga berpotensi menjaga stabilitas harga plastik di pasar domestik.
Fajar mengatakan harga global mulai menunjukkan tren penurunan. Sementara di Indonesia harga sudah mulai tertahan dan tidak lagi mengalami kenaikan.
“Di Indonesia sendiri minggu-minggu ini sudah mulai bertahan, tidak ada kenaikan,” ujarnya.
Kendati demikian, ia mengingatkan pelaku usaha agar tetap cermat membaca momentum pasar dan tidak berlebihan melakukan pembelian bahan baku hanya karena adanya insentif tarif nol persen.
Menurutnya, harga tetap ditentukan mekanisme supply-demand, bukan semata-mata kebijakan tarif. Namun dari sisi ketersediaan barang, LPG nol persen diyakini membuat pasokan bahan baku lebih aman dan lebih banyak.
“Kalau concern-nya terhadap ketersediaan barang, harusnya dengan adanya LPG 0%, ketersediaan barang jauh lebih aman dan jauh lebih banyak,” kata Fajar.