
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,25% berpotensi menahan laju ekspansi usaha di dalam negeri.
Pasalnya, transmisi kenaikan suku bunga akan langsung tercermin pada biaya kredit, baik untuk pengajuan pinjaman baru maupun kredit existing yang bersifat floating rate.
“Ini pasti terkena dampak langsung. Jadi secara praktis dari sisi ekspansi bisnis agak tertahan, walaupun ada insentif makroprudensial atau keterbukaan dari suku bunga dasar kredit, tapi pada dasarnya kenaikan BI rate ini akan memicu kenaikan ongkos bunga di sistem keuangan,” ujar Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).
Ia menambahkan, jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang dengan asumsi nilai tukar rupiah bertahan di atas level Rp 17.500 per dolar AS, maka laju pertumbuhan ekonomi berpotensi tidak bisa terlalu agresif. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah pada kredit perbankan yang sebelumnya diharapkan mampu tumbuh dua digit.
OJK Catat Rasio Klaim Lini Asuransi Kredit Membaik Jadi 97% per Maret 2026
“Kalau rupiah terus di atas Rp 17.500, sebenarnya membuat perkembangan ekonomi kita agak berat untuk agresif, terutama dari sisi pertumbuhan kredit yang tadinya diharapkan bisa double digit, tapi kelihatannya agak sulit,” katanya.
Myrdal juga memaparkan tiga skenario arah BI Rate ke depan yang sangat bergantung pada pergerakan rupiah. Pertama, BI Rate diperkirakan bertahan di level 5,25% apabila rupiah bergerak di kisaran Rp 17.400–Rp 17.799 per dolar AS.
Kedua, apabila rupiah menembus di atas Rp 17.800, terdapat kemungkinan BI Rate kembali dinaikkan oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ekspektasi pasar.
Ketiga, penurunan BI Rate baru berpeluang terjadi jika rupiah menguat ke kisaran Rp 17.000. Dalam kondisi tersebut, BI Rate bisa turun ke 5%.
Lebih lanjut, jika rupiah menguat ke level Rp 16.750, suku bunga acuan berpotensi turun ke 4,75%, dan apabila menguat lebih jauh ke kisaran Rp16.300–Rp 16.400, BI Rate dapat turun hingga 4,5%.
“Jadi ada beberapa skenario yang dihadapi. Semua tergantung dari tekanan imported inflation, perilaku pelaku pasar, dan persepsi global yang akhirnya mempengaruhi nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Myrdal menilai tekanan inflasi domestik saat ini relatif terkendali selama harga bahan bakar minyak (BBM) dan energi tetap dijaga stabil. Dengan demikian, lonjakan inflasi dinilai tidak akan terlalu signifikan.
Namun, faktor eksternal seperti harga minyak dunia tetap menjadi variabel penting. Saat ini, harga minyak yang berada di atas US$108 per barel disebut masih memberikan tekanan pada pasar keuangan dan nilai tukar.
Jika harga minyak kembali turun ke kisaran US$70–US$80 per barel, rupiah berpotensi menguat kembali seiring menurunnya risiko global, yang pada akhirnya membuka ruang penurunan BI Rate.
BI Rate Naik Jadi 5,25%, Bank Diprediksi Makin Selektif Salurkan Kredit
Sebaliknya, jika harga minyak menanjak hingga di atas US$ 128 per barel dalam jangka panjang, tekanan terhadap rupiah akan meningkat dan dapat mendorong BI Rate kembali naik. Bahkan, rupiah berisiko melemah hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS.
“Kalau tekanan global makin kencang, harga minyak tinggi terus, rupiah bisa ikut tertekan. Itu yang akhirnya mempengaruhi arah BI rate ke depan,” pungkas Myrdal.