
Jakarta — Di tengah dinamika global dan perubahan rantai pasok internasional, sektor logistik Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, khususnya dalam menekan biaya logistik nasional agar lebih kompetitif.
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan ALFI CONVEX 2026 sebagai langkah strategis dalam mendorong transformasi sektor logistik nasional.
Baca juga:
- ALFI Convex Bahas Digitalisasi Logistik untuk Tingkatkan Konektivitas
- Biaya Logistik Naik Tajam Imbas Perang Iran–AS, Mendag akan Temui Eksportir
Saat ini, biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran sekitar 14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang terus didorong pemerintah untuk turun secara bertahap guna meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi nasional. Selain faktor domestik, tekanan eksternal seperti ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, serta pergeseran pola perdagangan global turut menuntut sistem logistik nasional yang lebih adaptif, terintegrasi, dan efisien.
Dan, keterlibatan pemerintah di forum seperti ini adalah bagian dari komitmen untuk memastikan arah kebijakan dan kebutuhan industri logistik berjalan beriringan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa sektor logistik memegang peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi, memperkuat konektivitas, serta meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
“Pemerintah memandang sektor logistik sebagai pilar strategis dalam menjaga kelancaran distribusi, memperkuat konektivitas, dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Penguatan sistem logistik yang terintegrasi dan berdaya tahan menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional,” ujarnya.
“Dan ALFI CONVEX diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, serta mendorong inovasi dan implementasi penguatan logistik nasional,” tambah dia.
ALFI CONVEX 2026 yang mengusung tema ‘Indonesia in Motion: Empowering a Resilient Logistics Ecosystem” ini akan diselenggarakan pada 28-30 Oktober 2026 di Hall A1, A2, dan A3 JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Kegiatan tersebut akan menghadirkan lebih dari 300 perusahaan dari sektor logistik, pelabuhan, transportasi multimoda, pergudangan, serta penyedia solusi teknologi rantai pasok. Selain itu, lebih dari 80 pembicara nasional dan internasional dijadwalkan hadir, dengan target lebih dari 10.000 pengunjung dari kalangan profesional, pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan.
Berbagai isu strategis akan menjadi fokus pembahasan, mulai dari penguatan konektivitas multimoda, digitalisasi sistem logistik, efisiensi rantai pasok, hingga penguatan resiliensi sektor logistik dalam menghadapi dinamika global. Melalui ALFI CONVEX 2026, ALFI ingin membuka ruang diskusi yang lebih konkret antara pemerintah dan pelaku usaha, khususnya dalam menjawab tantangan efisiensi dan integrasi sistem logistik nasional.
Peluncuran Platform
Sejalan dengan hal tersebut, Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) yang didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian secara resmi meluncurkan ALFI CONVEX 2026 sebagai platform kolaborasi lintas sektor yang dirancang untuk menjawab berbagai tantangan logistik tersebut.
Ketua Umum DPP ALFI, M. Akbar Djohan, menyampaikan bahwa dukungan pemerintah, khususnya Kemenko Perekonomian, menjadi kunci dalam mendorong transformasi sektor logistik secara menyeluruh.
“Kami kembali mengharapkan dukungan dan komitmen dari Bapak Menko beserta jajaran Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mendorong penurunan biaya logistik nasional, dari kisaran 14% menuju 10% dalam satu hingga dua tahun ke depan, dan secara bertahap menjadi single digit dalam beberapa tahun berikutnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa target tersebut menjadi tantangan bersama bagi seluruh ekosistem logistik nasional. Peran Kemenko Perekonomian dinilai sangat strategis dalam mengorkestrasi berbagai kementerian dan lembaga, mengingat sektor logistik merupakan industri yang bersifat multi stakeholder, lintas sektor, serta melibatkan berbagai kebijakan dan regulasi.