
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Harga emas menutup pekan dengan pergerakan yang berfluktuasi di tengah tarik-menarik sentimen pasar.
Permintaan aset safe haven akibat memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah berulang kali tertahan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), serta kekhawatiran inflasi yang dipicu konflik AS-Iran.
Melansir Kitco News, Sabtu (30/5/2026), harga emas spot memulai perdagangan pekan ini pada level US$4.508,30 per troy ounce dan menguat seiring respons pelaku pasar terhadap ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung. Logam mulia tersebut sempat menguji area resistensi di sekitar US$4.580 per troy ounce.
: Harga Buyback Emas Antam Naik 9,27% hingga Hari Ini Jumat (29/5)
Reli harga bertahan hingga Senin (25/5), tetapi mulai kehilangan momentum pada Selasa. Penguatan dolar AS dan fokus pasar terhadap data inflasi utama AS yang dijadwalkan rilis pada pekan ini membuat emas gagal melanjutkan kenaikannya.
Tekanan jual semakin kuat pada pertengahan pekan setelah serangan baru AS ke Iran mendorong kenaikan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi baru, serta mengurangi harapan tercapainya gencatan senjata yang berkelanjutan.
: : Harga Emas Antam Logam Mulia Jumat 29 Mei 2026, Ini Daftar Lengkapnya
Harga emas menembus level US$4.500 per troy ounce pada Rabu (27/5) sebelum kembali merosot pada Kamis ketika investor bersiap menghadapi rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) April dan revisi produk domestik bruto (PDB) kuartal I/2026 AS.
Emas spot akhirnya mencatat titik terendah mingguan di US$4.365,85 per troy ounce sesaat setelah tengah malam pada Kamis.
Namun, logam mulia tersebut mulai pulih pada akhir perdagangan Kamis dan memperpanjang penguatannya pada Jumat. Sentimen positif muncul setelah laporan mengenai kemajuan menuju potensi kesepakatan antara AS dan Iran membantu menurunkan harga minyak serta meredakan sebagian kekhawatiran inflasi yang membayangi pasar sepanjang pekan.
Penurunan imbal hasil Treasury juga turut menopang kenaikan harga emas. Logam mulia itu sempat menyentuh level tertinggi mingguan di US$4.594,92 per troy ounce pada Jumat sebelum kembali kehilangan momentum. Pada akhir pekan, emas spot ditutup di level US$4.539,03 per troy ounce.
Survei mingguan Kitco News terbaru menunjukkan pelaku pasar di Wall Street kembali optimistis terhadap prospek jangka pendek emas. Sebaliknya, sentimen investor ritel atau Main Street bergeser ke wilayah bearish meskipun harga emas berhasil pulih menjelang akhir pekan.
Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan harga emas pulih pada Kamis bersamaan dengan aset berisiko lainnya karena meningkatnya harapan terhadap perpanjangan gencatan senjata di Timur Tengah.
“Emas pulih pada Kamis bersamaan dengan aset-aset berisiko di tengah harapan akan diperpanjangnya gencatan senjata di Timur Tengah,” kata Chandler, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, emas sempat diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam dua tahun sebelum kembali pulih dan melanjutkan penguatannya menjelang akhir pekan. Logam mulia itu bahkan mencapai level tertinggi dalam tiga hari di atas US$4.543 per troy ounce.
Chandler menjelaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata dipandang positif bagi emas karena mengurangi potensi kebutuhan likuiditas dari negara-negara pengekspor minyak maupun negara importir minyak tertentu.
“Perpanjangan gencatan senjata dipahami sebagai sentimen positif bagi emas karena menghilangkan salah satu potensi sumber likuidasi, yakni negara-negara pengekspor minyak, serta mengurangi kebutuhan likuiditas dari sebagian negara pengimpor minyak,” ujarnya.
Dia menambahkan jika emas melampaui level US$4.585 per troy ounce, prospek teknikal emas akan diperkuat.
Sementara itu, Senior Market Strategist StoneX Bob Haberkorn tetap mempertahankan pandangan optimistis terhadap prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang.
“Saya masih sangat bullish terhadap emas,” ujarnya.
Haberkorn mengakui sempat muncul kekhawatiran bahwa sejumlah bank sentral menjual cadangan emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, termasuk Turki dan Rusia. Meski demikian, dia menilai harga emas dan perak masih memiliki fondasi yang kuat.
“Untuk saat ini, emas dan perak kemungkinan akan bergerak mendatar hingga cenderung melemah. Namun, yang menarik adalah keduanya tetap mendapat dukungan kuat. Harganya memang turun ke level tertentu, tetapi tetap mampu bertahan di atas level tersebut,” katanya.
Haberkorn menilai tanggal 17 Juni akan menjadi momen penting bagi pasar emas maupun pasar keuangan secara keseluruhan.
“Saya ingin melihat hasil pertemuan pertama The Fed di bawah Warsh untuk mengetahui nada kebijakan yang akan diambil. Apakah mereka akan bersikap dovish atau hawkish terhadap suku bunga?” ujarnya.
Menurutnya, secara historis suku bunga seharusnya naik dalam kondisi saat ini guna memerangi inflasi. Namun, tingginya beban pembayaran utang pemerintah membuat ruang untuk menaikkan suku bunga menjadi terbatas.
“Menaikkan suku bunga akan memberikan tekanan besar terhadap berbagai sektor. Mungkin langkah itu membantu mengendalikan inflasi dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang saya pikir justru dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar,” katanya.
Haberkorn juga menilai ada kemungkinan The Fed mengambil pendekatan yang lebih longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Saya bertanya-tanya apakah Warsh akan bersikap hati-hati dan menyampaikan hal tersebut secara tidak langsung. Dia memang pilihan Trump, dan pekan lalu Trump berbicara tentang suku bunga yang seharusnya jauh lebih rendah dari level saat ini,” ujarnya.
Menurut Haberkorn, kondisi utang pemerintah membuat The Fed cenderung enggan menaikkan suku bunga dan berpotensi memilih pendekatan pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE).
“Pada 17 Juni nanti kita akan memperoleh lebih banyak informasi mengenai posisi Warsh dan arah kebijakan The Fed di bawah ketua yang baru,” katanya.