
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid menilai suku bunga AS perlu dipertahankan pada level yang masih menekan ekonomi guna memastikan inflasi terus melandai.
“Dengan tekanan inflasi yang masih terlihat, preferensi saya adalah mempertahankan kebijakan moneter dalam posisi agak ketat,” ujar Schmid dalam pernyataan tertulis yang disiapkan untuk sebuah acara di Kansas City sebagaimana dilansir dari Bloomberg, Jumat (16/1/2026).
Dia menambahkan, meskipun pasar tenaga kerja telah menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, proses pendinginan tersebut masih diperlukan untuk mencegah prospek inflasi kembali memburuk.
: Upaya Pemidanaan Powell Tuai Kecaman, Independensi The Fed Disorot
“Meski pasar tenaga kerja telah mendingin, sebagian pelonggaran itu kemungkinan memang dibutuhkan agar tekanan inflasi tidak kembali meningkat,” katanya.
Para pembuat kebijakan The Fed memangkas suku bunga pada tiga pertemuan terakhir sepanjang akhir 2025. Namun, Schmid menyatakan dissent atau berbeda pendapat terhadap dua pemangkasan terakhir pada Oktober dan Desember, dengan alasan pertumbuhan ekonomi yang masih kuat berpotensi kembali mendorong inflasi.
: : Pejabat The Fed: Posisi Suku Bunga Saat Ini Sudah Tepat untuk Jaga Inflasi AS
The Fed secara luas diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya ketika para pejabat kembali bertemu pada akhir bulan ini. Pelaku pasar juga umumnya tidak melihat adanya pemangkasan lanjutan hingga pertengahan tahun.
Saat ini, suku bunga acuan federal funds berada di kisaran 3,5%—3,75%, yang dinilai berada di atau mendekati level netral, yakni tidak menahan maupun mendorong pertumbuhan ekonomi.
: : Konflik Trump Vs Powell Kian Panas, Bos The Fed ungkap Ancaman Pidana
Schmid kembali menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut kecil kemungkinannya dapat mendorong perekrutan tenaga kerja, yang sepanjang 2025 tergolong lemah. Dia menilai perlambatan tersebut lebih disebabkan oleh faktor struktural, sementara bank sentral lebih efektif berperan dalam menghadapi pelemahan ekonomi yang bersifat siklikal.
Dia mengatakan, pemangkasan suku bunga tambahan tidak akan banyak membantu menutup celah di pasar tenaga kerja. Menurutnya, tekanan di pasar tenaga kerja kemungkinan besar berasal dari perubahan struktural dalam teknologi dan kebijakan imigrasi.
“Saya khawatir pemangkasan suku bunga justru dapat berdampak lebih panjang terhadap inflasi, seiring komitmen kami terhadap target 2% semakin dipertanyakan,” katanya.
Selain itu, Schmid juga menyinggung independensi The Fed dan struktur federalnya, yang melibatkan pejabat di Washington serta 12 bank sentral regional di berbagai wilayah AS.
Dalam beberapa waktu terakhir, The Fed berada di bawah sorotan pemerintahan Presiden Donald Trump, dengan sejumlah pejabat mendorong peninjauan ulang terhadap beberapa aspek sistem bank sentral regional tersebut.
“The Fed yang terdesentralisasi juga memungkinkan adanya perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan moneter yang tepat. Ini justru menjadi kekuatan sistem. Diskusi kebijakan akan lebih solid ketika mencakup keberagaman pandangan,” ujar Schmid.