IHSG sesi I turun 4,32%, semua indeks sektoral kompak merah

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang hari ini bergerak di zona merah. Sejalan dengan hal itu, indeks saham sektoral semuanya juga terkoreksi di perdagangan sesi I hari ini, Rabu (4/3/2026).

Melansir IDX Mobile, IHSG melemah 4,32% ke 7.596. Hanya 68 saham yang menguat, sedangkan 748 saham melemah dan 142 saham tak berubah. Kapitalisasi pasar IHSG susut menjadi Rp13.544 triliun. 

Saham-saham big caps penggerat utama bobot indeks kompak melemah. Saham PT Bariro Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 5,94% ke Rp7.125, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 1,77% ke Rp6.950, dan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) melemah 2,93% ke Rp76.200.

: IHSG Tersungkur 4,32% Sesi I, Dihantam Perang AS-Iran dan Kejutan Transparansi Saham?

Berikutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turun 1,59% ke Rp3.710, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) turun 7,73% ke Rp5.375, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) koreksi 2,75% ke Rp4.960, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) terpangkas 10,26% ke Rp6.125, sampai saham PT Telkok Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang susut 7,83% ke Rp3.180.

Sementara menilik gerak indeks saham sektoral, saham energi (IDXENERGY) sampai sesi I perdagangan turun 4,82%, saham sektor konsumer non siklikal (IDXNONCYC) turun 3,62%, saham sektor konsumer siklikal (IDXCYCLIC) turun 5,60%, saham sektor finansial (IDXFINANCE) turun 2,97%, dan saham sektor infrastruktur (IDXINFRA) turun 5,07%.

: : Hati-hati Volatilitas IHSG Jangka Pendek Saat Penyesuaian Free Float 15%,

Berikutnya, saham sektor properti (IDXPROPERT) turun 3,34%, saham sektor basic materials (IDXBASIC) turun 8,03%, saham transportasi (IDXTRANS) turun 6,80%, saham industri (IDXINDUST) turun 4,46%, saham teknologi (IDXTECHNO) turun 2,60%, dan saham sektor kesehatan (IDXHEALTH) yang melemah 2,22%.

Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai kondisi pasar akan tergantung oleh fluktuasi harga minyak global yang bergejolak seiring memanasnya tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Selama harga minyak masih di bawah US$90 per barel, dampaknya ke pasar biasanya masih berupa volatilitas sentimen. 

: : BEI Ungkap Penyebab IHSG Turun hingga 4% Saat Sesi I Hari Ini (4/3)

“Namun, jika Brent menembus US$100 disertai gangguan distribusi fisik, risiko bisa berubah menjadi shock energi yang berpotensi menekan inflasi, rupiah, dan IHSG secara lebih luas,” tulis riset tersebut, Rabu (4/3/2026).

Sekuritas menyebut, terdapat beberapa kondisi yang perlu dipantau pelaku pasar, yaitu semakin harga minyak dunia mendekati US$100 per barel, biasanya mulai berdampak nyata pada inflasi energi global dan tekanan fiskal negara importir.

Kedua adalah fenomena contango yang beralih ke backwardation. Contango adalah kondisi harga minyak untuk kontrak masa depan lebih mahal dari sekarang, berarti pasokan minyak cukup atau berlebih. Sebaliknya, backwardation adalah kondisi harga sekarang lebih mahal dari harga kontrak masa depan, menjadi sinyal pasokan minyak mulai terbatas.

Berikutnya, ada risiko potensi lonjakan biaya asuransi tanker di Teluk Persia atau Selat Hormuz sering menjadi indikator awal gangguan distribusi minyak. Lalu, ada pula potensi pelemahan rupiah karena biaya impor naik dan Indonesia merupakan net importir minyak. Terakhir adalah sinyal suplai fisik berupa penutupan jalur pelayaran, tanker minyak menunda pelayaran, atau panic buying negara importir pertanda supply tightening.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.