
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi tidak hanya berdampak pada biaya hidup masyarakat kelas menengah, namun juga berpotensi menekan kinerja emiten di pasar modal.
Sejumlah sektor seperti ritel dan konsumer diproyeksikan bisa tertekan, sementara emiten energi justru berada di jalur penguatan lantaran kenaikan harga komoditas global.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai kenaikan harga BBM bisa menekan emiten yang memiliki struktur biaya (cost structure) tinggi pada konsumsi energi dan distribusi.
Biaya logistik yang meningkat akan menggerus margin laba dalam jangka pendek, terutama bagi sektor manufaktur dan konsumer yang bergantung pada jaringan distribusi luas.
“Untuk saham dengan cost structure konsumsi energi dan biaya logistik yang tinggi, tentunya akan menekan margin pada jangka pendek,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Industri Reksadana Tumbuh, APRDI Dorong Literasi Lewat Sosialisasi dan Edukasi 2026
Meski demikian, produsen dengan kekuatan merek yang kuat tetap memiliki ruang untuk menjaga kinerja di tengah tekanan biaya.
Emiten seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), yang produknya telah menjadi top of mind di segmen mi instan, dinilai memiliki pricing power yang cukup solid di pasar domestik.
Menurutnya, selama arus kas (cash flow) perusahaan tetap kuat, tekanan margin dalam jangka pendek tidak serta-merta menjadi risiko struktural.
Dalam jangka panjang, kondisi itu justru berpotensi menciptakan pertumbuhan yang bersifat inflasioner.
“Namun produsen tetap memiliki pricing power seperti ICBP yang menjadi top of mind produk mi instan, selama cash flow-nya kuat, maka secara jangka panjang akan terjadi pertumbuhan inflasioner karena saat harga raw material turun, selling price produk tetap di harga yang sama dan menambah margin pada masa mendatang,” paparnya.
Sebaliknya, kenaikan harga BBM non-subsidi lebih terasa pada emiten ritel, terutama yang memiliki struktur biaya padat modal.
Kenaikan biaya operasional, mulai dari distribusi hingga utilitas, membuat ruang margin menjadi lebih sempit dalam jangka pendek, sementara kemampuan untuk langsung menaikkan harga jual relatif terbatas karena sensitif terhadap daya beli masyarakat.
“Tentunya ini akan menekan emiten ritel yang cost structure-nya padat modal, bagi sektor konsumer, selama produknya masih bisa diserap masyarakat, maka penurunan margin hanya bersifat jangka pendek dan berpotensi menjadi pertumbuhan inflasioner pada jangka panjang,” beber Faris
Untuk diketahui, mayoritas indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona merah saat penutupan sesi pertama perdagangan Senin ini.
Pelemahan terlihat pada sektor kesehatan yang turun 1,08 persen, diikuti sektor keuangan yang terkoreksi 0,88 persen serta energi yang melemah 0,71 persen.
Pertamina Geothermal (PGEO) Eksekusi PLTP Lumut Balai 4, Simak Rekomendasi Sahamnya
Sektor teknologi dan properti juga mengalami tekanan masing-masing sebesar 0,54 persen dan 0,74 persen.
Sementara itu, sektor non-siklikal turun 0,63 persen.
Di tengah dominasi pelemahan tersebut, hanya beberapa sektor yang mampu bertahan di zona hijau, seperti sektor industrial yang naik 0,28 persen dan sektor siklikal yang menguat 0,33 persen.
Adapun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi satu ditutup melemah tipis ke level 7.621,58 atau turun 0,16 persen.
Emiten Energi Diuntungkan
Ketika kenaikan harga BBM non-subsidi, sektor energi berada dalam posisi yang relatif diuntungkan, terutama bagi emiten berbasis komoditas seperti minyak dan gas.
Kenaikan harga energi global akan langsung tecermin pada harga jual produk, sehingga memberikan dorongan terhadap pendapatan dan potensi margin.
Dalam konteks ini, sentimen pasar terhadap saham-saham energi cenderung positif karena adanya ekspektasi peningkatan kinerja seiring naiknya harga komoditas.
Namun demikian, peningkatan profitabilitas tidak sepenuhnya linier.
Risiko tetap muncul dari sisi permintaan, khususnya di pasar domestik, di mana kenaikan harga energi dapat menekan konsumsi.
Faris menyebut, selama harga minyak global masih berada di bawah kisaran 90 dollar AS per barrel hingga 100 dollar AS per barrel, pasar masih mampu menyerap pasokan meskipun dalam kondisi harga yang relatif tinggi.
Artinya, demand belum mengalami kontraksi signifikan yang dapat mengganggu keseimbangan pasar
Situasi itu memberikan ruang bagi emiten produsen minyak dan gas untuk mempertahankan tren kenaikan harga jual produknya.
Dengan demand yang masih terjaga, kenaikan
“Tentunya selama harga minyak tidak berada di atas 90-100 dollar AS per barrel, meskipun harganya tinggi pasar masih bisa menyerap supply tersebut meskipun harganya mahal. Dari sisi emiten produsen migas, hal ini akan membuat selling price produk akan tetap naik,” tukas Faris.
Adapun, saham-saham seperti PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) dinilai perlu dicermati investor ritel karena memiliki eksposur kuat terhadap sektor migas dan batubara.
IHSG Melemah 0,52% ke 7.594 pada Senin (20/4), AMRT, SCMA, BRPT Jadi Top Losers LQ45
Lebih jauh, ia mencatat penguatan IHSG ditopang oleh sektor energi, khususnya emiten berbasis migas dan batu bara yang mendapatkan dorongan langsung dari kenaikan harga komoditas global.
Kenaikan ini menciptakan arus masuk dana ke saham-saham energi sehingga menjadi motor utama pemulihan indeks, bahkan ketika sektor lain belum menunjukkan kinerja yang solid.
Di sisi lain, sektor properti masih menghadapi tantangan struktural berupa lemahnya daya beli masyarakat.
Tingkat suku bunga yang relatif tinggi serta tekanan inflasi membuat keputusan pembelian aset properti cenderung tertunda, sehingga penjualan dan kinerja emiten di sektor ini belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, sektor konsumer juga masih berada dalam fase penyesuaian, tecermin dari fenomena down trading, di mana masyarakat cenderung beralih ke produk dengan harga yang lebih terjangkau.
Kondisi ini menahan pertumbuhan pendapatan emiten konsumer, terutama di segmen menengah ke atas, sehingga kinerja sektor ini belum mampu menjadi penopang utama IHSG seperti halnya sektor energi.
“Jika kita lihat dari lowest (ditarik dari titik terendah) di 6.917, IHSG memang ditopang oleh sektor energi dan terkonsentrasi pada sektor migas dan batu bara seiring naiknya komoditas. Sedangkan sektor properti masih menghadapi fenomena lemahnya purchasing power, dan konsumer masih berkutat dengan down trading,” lanjut Faris.