
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Pasar saham dan pasar uang Indonesia pada awal 2026 bergerak ke kutub yang berbeda. IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, sedangkan rupiah terus terdepresiasi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 0,94% ke posisi 9.032,58 pada akhir perdagangan Rabu (14/1/2026). Posisi penutupan ini sekaligus menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all time high (ATH) memecahkan rekor sebelumnya 8.948,30 pada Selasa (13/1/2026).
Di level itu, IHSG sudah menguat 4,46% secara year-to-date (YtD). Pada periode yang sama, investor asing membukukan akumulasi net buy atau beli bersih sebesar Rp6,35 triliun.
Kinerja ciamik IHSG berbanding terbalik dengan pergerakan rupiah. Melansir data Bloomberg, rupiah naik tipis 0,07% atau 12 poin ke Rp16.865 per dolar AS pada perdagangan kemarin. Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,01% ke 99,14.
Di level itu, rupiah hanya berjarak 0,5% dibandingkan dengan rekor terendah yang disentuh pada April 2025.
Meski tipis, apresiasi rupiah itu mematahkan tren pelemahan beruntun yang terjadi dalam 8 hari terakhir. Fase itu merupakan depresiasi beruntun rupiah terpanjang sejak 2020. Alhasil, secara YtD, rupiah tercatat melemah 1,11% terhadap dolar AS.
: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026
Melansir Bloomberg, Direktur Eksekutif Bank Indonesia Erwin Hutapea mengatakan Bank Indonesia akan terus ada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sejalan dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalisasi instrumen kebijakan moneter yang pro-market untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan memastikan kecukupan likuiditas,” kata Erwin.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan pasar menaruh fokus pada risiko geopolitik global. Selain itu, pasar saat ini juga khawatir atas independensi The Fed setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pasar akan berekspektasi pada target pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun ini. Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis mencapai 6%.
Di sisi lain, defisit pemerintah ditargetkan turun ke 2,7% terhadap PDB.
“Meskipun demikian, para ekonom memiliki pandangan defisit akan di atas dari apa yang ditargetkan pemerintah. Untuk hasil yang irealistis, dengan defisit 2,8%-3,0% dari PDB, karena pertumbuhan pendapatan mungkin akan melambat dan reformasi pengeluaran terus berlanjut,” jelas Ibrahim.
Atas pertimbangan sejumlah sentimen di pasar keuangan itu, Ibrahim meramal rupiah pada perdagangan Kamis (15/1/2025) akan bergerak fluktuatif dan akan ditutup melemah di rentang Rp16.860 sampai Rp16.890 per dolar AS.
U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView
Terkait dengan prospek IHSG, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif. Indeks komposit ditargetkan menuju level 10.500 pada akhir tahun ini didukung oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, menyampaikan bahwa IHSG menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya. Pada Januari, IHSG bahkan mencatatkan rekor tertinggi dengan penutupan di level 8.944,8 pada Rabu (7/1/2026).
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ujar Rully.
Dari global, sentimen risk-off mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah. Rupiah bahkan pertama kalinya ditutup di atas level 16.800 per dolar AS sejak April 2025.
Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi rupiah menyebabkan Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelas Rully.
: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026
Dalam jangka menengah, Rully memperkirakan ekonomi Indonesia akan meningkat menjadi 5,3% pada 2026, dibandingkan dengan realisasi 5,1% pada 2025. Momentum ini akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” tambahnya.
Dalam jangka panjang, lanjut Rully, konsistensi kebijakan dan kepastian arah ekonomi akan memperkuat kepercayaan investor. Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, dengan potensi berlanjut seiring penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG, didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan,” tutup Rully.
Dengan kombinasi tren pasar yang positif, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta potensi keselarasan kebijakan moneter dan fiskal, Mirae Asset tetap bullish dan optimistis terhadap kinerja pasar saham Indonesia sepanjang 2026.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Terpisah, OCBC Sekuritas memperkirakan IHSG pada 2026 dipatok pada level 9.500 untuk skenario dasar, dengan potensi menguat hingga level 9.700 pada skenario optimistis.
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Farell Nathanael mengatakan sejumlah sektor seperti perbankan diuntungkan dengan menguatnya sinergi kebijakan antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah untuk mempercepat penyaluran kredit sekaligus menopang ekspansi ekonomi yang berkelanjutan.
Dia menyebut di tengah tren penurunan suku bunga acuan dan persaingan yang semakin ketat, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan akan menghadapi tekanan akibat penurunan imbal hasil kredit.
Namun, lanjutnya, tekanan tersebut dinilai dapat diredam oleh penurunan cost of fund yang ditopang oleh perbaikan likuiditas, baik melalui injeksi likuiditas pemerintah, kebijakan moneter yang lebih longgar, maupun penurunan imbal hasil obligasi pemerintah.
Selain itu, insentif likuiditas makroprudensial dari BI diharapkan mampu mempercepat transmisi penurunan BI Rate ke suku bunga kredit.
Alhasil, sejumlah saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) hingga PT Bank Negera Indonesia Tbk. (BBNI) dinilai masih mampu memberikan imbal hasil yang kompetitif.
“Prospek sektor perbankan, khususnya saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, juga dinilai menarik seiring valuasi yang relatif murah serta imbal hasil dividen yang kompetitif, terutama dari bank-bank BUMN,” ujarnya kepada Bisnis dikutip, Rabu (14/1/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.