
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Tekanan yang cukup dalam kembali terjadi di pasar kripto pada awal tahun ini. Kondisi ini dinilai masih akan berlanjut seiring minimnya katalis positif dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi likuiditas global.
Pada Jumat (6/2/2026) pukul 16.00 WIB, harga Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 8,4% dalam satu hari dan 30% secara bulanan ke level US$ 64.689.
Tak hanya itu, aset kripto lain seperti Ethereum (ETH) juga sama-sama rontok hingga 11% sehari dan 42,3% sebulan terakhir menjadi US$ 1.879.
Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menilai volatilitas tinggi yang terjadi saat ini dipicu oleh kombinasi faktor dan sentimen global.
Pasar Kripto Rontok, Analis Sebut Pasar Kripto Masuk Fase Kapitulasi
Salah satunya adalah minimnya katalis positif di pasar, ditambah penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed mendatang yang dipersepsikan pasar lebih hawkish.
Selain itu, tekanan juga datang dari aksi jual institusi, termasuk oleh perusahaan mining milik BUMN Bhutan.
Adapun pasar turut merespons negatif pengumuman kerugian belum terealisasi (underwater loss) yang dialami Strategy hingga mencapai US$ 7,8 miliar, yang dikhawatirkan dapat memicu margin call maupun aksi jual paksa (forced sell).
Ke depan, Christopher memperkirakan fase koreksi berpotensi berlangsung cukup panjang.
“Koreksi tersebut dapat berlanjut lama. Dan diperkirakan hingga kuartal III sampai kuartal IV tahun ini,” ujar Christopher kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Adapun menurut Chris, jika terjadi penguatan kemungkinan besar hanya bersifat jangka pendek dan belum mengindikasikan pembalikan tren.
Pemangkasan Biaya Transaksi Bursa Bisa Tekan Capital Outflow Kripto
Dalam situasi pasar yang masih fluktuatif, Christopher menyarankan investor untuk bersikap lebih defensif.
Investor jangka panjang masih dapat mempertimbangkan strategi dollar cost averaging (DCA), sementara pelaku trading sebaiknya mengikuti tren utama pasar dan memperketat manajemen risiko.
Dengan kondisi tersebut, Christopher pun memperkirakan Bitcoin berada di kisaran US$ 50.000 pada semester I 2026. Sementara Ethereum diproyeksikan bergerak di area US$ 1.500.
“Tapi melihat kondisi saat ini, ada potensi BTC turun ke bawah US$ 50.000 dan ETH juga dapat turun ke bawah US$ 1.500,” pungkasnya.