
Google buka suara terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau Kemendikbudristek periode 2019-2022.
Perusahaan asal Amerika Serikat itu memastikan tidak memproduksi atau menjual Chromebook secara langsung kepada pelanggan akhir. “Kami juga tidak menentukan harga,” kata Google dalam blog resmi, Sabtu (10/1).
Google menjelaskan peran perusahaan secara tegas terbatas pada pengembangan dan pemberian lisensi sistem operasi atau OS Chrome dan alat pengelolaan kepada para mitra.
Proses pengadaan dikelola sepenuhnya oleh produsen peralatan asli alias Original Equipment Manufacturers (OEM) yang independen dan para mitra lokal.
Ekosistem itu memastikan bahwa Kementerian Pendidikan menjaga kendali penuh dan transparansi atas pengadaan perangkat keras yang kompetitif dari pemasok lokal.
Ketika para OEM independen dan mitra lokal mengelola pengadaan perangkat keras untuk memastikan proses yang kompetitif, Google menyediakan lisensi Chrome Education Upgrade (CEU), yang sebelumnya dikenal sebagai Chrome Device Management atau CDM.
CEU merupakan sistem pengelolaan dan infrastruktur keamanan yang sangat penting yang berfungsi untuk melindungi aset publik. Sebagai standar yang digunakan di seluruh dunia, CEU memberikan Kementerian hingga sekolah kendali untuk mengatur perangkat dari satu sistem terpadu, menyaring konten negatif hingga mengunci perangkat jika hilang.
“Ini adalah cara kami memastikan investasi pemerintah tetap aman dan bermanfaat untuk jangka panjang,” kata Google.
Google Sebut Spesifikasi Chromebook Sesuai Aturan Kementerian
Google menjelaskan Chromebook adalah perangkat nomor satu di dunia untuk pendidikan K-12 atau TK sampai SMA, dengan lebih dari 50 juta siswa dan pendidik yang menggunakan perangkat ini di seluruh dunia.
“Di Indonesia, fokus kami selalu pada upaya mewujudkan cita-cita pembelajaran digital jangka panjang melalui Chromebook, perangkat canggih dan aman yang dirancang untuk para pendidik dan siswa,” kata Google.
Jutaan pendidik dan siswa dari Sabang sampai Merauke, serta lebih dari 80 ribu sekolah di seluruh negeri, menggunakan Chromebook untuk mengoptimalkan pembelajaran bahkan di wilayah-wilayah terluar di Indonesia.
Chromebook dirancang sesuai dengan realitas di ruang kelas, termasuk untuk sekolah-sekolah di daerah terpencil. Meski dioptimalkan untuk penggunaan berbasis cloud, Chromebook memiliki kemampuan untuk digunakan secara offline.
Siswa tetap dapat membuat dokumen, mengelola file, serta menggunakan aplikasi yang mendukung mode offline bahkan tanpa koneksi internet sekalipun, sehingga memastikan proses belajar tidak pernah terhenti.
Perangkat ini, kata Google, memenuhi persyaratan dalam peraturan Kementerian serta panduan pengadaan lokal alias DAK Fisik dari Kementerian Pendidikan, yang merujuk adanya solusi digital yang holistik, seperti memasangkan perangkat dengan infrastruktur penunjang konektivitas seperti router dan verifikasi kelistrikan.
“Pendekatan serupa telah terbukti memberikan manfaat bagi banyak siswa dalam skala besar di daerah terpencil di berbagai negara, mulai dari Brasil hingga Jepang,” kata Google.