Kinerja Jayamas Medica (OMED) solid, cek rekomendasi sahamnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) sepanjang 2025 dinilai solid, dengan pertumbuhan yang diikuti perbaikan profitabilitas.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, capaian tersebut mencerminkan efisiensi operasional serta kuatnya penetrasi perseroan di pasar alat kesehatan domestik.

“Kinerja 2025 solid, mencerminkan efisiensi operasional dan kuatnya penetrasi pasar alat kesehatan domestik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).

Sebagai gambaran, OMED membukukan penjualan Rp2,06 triliun dan laba bersih Rp 368,9 miliar pada 2025.

Reksadana Campuran Berbalik Melemah, Prospek Masih Menarik Tapi Selektif

Senada, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi pendapatan, tetapi juga dari kemampuan manajemen menjaga margin.

“Yang terlihat bukan hanya top line tumbuh, tetapi juga eksekusi manajemen yang cukup rapi dalam menjaga margin,” jelasnya.

Dari sisi profitabilitas, margin laba bruto OMED tercatat mencapai 34,8% yang ditopang oleh bauran produk, termasuk pertumbuhan segmen bioteknologi sebesar 30,1% secara tahunan.

Wafi menilai, segmen bioteknologi yang bermargin tinggi masih akan menjadi motor pertumbuhan utama dalam menjaga stabilitas margin ke depan.

Sementara itu, Ekky melihat keberlanjutan margin masih cukup terjaga, meski tetap dipengaruhi faktor eksternal seperti harga bahan baku impor, nilai tukar, serta kemampuan perseroan menjaga komposisi produk bernilai tambah.

Untuk tahun 2026, OMED menargetkan pendapatan sebesar Rp2,3 triliun. Kedua analis sepakat target tersebut masih realistis, dengan potensi pertumbuhan sekitar 10% hingga 15%.

Wafi menyebut, katalis utama berasal dari kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri atau TKDN serta tren ekspansi rumah sakit.

Reksadana Campuran Berbalik Melemah, Ini Strategi Manajer Investasi

Adapun Ekky menilai peluang pencapaian target tetap terbuka, didukung ekspansi lini produk dan distribusi yang lebih luas, selama permintaan domestik tetap terjaga.

Dari sisi ekspansi, OMED juga membidik peningkatan kinerja ekspor, khususnya ke Amerika Serikat dengan target pertumbuhan 25% hingga 50% pada 2026.

Direktur Operasional OMED Leonard Hartanto mengatakan, perusahaan optimistis kinerja ekspor masih akan meningkat pada tahun ini.

“Kalau yang ke Amerika sendiri itu jadi tahun 2024 ke 2025 itu naiknya kalau enggak salah dua kali lipat. Nah harapannya sih tahun ini kita bisa naik lagi mungkin 25% sampai 50% yang dari US,” ujarnya dalam FY2025 Results Call.

Selain pasar Amerika Serikat, OMED juga mulai menjajaki pasar baru seperti Filipina untuk memperluas jangkauan ekspor.

Pemerintah Revisi Formula Harga Patokan Mineral, Ini Dampaknya Bagi Emiten Nikel

Di sisi lain, perseroan menyiapkan belanja modal sekitar Rp 110 miliar hingga Rp 120 miliar pada tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan pabrik baru di Jawa Timur serta penambahan mesin produksi.

“Kami memang lagi menjajaki pabrik baru, tanahnya sudah milik kami. Itu capex yang akan kita anggarkan mungkin kurang lebih Rp 60 miliar di Ngrimbi,” tambah Leonard.

Pabrik baru tersebut akan difokuskan untuk memproduksi sejumlah produk seperti surgical gown, masker, dan wound dressing, seiring meningkatnya utilisasi fasilitas produksi yang telah mencapai kisaran 80% hingga 86%.

Di tengah risiko global seperti fluktuasi harga energi dan ketidakpastian geopolitik, Wafi menilai kinerja OMED relatif tahan karena sektor kesehatan bersifat defensif dan didukung tingginya porsi produksi lokal.

“Sektor kesehatan bersifat defensif, dan tingginya porsi produksi lokal melindungi OMED dari fluktuasi kurs dan disrupsi rantai pasok global,” imbuhnya.

Konflik Global Memanas, Harga Emas Berpeluang Lanjut Reli

Ekky juga menilai ketahanan operasional OMED masih cukup baik, meski tetap ada risiko pada margin apabila tekanan biaya impor dan logistik meningkat.

Untuk rekomendasi, Wafi menyarankan beli saham OMED dengan target harga Rp360 per saham.

Sementara itu, Ekky menilai saham OMED masih layak dicermati sebagai emiten defensif dengan pertumbuhan bertahap, dengan target harga di kisaran Rp 300 hingga Rp 320 per saham.