
Ussindonesia.co.id Harga Bitcoin menyentuh level terendah dalam 16 bulan dan menguji level penopang utama US$60.000 pada Jumat (6/2/2026), seiring aksi jual global di saham teknologi yang mendorong investor menjauhi aset berisiko di berbagai kelas aset.
Mata uang kripto terbesar di dunia itu terakhir tercatat naik 1,64% ke US$64.153,24 dalam perdagangan yang bergejolak, setelah sempat merosot hingga US$60.008,52 pada awal sesi.
Pergerakan harga Bitcoin berayun tajam antara zona hijau dan merah sepanjang perdagangan.
Moody’s Pangkas Outlook RI, Rupiah Kembali Melemah pada Jumat (6/2) Pagi
Level tersebut menjadi yang terlemah sejak Oktober 2024, sekitar sebulan sebelum Donald Trump memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap industri kripto selama masa kampanye.
“Bitcoin sudah turun sejak Oktober (2025). Kita bisa bertanya apakah ini pertanda awal masalah besar di pasar, atau sekadar kebetulan,” ujar Chris Weston, Head of Research di perusahaan pialang Pepperstone, Melbourne.
“Banyak posisi besar yang sebelumnya sangat padat kini sedang dibongkar dengan sangat cepat,” tambahnya.
Sementara itu, ether tercatat naik 2,4% ke US$1.891,27, setelah sebelumnya anjlok ke level terendah 10 bulan di US$1.751,94.
Rupiah Spot Melemah 0,23% ke Rp 16.881 per Dolar AS, Jumat (6/2) Pagi
Data CoinGecko menunjukkan total kapitalisasi pasar kripto global telah menyusut sekitar US$2 triliun sejak mencapai puncak US$4,379 triliun pada awal Oktober.
Dari jumlah tersebut, lebih dari US$1 triliun lenyap hanya dalam sebulan terakhir.
Secara mingguan, Bitcoin diperkirakan turun 16%, sehingga total penurunannya sejak awal tahun mencapai 27%.
Ether juga menuju penurunan mingguan 17%, dengan koreksi sekitar 36% sepanjang tahun berjalan.
Sentimen negatif terhadap aset kripto turut dipengaruhi aksi jual terbaru di pasar logam mulia dan saham.
IHSG Anjlok ke Bawah Level 8.000 Jumat (6/2) Pagi, MDKA, BRPT, INCO Top Losers LQ45
Emas dan perak, misalnya, mengalami peningkatan volatilitas akibat pembelian berbasis leverage dan arus spekulatif.
Selama beberapa waktu terakhir, pergerakan Bitcoin juga erat kaitannya dengan sektor teknologi, yang sebelumnya didorong oleh antusiasme investor terhadap kecerdasan buatan (AI).
“Bitcoin yang kembali bergerak menuju US$60.000 bukan berarti kripto sedang sekarat. Ini adalah konsekuensi dari investor dan dana yang memperlakukan Bitcoin sebagai aset satu arah tanpa manajemen risiko yang memadai,” kata Joshua Chu, Co-Chair Hong Kong Web3 Association.
“Mereka yang bertaruh terlalu besar, berutang terlalu banyak, atau menganggap harga hanya akan naik, kini harus menghadapi kenyataan volatilitas pasar dan pentingnya manajemen risiko,” ujarnya.
IHSG Turun, Asing Catat Net Buy Terbesar pada Saham Big Caps Perbankan, Kamis (5/2)
Tekanan terhadap pasar kripto telah berlangsung selama beberapa bulan, sejak kejatuhan tajam pada Oktober lalu yang menyeret Bitcoin turun dari level puncaknya. Kondisi tersebut membuat sentimen investor terhadap aset digital terus mendingin.
Analis Deutsche Bank dalam catatannya menyebutkan bahwa ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar lebih dari US$3 miliar pada Januari, setelah sebelumnya mengalami arus keluar sekitar US$2 miliar pada Desember dan US$7 miliar pada November.