Bank swasta tebar dividen jumbo, mana yang paling menarik?

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Bank-bank swasta besar di Indonesia bersiap menebar dividen jumbo. Namun, di tengah ketidakpastian global dan tekanan industri, strategi yang diambil cenderung mengedepankan keberlanjutan ketimbang sekadar memberikan imbal hasil tinggi kepada investor.

Secara historis, bank swasta besar konsisten menjaga rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR). Salah satu contohnya adalah Bank Central Asia (BBCA) yang dalam lima tahun terakhir terus meningkatkan DPR, dari 57% pada tahun buku 2021 menjadi 72% pada 2025.

Selain menjaga tren kenaikan DPR, BCA juga meningkatkan daya tarik dividennya dengan memperbarui skema penyaluran dividen interim menjadi tiga kali dalam setahun. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan arus kas bagi pemegang saham, khususnya investor ritel.

“Perseroan memastikan rencana ini juga menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan telah mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris,” ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong pasca rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) bulan lalu.

OJK Proyeksikan Pendapatan Premi Asuransi Tumbuh 3%-6% pada 2026

Konsistensi juga ditunjukkan oleh CIMB Niaga (BNGA), dengan DPR sebesar 57,68% pada 2021 dan meningkat menjadi 60% pada 2024. Untuk tahun buku 2025, bank ini dijadwalkan menggelar RUPST pada 17 April 2026.

Sementara itu, Bank Danamon (BDMN) menjaga DPR stabil di level 35% dalam lima tahun terakhir. Dengan pertumbuhan laba yang konsisten, nilai dividen yang diterima investor terus meningkat. Untuk tahun buku 2025, total dividen BDMN mencapai Rp 1,4 triliun atau Rp 142 per saham.

Komisaris Utama Danamon Yasushi Itagaki menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga pertumbuhan berkelanjutan. “Keputusan dividen tahun ini mencerminkan penerapan tata kelola perusahaan yang baik,” kata Itagaki.

Permata Bank (BNLI) juga mencatatkan tren kenaikan DPR, dari 20% pada 2021 menjadi 35% pada tahun buku 2025. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp 1,3 triliun atau Rp 35 per saham.

Berbeda dengan bank lain, Bank OCBC (NISP) justru memangkas DPR menjadi 20% pada tahun buku 2025, setelah sebelumnya meningkat hingga 50% pada 2024. Dampaknya, dividen per saham turun signifikan dari Rp 105 menjadi Rp 45.

Penurunan ini terjadi meskipun laba bersih OCBC masih tumbuh 4% secara tahunan menjadi Rp 5,1 triliun. Manajemen tidak menjelaskan secara rinci alasan kebijakan tersebut, namun memastikan bahwa perusahaan tetap menjaga struktur permodalan yang kuat.

“Itu tercermin pada CAR atau rasio kecukupan modal sebesar 24,5%,” ujar Direktur Keuangan OCBC Hartarti.

AXA Mandiri Sebut Bisnis Asuransi Kesehatan Masih Berpotensi Tumbuh pada 2026

Di pasar saham, kinerja saham NISP relatif lebih stabil dibandingkan beberapa bank lain. Hingga penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026), saham NISP berada di level Rp 1.360 atau hanya turun 0,73% sejak awal tahun. Sebagai perbandingan, saham BBCA turun 16,41% menjadi Rp 6.750 dan BNLI terkoreksi 33,4% menjadi Rp 3.430.

Adapun saham BNGA dan BDMN mencatatkan kinerja lebih baik, masing-masing naik 2,51% ke Rp 1.835 dan 1,21% ke Rp 2.500 dalam periode yang sama.

Dividen di Tengah Tekanan Ketidakpastian

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai konsistensi DPR bank swasta ditopang oleh pertumbuhan laba yang solid, kualitas aset yang terjaga pasca pandemi, serta permodalan yang kuat.

Terkait penurunan DPR OCBC, ia menilai langkah tersebut sebagai respons terhadap ketidakpastian global, termasuk tekanan suku bunga tinggi dan potensi perlambatan kredit. “Itu strategi konservatif,” sebutnya.

Dari perspektif pasar, bank dengan DPR tinggi dan konsisten cenderung menarik bagi investor institusi sebagai instrumen defensif. Meski demikian, penurunan DPR seperti yang terjadi pada OCBC dinilai hanya berdampak jangka pendek terhadap harga saham, dan dalam jangka panjang dapat dipahami sebagai upaya menjaga likuiditas serta mendukung ekspansi bisnis.

Secara fundamental, prospek dividen sektor perbankan masih dinilai menarik. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit yang moderat, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang stabil, serta penurunan biaya pencadangan.

Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha Pialang Reasuransi Halim Javakarta Reinsurance Brokers

Namun, ke depan bank diperkirakan akan lebih selektif dalam menentukan DPR, dengan menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dan kebutuhan ekspansi, terutama untuk penguatan digital banking dan pembiayaan sektor produktif.

Strategi yang ditempuh antara lain optimalisasi fee-based income, efisiensi biaya dana (cost of fund), serta menjaga kualitas kredit guna menekan risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

“Dengan demikian, dividen ke depan tetap atraktif, tetapi tidak semua bank akan agresif menaikkan payout ratio seperti periode pasca pandemi,” ujar Hendra.

Senada, Senior Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menyebut dividen perbankan masih akan menarik, meski tidak lagi dalam fase agresif. Tekanan dari penyempitan margin bunga, perlambatan kredit, serta potensi kenaikan cost of credit dinilai membatasi ruang kenaikan DPR.

Meski begitu, permodalan yang kuat diyakini tetap menjaga keberlanjutan dividen bank. Ke depan, bank diperkirakan lebih fokus pada stabilitas dan kesinambungan dividen dibandingkan mengejar imbal hasil tinggi semata.