Populer: Biang kerok rupiah nyaris Rp 18 ribu; BI imbau warga batasi beli valas

Pelemahan rupiah hingga nyaris menyentuh Rp 18.000 per dolar AS dan langkah Bank Indonesia untuk menstabilkannya menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Rabu (3/6). Selain itu, faktor-faktor di balik melemahnya mata uang garuda juga menarik perhatian pembaca. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:

Rupiah Melemah Nyaris Rp 18.000, BI Batasi Beli Valas-Dorong Mata Uang Lokal

Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga nyaris menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat ke level Rp 17.956,50 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6) pukul 14.00 WIB. Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) untuk mengambil kebijakan stabilisasi di tengah tekanan dinamika pasar keuangan global dan domestik.

Untuk menjaga stabilitas, BI memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valuta asing (valas) terhadap rupiah tanpa underlying menjadi USD 25.000 per pelaku per bulan, efektif mulai 2 Juni 2026. Selain itu, BI juga terus mengoptimalkan instrumen kebijakan dan memperluas penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara. Skema LCT bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, yang saat ini telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Biang Kerok Rupiah Amblas

Rupiah terus tertekan mendekati level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6), melemah 88,50 poin atau 0,50 persen ke level Rp 17.927 per dolar AS hingga pukul 12.00 WIB. Pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Secara eksternal, ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menguatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah datang dari melemahnya surplus perdagangan. Pada April 2026, surplus neraca perdagangan Indonesia hanya mencapai USD 0,09 miliar, menurun tajam dari USD 3,32 miliar pada Maret. Secara kumulatif, surplus Januari-April 2026 menyusut menjadi USD 5,64 miliar dari USD 11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, inflasi Mei 2026 juga naik menjadi 3,08 persen dari 2,42 persen pada April, dipicu kenaikan biaya input impor, energi, transportasi, dan pangan.

Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuaibi menambahkan, kenaikan harga minyak mentah global yang meningkatkan biaya impor energi Indonesia serta potensi suku bunga The Fed yang tetap tinggi turut menjadi faktor penekan. Namun, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat peluang stabilisasi bertahap ke kisaran Rp 17.600-Rp 17.750 per dolar AS jika harga minyak turun, arus modal asing kembali masuk, dan pemerintah memberikan sinyal fiskal yang meyakinkan. Sebaliknya, jika harga minyak kembali naik dan sentimen risiko global memburuk, rupiah berpotensi bertahan di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS.