Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (30/3/2026) pagi bergerak turun mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia seiring investor menghindari aset berisiko akibat ketidakpastian arah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. IHSG dibuka melemah 76,53 poin atau 1,08 persen ke posisi 7.020,53. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 11,00 poin atau 1,53 persen ke posisi 707,96.
“Kiwoom Research mengingatkan para investor untuk lebih banyak menahan diri, wait and see menunggu perkembangan perang AS-Iran, serta data payroll AS, data inflasi Indonesia, dan keputusan mitigasi risiko krisis BBM yang sedianya dirilis pemerintah pekan ini,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Dari mancanegara, Liza mengatakan sentimen tetap didominasi oleh ketidakpastian tinggi dan pergerakan pasar sangat headline-driven. Penundaan serangan oleh Presiden AS Donald Trump gagal memberikan relief karena risiko eskalasi masih tinggi, termasuk potensi tambahan 10.000 pasukan AS.
Pakistan muncul sebagai mediator dengan proposal perdamaian 15 poin, sementara Iran memberikan sinyal terbatas, seperti izin sebanyak 20 kapal melintas Hormuz, namun tetap menolak proposal AS.
Konflik saat ini memasuki pekan kelima. Selat Hormuz masih tertutup bagi sebagian besar tanker dan serangan terhadap infrastruktur energi berlanjut.
Uni Emirat Arab (UEA) mendorong pembentukan Pasukan Keamanan Hormuz, namun mendapat resistensi sekutu AS dan berpotensi terhambat veto Rusia dan China. Sementara itu, Arab Saudi mengalihkan ekspor melalui Laut Merah, namun belum mampu menggantikan gangguan pasokan global.
Dari AS, tekanan politik meningkat dengan lebih dari 3.000 titik demonstrasi “No Kings” yang melibatkan 9 juta orang dalam rangka menentang kebijakan Trump, termasuk perang Iran dan deportasi massal, sehingga menambah lapisan risiko terhadap stabilitas kebijakan ke depan.
“Dalam kondisi ini, pasar menghadapi kenyataan bahwa hampir tidak ada kelas aset yang benar-benar aman. Bahkan safe haven seperti US Treasury, yen Jepang, dan emas gagal memberikan perlindungan, sehingga mendorong investor mengurangi eksposur risiko secara agresif,” ujar Liza.
Harga minyak tetap tinggi di tengah gangguan pasokan global, dengan Brent dan WTI bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Penutupan efektif Selat Hormuz yang sebelumnya menyalurkan sekitar 15–20 juta barel per hari menjadi faktor utama lonjakan harga.
Upaya mitigasi seperti optimalisasi pipa East-West Arab Saudi sebesar 7 juta barel per hari dan peningkatan ekspor melalui Yanbu hanya mampu menutup sebagian kecil gangguan.
Menurut UBS, dalam skenario ekstrem harga minyak berpotensi naik hingga 150 dolar AS per barel, yang dapat memicu inflasi global di atas 4 persen dan bahkan mendorong resesi di AS dan Eropa.
Dari dalam negeri, Iran akhirnya memberikan izin kepada dua kapal tanker Pertamina (Pertamina Pride dan Gamsunoro) untuk keluar dari Selat Hormuz setelah komunikasi intensif dengan pemerintah Indonesia, meski masih menunggu kesiapan teknis seperti asuransi dan kru sebelum pelayaran dilakukan.
Dengan kapasitas sekitar 2–2,5 juta barel, jumlah tersebut hanya setara kurang lebih 1–1,5 hari kebutuhan BBM nasional. Namun, insiden ini justru menegaskan rapuhnya ketahanan energi Indonesia. Satu pengiriman tanker hanya berperan sebagai bagian kecil dari rantai pasok harian sehingga gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz tetap berisiko langsung terhadap stabilitas pasokan domestik.
Pada perdagangan Jumat (27/3) pekan lalu, bursa saham Eropa ditutup kompak melemah. Di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 1,56 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,05 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,38 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,87 persen.
Bursa AS Wall Street juga kompak melemah pada Jumat (27/3). Di antaranya indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,73 persen menjadi 45.166,64, indeks S&P 500 melemah 1,67 persen ke 6.368,85, dan indeks Nasdaq Composite terkoreksi 1,93 persen menjadi 23.132,77.
Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain indeks Nikkei melemah 2.417,07 poin atau 4,53 persen ke 50.956,00, indeks Shanghai melemah 31,33 poin atau 0,80 persen ke 3.882,40, indeks Hang Seng melemah 427,38 poin atau 1,71 persen ke 24.524,50, dan indeks Strait Times melemah 13,96 poin atau 0,29 persen ke 4.884,22.
Rupiah Melemah
Nilai tukar rupiah pada Senin pagi melemah 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp 16.981 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.980 per dolar AS. Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi harga minyak mentah dunia yang terus meningkat.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk dan harga minyak mentah dunia yang masih terus naik,” ucapnya, Senin (30/3/2026).
Tercatat, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sudah mencapai 103 dolar AS per barel.
Warga memperlihatkan uang rupiah hasil penukaran di mobil kas keliling Bank Indonesia. – (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)
Kenaikan ini disebabkan Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman 20 juta barel minyak per hari mengalami gangguan sejak awal Maret 2026, yang mendorong kelangkaan pasokan dan peningkatan harga minyak dunia.
Sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi potensi Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga sebesar 7,5 persen serta peluang untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini.
“Indeks dolar AS sendiri terpantau terus naik, dengan investor kini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga dan peluang untuk menaikkan suku bunga tahun ini ketimbang memangkasnya. Namun, mendekati level psikologis Rp 17 ribu, diperkirakan BI (Bank Indonesia) akan melakukan intervensi,” kata Lukman.
“Harga minyak yang tinggi dipastikan akan memicu inflasi sehingga bank sentral akan merespons dengan kenaikan suku bunga,” ungkap dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp 16.950–Rp 17.050 per dolar AS.