Harga nikel menjulang di awal 2026, begini prospek emiten dan rekomendasi sahamnya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Emiten-emiten produsen nikel berpeluang meraih sentimen positif seiring lonjakan signifikan harga nikel global pada awal 2026. Penguatan harga komoditas ini turut mendorong kenaikan sejumlah saham emiten nikel di pasar modal.

Berdasarkan data Trading Economics, harga nikel global mencapai US$ 18.506 per ton pada Rabu (7/1/2026) siang. Angka tersebut melonjak sekitar 24,33% dalam sebulan terakhir.

Harga ini menjadi level tertinggi sejak terakhir kali menyentuh kisaran US$ 18.000 per ton pada Juni 2024.

Hadapi Persaingan Ketat di Industri Baterai EV, Begini Prospek Saham Nikel

Tren kenaikan harga nikel mulai terbentuk sejak pertengahan Desember 2025. Sebelumnya, harga nikel cenderung bergerak di kisaran US$ 15.000 per ton, bahkan sempat terkoreksi ke level sekitar US$ 14.000 per ton pada awal Desember 2025.

Sejalan dengan penguatan harga nikel, sejumlah saham emiten nikel mencatatkan kenaikan pada perdagangan Rabu (7/1). Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melonjak 12,44% ke level Rp 6.325 per saham. Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menguat 7,69% ke level Rp 1.400 per saham.

Sementara itu, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 1,52% ke level Rp 670 per saham dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) menguat 3,12% ke level Rp 990 per saham.

Di sisi lain, saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) justru melemah tipis 0,55% ke level Rp 1.830 per saham. Saham NICL saat ini juga berada dalam pengawasan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan status Unusual Market Activity (UMA).

Harga Nikel Melandai, Simak Strategi Antisipasi dari Vale Indonesia (INCO)

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai lonjakan harga nikel didorong oleh rencana kebijakan strategis pemerintah Indonesia yang akan memangkas kuota produksi nasional sebesar 34% menjadi 250 juta ton dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kebijakan ini bertujuan menyeimbangkan pasokan nikel di pasar global.

Selain itu, kenaikan harga juga dipicu oleh penurunan kadar bijih nikel domestik serta aksi beli agresif dari China yang mengantisipasi potensi gangguan pasokan fisik.

“Sentimen ini menjadi katalis positif yang memicu reli harga saham emiten berbasis nikel dalam jangka pendek,” ujar Abida, Rabu (7/1).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menambahkan, dari perspektif pasar modal, lonjakan harga nikel berpotensi menjadi katalis positif bagi saham-saham emiten nikel dalam jangka pendek.

Namun, pasar saham bersifat sebagai leading indicator sehingga sebagian ekspektasi kenaikan harga nikel kemungkinan sudah tercermin dalam pergerakan saham.

“Ruang penguatan harga saham ke depan akan sangat bergantung pada realisasi kinerja emiten dan dinamika sentimen global,” ujar Hari.

Jika tren kenaikan harga nikel berlanjut, dampak positif diperkirakan akan terlihat pada peningkatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emiten nikel, terutama pada kuartal I-2026.

Hal ini mengingat formulasi Harga Patokan Mineral (HPM) domestik sangat bergantung pada pergerakan harga nikel di London Metal Exchange (LME).

Kenaikan harga nikel juga berpotensi mendorong pemulihan margin laba bersih dan penguatan arus kas operasional. Kondisi ini diharapkan dapat mengakhiri tren volume penjualan tinggi dengan margin rendah yang dialami emiten nikel pada tahun sebelumnya.

Harga Nikel Melorot, Laba Emiten Tetap Berotot

Menurut Abida, emiten nikel dengan integrasi hulu-hilir yang kuat serta penggunaan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) berpeluang mencatat kinerja lebih unggul.

Teknologi ini memungkinkan produksi nikel kelas I untuk baterai kendaraan listrik dengan nilai tambah hingga 67 kali lipat dibandingkan penjualan bijih mentah.

Meski demikian, tantangan tetap membayangi sektor ini. Hari menyoroti belum terbitnya RKAB 2026, seperti yang dialami INCO, berpotensi menghambat kinerja emiten nikel karena menimbulkan ketidakpastian terhadap produksi, volume penjualan, dan rencana belanja modal.

Tantangan lainnya meliputi risiko perubahan kebijakan pemerintah terkait kuota produksi dan hilirisasi, potensi normalisasi harga nikel setelah reli, tekanan biaya operasional seperti energi dan logistik, serta dinamika permintaan global, khususnya dari sektor kendaraan listrik yang sensitif terhadap siklus ekonomi.

Di sisi lain, Abida menilai pemerintah telah memitigasi risiko keterlambatan RKAB melalui kebijakan relaksasi yang mengizinkan penambang nikel beroperasi hingga maksimal 25% dari rencana produksi tahunan sampai 31 Maret 2026.

Proyeksi Saham MBMA Masih Dipengaruhi Penurunan Harga Nikel

Dalam jangka panjang, emiten nikel juga perlu mewaspadai implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) per Januari 2026 yang mengenakan pajak karbon lintas batas untuk produk ekspor.

Kesiapan dalam mengadopsi energi bersih serta pemenuhan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) akan menjadi faktor kunci daya saing emiten nikel di pasar global.

Abida merekomendasikan saham emiten nikel dengan prospek positif, di antaranya NCKL dengan target harga Rp 1.300 per saham dan MBMA dengan target harga Rp 700 per saham.