
PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba sebesar Rp 5,85 triliun hingga kuartal pertama 2026. Torehan itu longsor 15,6% secara tahunan atau year on year (yoy) dari periode yang sama 2025 sebesar Rp 6,93 triliun.
Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan bersih perusahaan juga turun 5,63% menjadi Rp 78,66 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu perusahaan meraup pendapatan bersih Rp 83,36 triliun.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan laba pada kuartal I 2026 turun terutama akibat kontribusi yang lebih rendah dari lini alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi. Meski begitu, Rudy menyebut kinerja dari bisnis lainnya menunjukkan perbaikan sehingga mampu menahan sebagian tekanan ke kinerja perusahaan.
Ia juga mengatakan manajemen memperkirakan kondisi pasar masih akan penuh tantangan. Terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan,” ucap Rudy dalam keterangannya, Rabu (29/4).
Lebih jauh kinerja keuangan Astra ditopang oleh beberapa lini bisnis. Masing-masing lini bisnis memberikan kontribusi berbeda untuk perusahaan.
Berikut rincian lengkap kontribusi bisnis untuk kinerja konsolidasi Astra.
Segmen Otomotif & Mobilitas
Segmen otomotif & mobilitas mencatatkan kinerja yang relatif solid pada kuartal I 2026. Laba bersih naik 4% menjadi Rp 2,4 triliun dari Rp 2,3 triliun, ditopang oleh bisnis mobilitas dan komponen, meski volume penjualan mobil mengalami penurunan.
Namun, kinerja tersebut masih tertekan oleh kerugian nilai wajar investasi di GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp 241 miliar. Meski begitu kondisi saat ini sudah membaik dari Rp 456 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Apabila tidak memperhitungkan faktor ini, laba bersih divisi justru turun 4% menjadi Rp 2,6 triliun dari Rp 2,7 triliun.
Dari sisi operasional penjualan mobil nasional naik 2% menjadi 209 ribu unit, namun tekanan di segmen mass market dan kompetisi membuat pangsa pasar Astra turun ke 49%. Selain itu penjualan sepeda motor nasional turun 4% menjadi 1,6 juta unit, dengan PT Astra Honda Motor tetap dominan di pangsa 78%.
Selanjutnya PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) mencatatkan kenaikan laba 10% menjadi Rp 447 miliar, didorong semua lini bisnis. Sementara PT Serasi Autoraya membukukan kenaikan unit kontrak 14% menjadi 28.800 unit. Adapun OLXmobbi (bisnis mobil bekas) mencatat penjualan naik 9% menjadi 8.200 unit.
Jasa Keuangan
Dari sektor keuangan, Astra International mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada divisi jasa keuangan sebesar 6% menjadi Rp 2,3 triliun pada kuartal I 2026. Peningkatan ini didorong oleh kinerja bisnis pembiayaan konsumen yang semakin kuat, seiring pertumbuhan nilai portofolio pembiayaan.
ASII juga meningkatkan penyaluran pembiayaan baru sebesar 5% menjadi Rp 32,0 triliun. Perusahaan pembiayaan mobil dalam grup menyumbang kenaikan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp 609 miliar.
Sementara itu, PT Federal International Finance mencatatkan pertumbuhan laba 3% menjadi Rp1,2 triliun dari pembiayaan sepeda motor.
Di segmen alat berat, Astra mendorong pertumbuhan pembiayaan baru 10% menjadi Rp 4,4 triliun. Langkah ini berdampak pada peningkatan kontribusi laba bersih segmen tersebut sebesar 16% menjadi Rp 64 miliar.
Selain itu, PT Asuransi Astra Buana mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 7% menjadi Rp404 miliar, yang didukung oleh peningkatan hasil underwriting dan investasi.
“Perusahaan asuransi jiwa Grup, PT Asuransi Jiwa Astra, mencatatkan peningkatan kontribusi laba bersih sebesar 47% menjadi Rp 44 miliar,” ungkap manajemen Astra.
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Kemudian Divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi milik Astra International juga tertekan pada kuartal pertama 2026. Perseroan membukukan penurunan laba bersih sebesar 79% menjadi Rp 408 miliar.
Anjloknya torehan ini gara-gara pengakuan beban non-recurring sebesar Rp 723 miliar oleh PT United Tractors Tbk (UNTR), yang berasal dari bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi. Tanpa beban tersebut, laba bersih divisi tetap turun 42% menjadi Rp 1,1 triliun.
Manajemen Astra mengatakan, tekanan kinerja akibat tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe, serta melemahnya permintaan alat berat dan jasa kontraktor tambang. Kondisi ini dipicu oleh alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah pada 2026.
Dari sisi operasional penjualan alat berat Komatsu turun 20% menjadi 1.107 unit, seiring melemahnya permintaan dari sektor pertambangan. Sementara itu PT Pamapersada Nusantara mencatat penurunan volume pengupasan tanah (overburden removal) sebesar 7% menjadi 236 juta bank cubic metres.
Selanjutnya anak usaha tambang batu bara mencatatkan kenaikan penjualan menjadi 4,0 juta ton, termasuk 0,9 juta ton batu bara metalurgi, dari sebelumnya 3,2 juta ton. Namun, bisnis emas tercatat anjlok.
Penjualan emas anjlok 93% menjadi hanya 4.000 ons, terutama karena tidak adanya kontribusi dari Tambang Emas Martabe yang operasionalnya sempat berhenti. Namun pada Maret 2026, Tambang Emas Martabe telah memperoleh persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kembali beroperasi.
Agribisnis
Laba bersih divisi Agribisnis Grup meningkat 35% menjadi Rp 298 miliar. Terutama didorong oleh peningkatan penjualan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sebesar 6% menjadi 457.000 ton, dengan harga CPO yang relatif stabil yaitu Rp14.556/kg.
Infrastruktur
Divisi Infrastruktur Grup Astra mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp 343 miliar. Hal disebabkan oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Konsesi jalan tol Grup mencatatkan peningkatan pendapatan harian sebesar 14%.
Teknologi Informasi
Divisi Teknologi Informasi mencatatkan torehan laba bersih sebesar 47% menjadi Rp 53 miliar, disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi teknologi informasi serta peningkatan marjin usaha.
Properti
Divisi Properti melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 145% menjadi Rp 115 miliar, Terutama berasal dari aset-aset gudang industri yang baru diakuisisi.