
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Bursa Efek Indonesia terpukul pada Rabu (28/1/2026) setelah penyedia indeks global MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan terkait saham Indonesia dalam indeksnya.
Kebijakan ini memicu aksi jual di pasar, meski di sisi lain nilai tukar rupiah justru menguat mengikuti tren mata uang Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hingga 5,6% pada perdagangan siang hari, setelah sempat merosot sampai 7% di awal sesi. Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam hampir 10 bulan terakhir, mencerminkan tekanan kuat terhadap sentimen investor.
MSCI menyatakan akan menghentikan sementara masuknya saham Indonesia baru maupun peningkatan bobot saham yang sudah ada di dalam indeksnya.
IHSG Anjlok: Waspada, Investor Asing Catat Net Sell Rp1,9 Triliun!
Langkah ini berlaku hingga otoritas terkait menuntaskan sejumlah kekhawatiran investor, terutama soal transparansi data, struktur kepemilikan tersembunyi, serta dugaan perdagangan terkoordinasi yang berpotensi mendistorsi harga saham.
Menanggapi keputusan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian tengah berdiskusi dengan MSCI.
Fokus pembahasan diarahkan pada perbaikan transparansi data dan penguatan tata kelola pasar.
Manajer investasi SGMC Capital yang berbasis di Singapura, Mohit Mirpuri, menilai Indonesia saat ini berada dalam masa “uji kelayakan” hingga Mei mendatang. Kondisi tersebut membuat sentimen pasar cenderung negatif dalam jangka pendek.
Meski begitu, ia menegaskan tidak ada tekanan penjualan paksa dari investor global akibat kebijakan MSCI ini.
IHSG Anjlok ke Bawah 9.000, Net Sell Asing Mencapai Rp 1,33 Triliun Hari Ini (22/1)
Di tengah tekanan pasar saham, rupiah justru menguat sekitar 0,2%. Penguatan ini sejalan dengan tren positif mata uang Asia lainnya, yang terus mendapat dorongan dari melemahnya dolar Amerika Serikat.
Indeks mata uang negara berkembang versi MSCI naik 0,5% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, melanjutkan reli selama lima sesi beruntun. Ringgit Malaysia bahkan melonjak 0,7% ke level tertinggi sejak Mei 2018.
Sementara itu, indeks dolar bertahan di kisaran 96,131 setelah sebelumnya jatuh lebih dari 1% dan menyentuh level terendah dalam empat tahun.
Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan nilai dolar masih sangat baik, pernyataan yang justru memperkuat aksi jual mata uang tersebut di pasar global.
IHSG Anjlok 1,37% di Pekan Ini: Cek Sektor yang Paling Terpukul!
Pergerakan bursa saham dan mata uang Asia pada hari yang sama berlangsung bervariasi, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika global sekaligus isu spesifik di masing-masing negara.