
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate menjadi 5,25% dan tren kenaikan yield obligasi berpotensi memengaruhi penerbitan obligasi multifinance pada sisa tahun ini.
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menjelaskan tekanannya datang dari dua sisi.
Pertama, dia bilang yield obligasi yang naik membuat biaya penerbitan baru menjadi lebih mahal.
Kedua, pertumbuhan piutang pembiayaan yang lemah hanya sebesar 0,61% Year on Year (YoY), menurunkan kebutuhan pendanaan untuk ekspansi bisnis baru. Hal itu menunjukkan permintaan pembiayaan belum cukup kuat.
Dari sisi biaya, Ahmad mengatakan kenaikan suku bunga acuan menekan penerbitan, karena suku bunga kebijakan memengaruhi biaya dana. Alhasil, ketika suku bunga lebih tinggi, yield bergerak naik.
BI Rate Naik, Adira Finance Waspadai Penurunan Daya Beli Konsumen
“Dengan demikian, emiten perlu menawarkan kupon yang lebih menarik kepada investor untuk mengumpulkan dana,” ungkapnya kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).
Menurut Ahmad, kombinasi dua faktor tersebut akan memengaruhi penerbitan surat utang multifinance.
Oleh karena itu, dia beranggapan motivasi penerbitan akan cenderung lebih banyak berasal dari refinancing dibandingkan dengan kebutuhan modal kerja atau ekspansi.
Sementara itu, Ahmad menerangkan surat utang multifinance jatuh tempo pada 2026 sebesar Rp 33,93 triliun, dengan puncak jatuh tempo pada kuartal III-2026 yang sebesar Rp 13,68 triliun.
Artinya, dia bilang kebutuhan pembiayaan kembali masih cukup besar pada sisa tahun ini, meskipun kebutuhan pendanaan untuk pertumbuhan piutang baru terlihat lebih terbatas, seiring pertumbuhan bisnis yang lesu.
BI Rate Naik, Adira Finance Waspadai Penurunan Daya Beli Konsumen
Asal tahu saja, Pefindo mencatat, penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 12,93 triliun per Mei 2026. Nilai tersebut naik 19,3%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 10,84 triliun.