Harga buyback emas Antam dekati rekor ATH Minggu (11/1)

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam dibanderol mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada Minggu (11/1/2026).

Berdasarkan data Logam Mulia Minggu (11/1/2026), harga buyback emas Antam berada di Rp2.455.000. Posisi itu hanya terpaut tipis dari rekor ATH di Rp2.464.000 yang tercipta pada akhir Desember 2025.

Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.

: Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini, Minggu 11 Januari 2026

Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.

Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

: : Harga Emas Perhiasan Hari Ini 11 Januari Rp2,17 Juta, Buyback Rp2,37 Juta per Gram

Adapun, harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global. 

Sebelumnya, BlackRock menaruh pandangan optimistis untuk prospek harga emas ke depan. Logam mulia digadang-gadang akan makin bersinar dipoles sederet faktor.

: : Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Minggu 11 Januari 2026

Berdasarkan laporan Bloomberg Rabu (7/1/2026), pandangan teranyar itu disampaikan oleh Kepala Investasi Global Tematik BlackRock Evy Hambro.

Evy memprediksi harga emas akan terus menguat seiring dengan melemahnya daya beli mata uang kertas.

“Depresiasi mata uang diperkirakan akan berlanjut dengan laju yang “semakin cepat” dalam beberapa tahun mendatang. Tren ini — bersama dengan meningkatnya risiko geopolitik — akan mendukung kenaikan harga emas dan logam mulia lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, BlackRock menyebut emas sedang mengejar ketertinggalannya dalam hal daya beli menuju ke level yang seharusnya. Dengan demikian, mahar logam mulia diprediksi seharusnya lebih tinggi dari posisi saat ini.

“Saham perusahaan pertambangan belum sepenuhnya mencerminkan reli cepat pada harga logam, termasuk emas, perak, dan tembaga, sehingga menciptakan peluang yang menarik bagi investor ekuitas seperti BlackRock,” imbuhnya.