Strategi Kemenkeu bidik Rp170 triliun dari penerbitan SBN ritel 2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pemerintah menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel sepanjang 2026 berada di kisaran Rp150 triliun hingga Rp170 triliun.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan akan menerapkan strategi pembiayaan yang fleksibel dan oportunis untuk mencapai target tersebut, termasuk opsi menambah kuota apabila permintaan membeludak.

Plt. Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu Novi Puspita Wardani mengungkapkan bahwa pemerintah tidak mematok angka tunggal untuk target tahun ini, melainkan menggunakan rentang target yang serupa dengan tahun sebelumnya.

: Buka Pasar SBN Ritel 2026, Pemerintah Bidik Rp25 Triliun Lewat ORI029

Sebagai gambaran, realisasi penerbitan SBN Ritel pada 2025 tercatat mencapai Rp153 triliun. Saat itu, Kemenkeu mematok rentang target Rp150 triliun sampai dengan Rp170 triliun.

“Nah kembali ke pertanyaan tadi, kalau tahun lalu Rp153 [triliun], tahun ini berapa? Sama sekitar Rp150-Rp170 triliun,” ujarnya dalam Media Briefing ORI029 di Kantor Kemenkeu, Senin (26/1/2026).

: : Ini Peluang Masuknya Investor Asing ke Pasar SBN Rupiah Dekati Rp17.000

Untuk mencapai target tersebut, Novi menjelaskan bahwa pemerintah memiliki keleluasaan menggeser target antar-instrumen pembiayaan. Jika permintaan pada satu instrumen ritel sangat tinggi maka pemerintah siap melakukan menambah kuota dengan mengambil porsi dari metode pembiayaan lain, seperti lelang reguler.

Misalnya, penawaran ORI029 pada 26 Januari hingga 19 Februari 2026 yang ditargetkan awal Rp25 triliun. Jika ternyata permintaannya melebihi target awal maka pemerintah berpotensi menambah kuotanya dengan mengambil porsi dari instrumen lain.

Menurutnya, prioritas pada SBN Ritel ini tidak lepas dari fungsinya sebagai sarana edukasi keuangan bagi investor pemula dengan risiko yang sangat minim.

“Karena kan ini instrumen yang risikonya almost zero [hampir tidak ada], buat orang yang mau belajar, this is the instrument [ini pilihan instrumen yang tepat]. Artinya ada faktor di sini untuk pengembangan investor individu, sehingga biasanya apabila ada potensi untuk upsize [penambahan kuota], maka kami akan melakukan itu,” paparnya.

Di sisi lain, DJPPR juga menyoroti evolusi perilaku investor individu yang kini tidak hanya memburu instrumen ritel (seri ORI, SR, ST, SBR), tetapi juga mulai merambah ke SBN seri wholesale atau benchmark (seri fixed rate/FR dan project base sukuk/PBS) yang biasanya ditransaksikan investor institusi di pasar lelang.

Novi mengungkapkan fenomena tersebut didorong oleh kemajuan teknologi finansial (fintech) yang memungkinkan investor ritel membeli seri FR dengan nominal kecil atau diecer.

“Jadi artinya kita melihat investor individu ini yang memang, tadi kita sih senang karena ini artinya mereka sudah mulai melek secara literasi,” tutup Novi.