
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sejumlah saham yang terafiliasi Grup Bakrie seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) hingga PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) mencatatkan kinerja kinclong dan masuk ke dalam jajaran penopang atau top leaders indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan perdana 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mencatatkan penguatan sebesar 1,17% ke level 8.748,13 pada perdagangan perdana 2026, Jumat (2/1/2026).
IHSG ditutup dengan nilai transaksi yang diperdagangkan mencapai Rp22,13 triliun, volume transaksi 48,82 miliar lembar, dan frekuensi transaksi 3,07 juta kali. Adapun, market cap pasar modal Indonesia mencapai Rp16.013 triliun.
Pada perdagangan perdananya tahun ini, sebanyak 508 saham menguat, 206 saham melemah, dan 244 saham tak beranjak atau stagnan.
Terdapat sejumlah saham yang mencatatkan kinerja kinclong dan menjadi penopang IHSG atau top leaders. Saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), misalnya, menguat 10% pada perdagangan perdana 2026 dan menjadi top leaders teratas bagi IHSG.
: Asing Net Buy Rp1,06 Triliun Awal 2026, Saham BUMI, GOTO, hingga DEWA Jadi Incaran
Kemudian setidaknya empat saham terafiliasi Grup Bakrie masuk di jajaran 10 teratas daftar top leaders IHSG. Saham BUMI, misalnya, mencatatkan kenaikan 14,75% dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) naik 7,27% pada perdagangan perdana 2026.
Saham afiliasi Grup Bakrie lainnya yang masuk ke dalam jajaran top leaders adalah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) yang melonjak 17,16% dan DEWA naik 11,94% pada perdagangan perdana 2026.
Deretan saham lainnya yang menjadi top leaders adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik 5,84%, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) naik 4,14%, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) naik 7,81%.
Selain itu, saham PT Astra International Tbk. (ASII) naik 1,49% dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) naik 8,77% pada perdagangan perdana 2026.
Tim Riset Phintraco Sekuritas mencatat terdapat sejumlah sentimen yang telah menyertai pergerakan IHSG pada perdagangan perdana 2026. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun ke level 51,2 periode Desember 2025, dari 53,3 pada November 2025. Indeks masih menunjukkan adanya ekspansi manufaktur selama 5 bulan berturut-turut.
Neraca perdagangan untuk periode November 2025 diprediksi membukukan surplus sebesar US$2,7 miliar dari surplus US$2,4 miliar pada Oktober 2025. Lalu, data inflasi pada Desember 2025 diestimasikan melambat menjadi 2,5% sewa tahunan (year on year/YoY) dari 2,72% YoY pada November 2025.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.