Emas masih jadi investasi yang aman 2026, saham dan obligasi ikut dilirik

Harga emas diproyeksikan tetap kuat sepanjang 2026 seiring belum stabilnya kondisi ekonomi dan geopolitik global. Situasi ini membuat emas masih relevan sebagai aset lindung nilai (safe haven), meski investor juga mulai melirik instrumen lain seperti obligasi, saham, hingga kripto.

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group, Andy Nugroho, menilai emas berpeluang melanjutkan tren penguatan tahun depan.

“Emas berpotensi untuk dapat terus menguat mengingat situasi geopolitik dan ekonomi global yang masih belum stabil,” ujar Andy kepada kumparan, Sabtu (3/1).

Andy menjelaskan, fluktuasi harga emas sepanjang tahun ini sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman.

“Masih belum stabilnya kondisi ekonomi dan geopolitik global, membuat para investor cenderung masih main aman dan menginvestasikan dananya di asset safe haven seperti emas,” kata dia.

Meski demikian, Andy menyebut belum ada proyeksi harga emas yang benar-benar ekstrem dalam waktu dekat. Pergerakan harga disebut masih sangat bergantung pada dinamika geopolitik dunia.

“Belum ada prediksi signifikan, namun bila kondisi geopolitik membaik seperti Rusia dan Ukraina yang menuju arah damai beberapa hari lalu, akan membuat harga emas dapat turun. Sebaliknya bila kondisi memburuk akan memicu harga emas semakin tinggi,” ujarnya.

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global pada 2026, Andy menilai emas tetap layak dipertahankan sebagai pilihan investasi, khususnya untuk jangka panjang.

“Namun terlepas dari ketergantungan dengan situasi global, berinvestasi pada emas untuk jangka panjang memang merupakan salah satu alternatif yang menarik. Jadi bagaimanapun kondisinya kedepan, emas bisa jadi alternatif investasi yang menarik,” jelasnya.

Terkait posisi emas di tengah perkembangan teknologi dan semakin beragamnya instrumen investasi, Andy menyebut semuanya kembali pada karakter investor.

Kata dia, kemajuan teknologi membuat akses ke berbagai instrumen investasi semakin mudah, mulai dari saham, kripto, reksa dana, emas, hingga deposito.

Selain emas, Andy memprediksi obligasi ritel negara akan menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat pada 2026, terutama jika tren penurunan suku bunga berlanjut.

“Selain itu pasar saham juga menarik karena tercermin dari kenaikan IHSG yang mencapai 21 persen YTD 2025, sehingga berpotensi semakin naik lagi di tahun 2026,” ujarnya.

Menurut Andy, dengan dukungan teknologi, pasar saham dan pasar modal Tanah Air berpotensi berkembang lebih pesat dibandingkan instrumen tradisional seperti properti atau emas.

Sementara itu, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan harga emas pada dasarnya ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran global. Ketidakpastian ekonomi dan politik dunia menjadi faktor kunci yang mendorong aliran dana ke emas.

“Harga emas sebenarnya tidak hanya di Indonesia, tapi berlaku global. Harga emas tentunya ditentukan oleh demand and supply mechanism,” ujar Eddy.

Ia menjelaskan, ketika kondisi global tidak menentu, investor cenderung memindahkan dananya dari saham dan obligasi ke aset aman seperti emas dan surat berharga pemerintah.

“Akibatnya, yield (suku bunga) obligasi akan naik, harga obligasi turun, harga saham anjlok, harga emas meroket,” jelasnya.

Sebaliknya, saat kondisi ekonomi dan politik global membaik, dana investor biasanya keluar dari emas dan masuk ke aset berisiko.

“Oleh karenanya, yield obligasi akan turun, harga obligasi naik, harga saham naik, harga emas turun,” kata Eddy.

Melihat kondisi saat ini, Eddy menilai peluang harga emas untuk terus naik masih terbuka. Namun, dia juga melihat instrumen pasar modal di Indonesia tetap memiliki prospek positif.

“Dilihat dari kondisi zaman, kemungkinan besar harga emas akan terus naik tahun ini. Instrumen pasar modal seperti obligasi dan saham juga akan terus naik di Indonesia, namun kemungkinan bukan karena gairah investasi masyarakat umum, namun lebih ke arah masuknya uang oleh para pengusaha super kaya,” ujarnya.

Selain itu, Eddy menambahkan aset kripto juga berpotensi semakin diminati seiring perkembangan teknologi.