
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyebut investor saat ini cenderung beralih ke aset lindung nilai seperti emas di tengah fluktuasi nilai tukar termasuk rupiah.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti tidak menampik bahwa rupiah masih mengalami tekanan meski indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY melemah. Namun, dia menilai volatilitas tidak hanya terjadi pada rupiah, melainkan juga pada DXY dan berbagai mata uang global.
Menurut Destry, tingginya ketidakpastian global membuat investor dan pelaku pasar mencari instrumen safe haven. Fenomena tersebut juga tercermin dari langkah sejumlah bank sentral dunia yang mengalihkan cadangan devisa dari dolar ke surat utang pemerintah AS atau United States Treasury (UST).
: Saat Langkah Fiskal Menkeu Purbaya Tersenggol Strategi SRBI Bank Indonesia (BI)
Ketidakpastian yang berlanjut turut mendorong investor memindahkan asetnya ke instrumen lain seperti emas. Kondisi itu, kata Destry, menjadi salah satu faktor yang mendorong lonjakan harga emas di pasar global.
“Jadi terjadi pergseran. Sama dengan mata uang, mereka akan melihat mana yang yield-nya akan memberikan return [imbal hasil] yang tinggi. Uang itu enggak ada yang loyal, uang itu hanya loyal pada berapa sih return yang didapatkan,” terangnya pada Indonesia Economic Outlook di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (9/2/2026).
: : BI Hapus Jibor, Indonia jadi Patokan Utama Pasar Uang
U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView
Di sisi lain, Destry menyebut rupiah dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan penguatan ke kisaran Rp16.700 per dolar AS. Penguatan tersebut dinilai tidak lepas dari komunikasi pemerintah dalam merespons berbagai sentimen negatif di pasar keuangan, termasuk ultimatum Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sebelumnya memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham.
BI, lanjut Destry, akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Otoritas moneter melakukan intervensi melalui pasar spot, non delivery forward (NDF), serta domestic non delivery forward (DNDF), terutama ketika terjadi arus keluar dana besar seperti di pasar surat berharga negara (SBN).
: : Aksi China Borong Emas 40.000 Troy Ounce di Januari, Total Genggam 2.307 Ton
“Gejolak itu suatu hal yang sangat normal di tengah dinamika global yang sangat tinggi. Tahun lalu ada outflow sampai Rp126 triliun, tetapi tahun ini kami lihat beberapa hari, inflow sudah mulai masuk di SBN, masuk di SRBI, saham pun sudah mulai masuk,” pungkasnya.