
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Kalangan investor mulai berebut mengamankan kursi di saham-saham yang secara historis tercatat royal membagikan dividen. Kendati periode pembagian dividen masih cukup jauh, kondisi harga saham yang terdiskon membuat tawaran ini kian menarik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (25/2/2026), kinerja IDX High Dividend 20 telah menguat 4,93% sepanjang tahun berjalan 2026 (YtD). Sementara itu, indeks ternama lainnya seperti LQ45 justru masih terkoreksi 0,41% YtD. Begitu juga IHSG yang masih terkoreksi 3,76% YtD.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menerangkan bahwa hal itu tampak sebagai strategi investor untuk ’mengamankan’ kursi di saham-saham yang memberikan dividen tinggi, terutama sebelum masa RUPS berlangsung.
: Di Bawah Danantara, Saham BUMN Dinilai Menarik lewat Valuasi dan Yield Dividen
”[Kenaikan IDX High Dividend 20] karena front-running dan rotasi ke safe haven sebelum masa RUPS karena antisipasi payout yang besar dan mengincar yield yang tinggi,” katanya saat dihubungi Bisnis, Kamis (26/2/2026).
Pasalnya, Wafi menilai bahwa mayoritas emiten yang tergabung dalam indeks ini berpotensi mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025, terutama pada sektor perbankan dan energi, khususnya batu bara. Hal itu yang membuat investor mengamankan posisi di saham-saham strategis.
: : Batavia Prosperindo (BPII) Terima Dividen dari Anak Usaha Rp28,72 Miliar
Indikasinya kuat. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang membukukan laba senilai Rp57,13 triliun sepanjang tahun lalu, telah mengalami penguatan 8,47% sepanjang tahun berjalan 2026 per Rabu (25/2/2026). Begitu juga dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang telah naik 6,02% YtD seiring dengan torehan laba Rp56,3 triliun pada tahun lalu.
Hal yang sama terjadi pada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang telah menguat 41,59% YtD hingga perdagangan kemarin lantaran spekulasi pasar terhadap harga emas yang kian melonjak memasuki 2026. Ketiga emiten ini tercatat royal membagikan dividen.
: : Bos BRI Beri Bocoran Kisi-Kisi Dividen usai Cetak Laba 2025 Rp57,13 Triliun
Menurut Wafi, kombinasi laba bersih yang solid dan struktur neraca yang minim utang memberikan optimisme kepada pasar mengenai dividend payout ratio yang tinggi di tahun ini.
”Momentum dividen ini menjadi katalis domestik kuat untuk menjaga IHSG dan menarik inflow asing. Apalagi di tengah tren penurunan suku bunga global, yield dividen dari emiten Indonesia menjadi sangat menarik di mata asing,” tegasnya.
Meskipun begitu, Wafi merekomendasikan pendekatan yang selektif bagi saham-saham di indeks ini. Pasalnya, sejumlah saham telah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan selepas tekanan MSCI.
Dia merekomendasikan strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap pada saham-saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Astra International Tbk. (ASII).
Senada, Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Dipta Daniswara, menilai menguatnya indeks seiring dengan langkah investor yang mengambil posisi awal terhadap musim pembagian dividen. Posisi itu bahkan rela diamankan oleh investor saat musim pembagian dividen baru akan terlaksana pada periode Maret—April 2026.
Menurutnya, momentum ini akan membuat IHSG bergerak menguat karena kembali menarik minat investor domestik dan asing untuk mengamankan posisi.
”Hal ini dikarenakan investor bukan hanya mengincar dividen, tetapi juga capital gain jelang cum-date,” katanya kepada Bisnis, Kamis (26/2/2026).
Dia merekomendasikan investor tetap realistis dalam memilih saham. Masih ada potensi dividend trap. Menurutnya, saham-saham yang penurunannya relatif terkontrol selepas ex-date adalah perbankan besar.
”Kinerja emiten IDX High Dividend 20 umumnya variatif antarsektor. ANTM sangat diuntungkan dari harga emas yang tinggi, sementara komoditas batu bara mencatat penurunan laba, sementara sektor perbankan berkinerja moderat. Meskipun begitu, kami melihat peluang dividen tetap terbuka,” tegasnya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.