Tekanan global meningkat, rupiah berpotensi melemah ke Rp 17.050 per dolar AS

Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali tertekan pada perdagangan hari ini, Selasa (7/4), seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan dari faktor domestik.

 Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana memperkirakan rupiah berpotensi terdepresiasi hingga menyentuh level Rp 17.050 per dolar AS berdasarkan kurs referensi JISDOR.

 “Masih ada kemungkinan tekanan lanjutan, sehingga rupiah berpotensi melemah ke Rp 17.050 per dolar AS,” ujarnya kepada Katadata.

 Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka di level di level Rp 17.048 per dolar AS melemah 0,20% atau 37 poin. Hingga pukul 09.08 WIB Rupiah perlahan melemah Rp 17.078 per dolar AS melemah 0,25% atau 43 poin.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya Senin (6/4). Rupiah ditutup pada level Rp17.035 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah 55 poin atau 0,32% dibandingkan penutupan Jumat (3/4) di level Rp16.980 per dolar AS.

Fikri menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Indikasi meluasnya konflik terlihat dari insiden jatuhnya drone di wilayah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Selain itu, Iran (Teheran) juga dilaporkan menolak proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat, yang semakin meningkatkan kekhawatiran pasar. Kondisi ini mendorong pelaku pasar global kembali bersikap risk-off dan beralih ke aset aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, faktor kenaikan harga minyak dunia turut menambah tekanan. Indonesia sebagai negara net importir energi dinilai rentan terhadap lonjakan harga minyak, yang berdampak pada inflasi dan neraca transaksi berjalan.

“Kenaikan harga minyak kemarin juga menjadi faktor tambahan yang menekan rupiah,” kata Fikri.

Dari faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi fiskal. Defisit anggaran Indonesia per Maret 2026 dilaporkan telah melampaui 0,9% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap ruang fiskal pemerintah, sehingga memengaruhi sentimen terhadap aset keuangan domestik.