IHSG anjlok 7,83% ke 8.277 siang ini usai MSCI bekukan perubahan indeks, Rabu (28/1)

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan pada perdagangan sesi I pagi ini setelah MSCI mengumumkan keputusan untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar  Indonesia.

Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG merosot 7,83% ke level 8.277,35 pada perdangan pukul 11.19 WIB. 

IHSG tertekan penurunan seluruh indeks sektoral. Sektor yang turun paling dalam adalah infrastruktur, energi, barang baku, property

dan real estate, transportasi dan teknologi.

Total volume perdagangan di BEI pada pagi ini mencapai 39,46 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 27,35 triliun. 

Sentimen MSCI Tekan IHSG, Analis Waspadai Risiko Aliran Dana Asing Tertahan

Ada 765 saham yang turun, 26 saham yang naik dan 12 saham yang stagnan.

Seluruh saham penghuni indeks LQ45 tidak ada yang menguat, sementara top losers di LQ45 dipimpin PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 15% ke Rp 98.600 per asham. 

Kemudian disusul saham PT XL SMART Telecom Tbk (EXCL) 14,92% ke Rp 3.820 per saham, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 14,81% ke Rp 2.300 per saham.

Disusul saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 14,53% ke Rp 294 per saham dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) turun 13,46% ke Rp 900 per saham.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan keputusan untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar  Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan berpotensi menghambat arus dana investor asing. 

IHSG Anjlok Usai MSCI Bekukan Perubahan Indeks, Rupiah Justru Menguat

Dalam pengumumannya, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Hal ini diterapkan untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.