
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Penerbitan obligasi korporasi diproyeksi tetap ramai pada kuartal I 2026. Hal ini salah satunya didorong kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing).
Economic Research Division PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengatakan, aktivitas penerbitan obligasi korporasi pada awal tahun 2026 menunjukkan resiliensi yang terjaga meskipun pasar dibayangi oleh ketidakpastian global dan sentimen internal seperti kenaikan inflasi dan outlook sovereign rating Indonesia.
Berdasarkan data realisasi hingga Januari 2026, total penerbitan obligasi korporasi telah mencapai Rp 6,35 triliun. Sektor lembaga non-keuangan mendominasi perolehan dana sebesar Rp 3,35 triliun, sedikit melampaui lembaga keuangan yang mencatatkan Rp 3,00 triliun.
Dari sisi tenor, emiten cenderung memilih profil jangka menengah. Tenor 5 tahun (Rp 1,94 triliun) dan 3 tahun (Rp 1,57 triliun) menjadi preferensi utama dibandingkan tenor pendek 1 tahun (Rp 1,11 triliun).
“Kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) dipandang akan menjadi pendorong aktivitas pasar di sisa Kuartal I 2026,” ujar Ahmad kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).
Intip Rekomendasi Teknikal Saham ENRG, DEWA, PGEO dari Analis untuk Kamis (19/2)
Ahmad menambahkan, dengan total surat utang yang jatuh tempo mencapai Rp 26,88 triliun pada periode kuartal I 2026, terutama didorong oleh sektor multifinance (Rp 9,18 triliun) dan pulp & paper (Rp 4,00 triliun). Emiten memiliki kebutuhan mendesak untuk masuk ke pasar guna menjaga stabilitas likuiditas.
Selain refinancing, Ahmad menyebut, momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang terjaga di kisaran 5% turut memicu kebutuhan pendanaan baru untuk modal kerja dan ekspansi investasi.
Di tengah tren suku bunga BI rate yang diproyeksikan akan melandai hingga akhir tahun, emiten cenderung mempercepat emisi untuk mengunci biaya dana yang lebih kompetitif sebelum volatilitas pasar meningkat kembali.
Ahmad mengatakan, masih solidnya prospek penerbitan surat utang terkonfirmasi dalam jalur pipa (pipeline) mandat yang diterima Pefindo per 31 Januari 2026, yakni terdapat 43 perusahaan dengan rencana penerbitan mencapai Rp 73,85 triliun.
Dari jumlah itu, sektor multifinance (Rp 20,15 triliun), industri bubur kertas dan tissue (Rp 8,92 triliun), serta perbankan (Rp 7,71 triliun) akan menjadi motor penggerak penerbitan obligasi.
“Besarnya porsi rencana penerbitan ini menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap daya beli domestik dan prospek transmisi penurunan suku bunga yang diharapkan dapat menurunkan beban bunga pinjaman di masa depan,” jelas Ahmad.
Perubahan Outlook Moody’s
Lebih lanjut Ahmad menjelaskan, kondisi makroekonomi domestik saat ini berada dalam fase transisi yang krusial. Sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh perubahan outlook peringkat sovereign Indonesia oleh Moody’s menjadi negatif pada awal Februari 2026.
Tindakan ini dinilai telah memicu volatilitas jangka pendek, yang tercermin pada kenaikan Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia ke level 79,61 bps, mengindikasikan persepsi risiko yang meningkat di mata investor global.
Saham Syariah Berpeluang Konsolidasi Positif Saat Ramadan, Ini Analisisnya
Selain itu, terdapat tekanan dari sisi eksternal, terutama anomali kenaikan US Treasury Yield yang sempat mendorong imbal hasil SBN tenor 10 tahun ke level 6,325% di akhir Januari.
“Namun, saya memandang fundamental domestik masih cukup suportif. Inflasi yang terjaga di level 3,55% (YoY) pada Januari dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI Rate) menuju 4,25% pada akhir tahun memberikan harapan bagi stabilisasi biaya dana. Kendati demikian, ketidakpastian eksternal dan tingginya pasokan surat utang pemerintah menjadi faktor negatif,” terang Ahmad.
Terkait proyeksi imbal hasil (yield) obligasi korporasi, Ahmad memproyeksikan yield obligasi korporasi peringkat AAA tenor 3 tahun akan bergerak melandai secara bertahap menuju akhir Kuartal I-2026.
“Berdasarkan model analisis yang mengacu pada tren historis dan konsensus ekonomi, saya memperkirakan yield akan berada di kisaran 5,75% hingga 5,85% pada akhir Maret 2026,” ucap Ahmad.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi-asumsi berikut. Antara lain imbal hasil pemerintah tenor 3 tahun diharapkan akan stabil di kisaran 5,30%-5,40%, seiring dengan meredanya volatilitas akibat rilis data ekonomi domestik yang tetap resilien.
Serta spread antara obligasi korporasi AAA dan SBN tenor 3 tahun akan tetap berada pada rentang 40-50 bps. “Meskipun ada tekanan pada profil risiko nasional, permintaan investor terhadap aset berkualitas tinggi (AAA) tetap solid sebagai strategi safe haven di pasar pendapatan tetap,” imbuh Ahmad.
Prospek Saham Syariah Berpeluang Pulih Saat Ramadan, Ini Kata Analis