Altcoin bergerak selektif, pasar tunggu arah jelas Bitcoin dan sentimen AI

Ussindonesia.co.id — JAKARTA. Pergerakan pasar kripto masih cenderung terbatas. Mengutip CoinMarketCap pada Senin (12/1) pukul 17.30 WIB, harga Bitcoin (BTC) turun 2,60% dalam sepekan ke level US$90.437,62.

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai pelemahan Bitcoin tersebut bukan disebabkan oleh persoalan fundamental kripto, melainkan kombinasi sentimen global dan sikap kehati-hatian investor. Setelah sempat menguat mendekati area US$ 94.000 pada pekan sebelumnya, pasar mulai memasuki fase ambil untung dan menunggu kepastian data makro, terutama menjelang rilis inflasi Amerika Serikat (CPI) pada 13 Januari.

Menurut Fyqieh, penurunan tipis ini lebih mencerminkan fase konsolidasi pasar. “Jadi, penurunan tipis Bitcoin dalam sepekan ini lebih mencerminkan sikap hati-hati investor yang sedang menunggu kepastian data makro, bukan sinyal pelemahan besar,” ujarnya pada Kontan, Senin (12/1/2026).

Adi Sarana Armada (ASSA) Suntik Modal Rp 20 Miliar ke Anak Usaha

Sementara itu, Co-founder Cryptowatch Christopher Tahir menilai minimnya katalis menjadi alasan utama tekanan harga. “Minimnya katalis penggerak harga menjadikan banyak pelaku pasar mengamankan posisi mereka alih-alih menahannya lebih lama,” kata Christopher.

Di luar Bitcoin, peluang altcoin dinilai masih sangat selektif. Fyqieh melihat sektor prediction market serta ekosistem BNB Smart Chain (BSC) mulai menunjukkan peningkatan aktivitas on-chain. Aktivitas transaksi dan fee di jaringan BSC bahkan sempat melampaui Solana, menandakan penggunaan ekosistem yang kembali aktif. Selain itu, adanya agenda BSC Fermi hard fork pada 14 Januari dinilai berpotensi menjadi katalis jangka pendek bagi token di jaringan tersebut.

Namun, Christopher memiliki pandangan bahwa fokus pasar cenderung mengarah ke Ethereum. “Menurut saya, akan cenderung ke ether saja,” ujar dia.

Untuk altcoin sepanjang tahun ini, Fyqieh menilai bahwa pergerakan Bitcoin masih menjadi faktor dominan. Selama Bitcoin belum membentuk tren bullish yang jelas dan konsisten, altcoin berisiko tertahan karena investor besar cenderung menghindari aset berisiko tinggi. Selain itu, faktor makroekonomi, geopolitik, serta arah kebijakan moneter global masih membayangi pasar kripto secara keseluruhan.

Di sisi lain, Christopher menilai hingga saat ini belum ada narasi kuat yang benar-benar mampu mendorong reli altcoin secara luas. Ia menyebut irisan antara kripto dan kecerdasan buatan (AI) memang masih menyimpan potensi, namun belum cukup kuat untuk menjadi penggerak utama harga.

Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS di Awal Pekan, Begini Proyeksi untuk Selasa (13/1)

Memasuki 2026, prospek altcoin dinilai tidak merata. Fyqieh menegaskan bahwa tidak semua altcoin akan ikut menguat meskipun pasar membaik. Fokus investor perlu lebih selektif, mengutamakan likuiditas, momentum, dan katalis spesifik masing-masing token. Sementara Christopher menilai pergerakan altcoin masih akan mengikuti arah Bitcoin.