Arah pergerakan rupiah menanti keputusan RDG BI hari ini

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih tertekan hingga Selasa (20/1/2026). Pada hari ini, Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan keputusan terkait suku bunga acuan BI Rate yang dapat mempengaruhi arah pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah tipis 0,01% atau 68 poin ke level Rp16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026). Adapun pada saat bersamaan, indeks dolar AS juga melemah 0,74% ke level 98,66.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif, namun berisiko ditutup melemah di kisaran Rp16.950-Rp16.980 pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026).

: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 21 Januari 2026

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS baik domestik maupun global. “Dari global, sikap Presiden Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya untuk Greenland. Kekhawatiran akan intervensi militer AS ini semakin meningkat,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026). 

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView

Sementara itu mengenai prospek penurunan suku bunga, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil. 

: : Ini Peluang Masuknya Investor Asing ke Pasar SBN Rupiah Dekati Rp17.000

Dari sentimen domestik, Dana Moneter Internasional merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1%, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5%. 

Terlepas dari itu, prospek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF ini masih jauh lebih cepat dibanding banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,1% pada 2026 dan 2027 itu hanya tertinggal dari Filipina yang prospek pertumbuhannya hingga 5,6% pada 2026 dan 5,8% pada 2027, serta India yang tumbuh 6,4% pada 2026 dan 2027.

: : Pelemahan Rupiah Tingkatkan Risk Premium Yield SBN

Selain itu, pada hari ini, BI akan mengumumkan keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026 terkait penentuan BI Rate pada pukul 14.00 WIB. Tentunya, keputusan suku bunga acuan ini ditunggu oleh pasar, juga terkait langkah BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, Bank Sentral menyatakan akan terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah setelah terjadi pelemahan cukup signifikan. Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea pihaknya konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. 

Faktor Penentu Pergerakan Rupiah

Adapun faktor pendorong pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. 

“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” terang Erwin melalui keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026). 

Kendati demikian, lanjut Erwin, pelemahan Rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global. Misalnya, won Korea Selatan yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%. 

BI pun mengeklaim stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi bank sentral yang terus dilakukan secara berkesinambungan. 

Berbagai upaya stabilisasi dilakukan di antaranya melalui melalui intervensi non-delivery forward (NDF) di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non-delivery forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. 

Di sisi lain, otoritas moneter turut mencatat berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026. 

Erwin menerangkan bahwa inflow tersebut juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, berdasarkan premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.

Tidak hanya itu, ketahanan eksternal turut tercermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor. Pasokan cadangan devisa itu dinilai memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” terang Erwin. 

Di sisi lain, BI menyatakan bakal terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.