
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah sejak meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran memicu gejolak di pasar keuangan global.
Situasi memanas setelah penutupan Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia—serta serangan balasan Iran ke fasilitas AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Perkembangan tersebut mendorong lonjakan harga energi, dengan minyak dilaporkan menembus kisaran US$ 80 per barel. Kenaikan ini memicu sentimen risk-off lintas aset dan memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi serta stabilitas pasokan global.
Di tengah tekanan itu, emas menguat di sekitar US$ 5.100 per troy ons seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai, sementara saham teknologi Amerika Serikat hanya mencatat rebound terbatas.
Bursa Asia Tersungkur, Pasar Waspadai Guncangan Energi akibat Perang Timur Tengah
Pasar kripto yang beroperasi 24 jam menjadi salah satu barometer paling cepat dalam mencerminkan perubahan sentimen investor.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat terkoreksi ke US$ 63.100 pada akhir pekan, lalu melonjak ke US$70.000 di awal pekan sebelum bergerak di kisaran US$68.000. Kapitalisasi pasar kripto global tercatat sekitar US$2,33 triliun.
Wakil Presiden Indodax, Antony Kusuma, menilai volatilitas tajam ini menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap dinamika geopolitik dan risiko makro. “Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sangat dipengaruhi headline,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (4/3/2026).
Pada fase awal gejolak, investor cenderung mengambil sikap risk-off untuk menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian berlanjut, sebagian pelaku pasar beralih ke pendekatan yang lebih defensif.
Antony menekankan pentingnya menghindari keputusan berbasis FOMO, menerapkan diversifikasi portofolio, serta disiplin dalam manajemen risiko.
Kapal Tanker Terancam, Asuransi War Risk Ditarik Imbas Konflik Timur Tengah
Ia menambahkan, dalam kondisi pasar yang tidak menentu, sebagian investor memilih menyeimbangkan eksposur melalui aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin atau aset kripto berbasis emas, sambil tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama.
Di saat yang sama, Indodax menegaskan komitmen menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi, serta memperkuat edukasi risiko bagi pengguna.
“Disiplin manajemen risiko dan perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional di tengah ketidakpastian global,” kata Antony.
Selain itu, Indodax juga terus meminta investor melakukan riset mandiri (do your own research) dan menerapkan manajemen risiko yang ketat.
Di tengah tekanan makro saat ini, strategi investasi bertahap seperti dollar cost averaging dinilai tetap relevan untuk membantu memitigasi volatilitas pasar.