BEI berlakukan trading halt usai IHSG anjlok 8% ke 8.261

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan mekanisme trading halt usai indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles lebih dari 8% pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026).

Data RTI Business pukul 14.01 WIB menunjukkan, IHSG terkoreksi 8% atau 718,44 poin ke level 8.261,78. Rentang pergerakan IHSG berada di antara 8.261 hingga 8.596.

Total perdagangan saham mencapai 45,39 miliar lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp31,92 triliun dan frekuensi sebanyak 2.95 juta kali. Tercatat 28 saham menguat, 768 saham melemah, dan 8 saham stagnan. Kapitalisasi pasar atau market cap Bursa tercatat sebesar Rp14.985 triliun.

: Kekayaan Prajogo Pangestu Paling Anjlok Saat IHSG Rontok

Anjloknya IHSG ditekan oleh koreksi saham BBCA -6%, BMRI -5,61%, BBRI -5,24%, TLKM -12,44%, BUMI -14,53% RAJA -15,75% dan AMMN -12,50%.

Kondisi tersebut membuat BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada pukul 09:00:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).

: : Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Rabu, 28 Januari 2026

“Perdagangan akan dilanjutkan pukul 13:43:00 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan,” kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan resmi, Rabu (28/1/2026).

Imbas Pengumuman MSCI

Untuk diketahui, IHSG terperosok pagi ini setelah MSCI mengumumkan peringatan bagi pasar modal Indonesia dengan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham dalam negeri lantaran kekhawatiran isu free float dan aksesibilitas pasar. 

: : Saham DSSA, BUVA, RAJA Paling Boncos ARB 15% Saat IHSG Jeblok Hari Ini (28/1)

Riset Sucor Sekuritas menyebutkan setidaknya terdapat tiga poin dari putusan MSCI hari ini: tidak terdapat peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak ada penambahan Investible Market Index (IMI), dan berdampak pada tidak ada peningkatan bobot pada papan utama untuk rebalancing Februari 2026. 

“Ditambah potensi pengurangan bobot negara berkembang dan bahkan reklasifikasi pasar negara berkembang yang mungkin terjadi dalam tinjauan Mei 2026,” kata analis Sucor Sekuritas dalam risetnya, Rabu (28/1/2026). 

Sucor menilai, apabila ketidaksepakatan mengenai free float berlanjut dan Indonesia belum mampu membuktikan perbaikan transparansi, maka hal ini dinilai dapat memicu penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Market Index.

Saham-saham seperti PTRO, BUMI, IMPC, atau PANI, sebagai saham-saham yang telah masuk ke dalam MSCI, disebut akan kehilangan momentumnya selepas kejadian ini. 

Meskipun demikian, Sucor menilai terdapat beberapa saham fundamental baik seperti perbankan yang kembali rebound setelah aksi panic selling dan memperlihatkan reaksi knee jerk. 

“Di lain sisi, pasar obligasi terlihat relatif tenang dan belum terdeteksi adanya panic selling pagi ini,” katanya.

Sebagai informasi, MSCI adalah perusahaan riset investasi global yang menyediakan indeks saham, data, dan alat analisis portofolio yang menjadi acuan utama bagi manajer investasi dan investor di seluruh dunia. Sementara itu, Indeks MSCI adalah indeks yang diluncurkan oleh MSCI, untuk mencerminkan pergerakan harga saham pada berbagai kategori yang dibentuk.