
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran terkontraksi sebesar 2,7% secara bulanan (month to month/MtM) pada Januari 2026. Pada bulan sebelumnya, penjualan eceran masih ekspansi atau tumbuh sebesar 3,1% MtM.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa penurunan penjualan eceran itu lebih dipengaruhi oleh faktor musiman.
“Penjualan eceran pada Januari 2026 terkontraksi sebesar 2,7% MtM sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah HBKN [hari besar keagamaan nasional] Natal dan Tahun Baru,” jelas Denny dan keterangannya, Selasa (10/3/2026).
: BI: Penjualan Eceran Tumbuh 3,1% pada Desember 2025, Diperkirakan Berlanjut
Dia menjelaskan perkembangan penjualan eceran tercermin dari indeks penjualan riil (IPR). Indeks tersebut menunjukkan mayoritas kelompok tercatat alami penurunan penjualan, seperti Peralatan Informasi dan Komunikasi (-7,7% MtM); Suku Cadang dan Aksesori (-3,8% MtM); Makanan, Minuman, dan Tembakau (-2,5% MtM); dan Subkelompok Sandang (-3,0% MtM).
Sementara secara tahunan (year on year/YoY), penjualan eceran mengalami pertumbuhan sebesar 5,7%, lebih tinggi dibandingkan di 3,5% pada bulan sebelumnya. Berdasarkan kelompoknya, terjadi kenaikan bersumber dari Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (15,9% YoY); Makanan, Minuman, dan Tembakau (8,1% YoY); dan Subkelompok Sandang (3,4% YoY).
: : Penjualan Eceran November 2025 Terdongkrak Nataru, Akhir Tahun Diprediksi Meningkat
Proyeksi Februari Naik
Sementara pada bulan selanjutnya atau Februari 2026, BI memproyeksikan kinerja penjualan eceran meningkat. IPR Februari 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 6,9% YoY, lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,7% YoY.
“Kinerja penjualan eceran tersebut didorong oleh meningkatnya penjualan mayoritas kelompok, terutama Kelompok Suku Cadang dan Aksesori; Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya; dan Subkelompok Sandang,” ujar Denny.
: : Penjualan Eceran Oktober 2025 Balik Arah usai Kontraksi, Prediksi November Terkerek Nataru
Penjualan eceran secara bulanan juga diperkirakan tumbuh sebesar 4,4% pada Februari 2026, yang dipengaruhi peningkatan permintaan masyarakat saat Ramadan dan persiapan HBKN Idulfitri 1447 H.
Lebih lanjut, dari sisi harga, diperkirakan terjadi penurunan tekanan inflasi pada tiga bulan yang akan datang yaitu April 2026. Potensi peningkatan inflasi tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 (153,9) yang lebih tendah dibandingkan dengan periode sebelumnya (175,7).
Sebaliknya, tekanan inflasi pada enam bulan yang akan datang alias Juli 2026 diperkirakan akan meningkat. Alasannya, IEH Juni 2026 diprediksi sebesar 157,1, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 156,3.
“[Peningkatan tersebut] didorong oleh peningkatan harga saat tahun ajaran baru,” tutup Denny.