
Ussindonesia.co.id BALIKPAPAN — Pembangunan jalur kereta api trans Kalimantan diproyeksi meningkatkan PDRB riil mencapai 1,38% hingga 1,64% dari baseline 2024.
Hal ini terungkap dalam hasil kajian komprehensif Bank Indonesia bersama International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan menyatakan kajian tersebut mengungkap bahwa pembangunan jalur kereta api dalam kurun waktu 25 tahun yang menghubungkan seluruh wilayah Kaltim dengan regional Kalimantan lainnya berpotensi mengakselerasi investasi hingga 7,91%.
: Bocoran Diskon Tiket Pesawat hingga Kereta Api pada Lebaran 2026
Lebih jauh , sektor konstruksi diprediksi menjadi primadona dengan lonjakan output mencapai 7,03%, diikuti industri mesin, barang tambang logam, serta sektor hilir pertambangan dan perkebunan.
“Dampak yang dihasilkan dapat berupa tarikan permintaan (demand pull) terhadap sejumlah output yang dihasilkan oleh sektor hulu yang menyediakan input untuk pembangunan jalur kereta, seperti sektor besi baja, barang galian non-logam, dan sektor lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/2/2026).
: : Siaga Cuaca Ekstrem, KAI Siapkan Jurus Amankan Operasional Kereta Api
Kendati demikian, BI mencatat urgensi pembangunan jalur kereta api ini mencuat dari kondisi infrastruktur transportasi Kaltim yang masih jauh dari memadai.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2020 mencatat bahwa hanya 53,95% rumah tangga di Kaltim memiliki akses nyaman ke transportasi umum dengan jarak maksimal 0,5 kilometer, sekaligus menempatkan provinsi ini di peringkat 22 se Indonesia.
: : 131.756 Tiket Kereta Api Mudik Lebaran 2026 Ludes Terjual, Masih Ada Sisa?
Indeks aksesibilitas yang tercatat sebesar 1.614,0 semakin menggarisbawahi keterbatasan konektivitas regional. Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan berlebihan pada infrastruktur jalan raya untuk distribusi darat.
Secara umum, Jajang menyebutkan infrastruktur transportasi laut menjadi tulang punggung distribusi barang di Kaltim dengan total pengangkutan mencapai 104.642 ton sepanjang 2024 melalui 10 pelabuhan utama.
Pelabuhan Kuala Samboja mendominasi dengan 25% dari total barang yang diangkut via laut. Sementara itu, jalur udara melalui Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan yang mencatat rata-rata 50.969 ton per tahun pada periode 2021 hingga 2024.
“Kehadiran Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara semakin menambah daftar pekerjaan rumah. Sebagai superhub ekonomi nasional, IKN menuntut penyediaan infrastruktur transportasi yang mumpuni untuk mendukung logistik maupun mobilitas penduduk,” imbuhnya.
Menurut Jajang, potensi besar Kaltim di sektor pertambangan, perkebunan, dan kehutanan memerlukan jaringan logistik yang efisien dan berkelanjutan.
Dari sisi ketenagakerjaan, pembangunan jalur kereta api diprakirakan menciptakan developmental effect dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 1,72% pada tahap konstruksi dan meningkat menjadi 1,86% pada tahap operasional.
Upah riil juga diproyeksikan naik 1,80% akibat pergeseran komposisi pekerjaan dari padat karya menuju tenaga kerja terampil pada logistik dan operasi rel.
Pada aspek harga agregat, keberadaan jalur kereta api berpotensi menurunkan biaya distribusi barang kebutuhan pokok yang diprakirakan berdampak pada penurunan inflasi sebesar 0,33%, meski tidak akan menjadi disinsentif bagi aktivitas usaha seiring geliat ekonomi yang tetap tumbuh.
Menariknya, kajian ini juga mempertimbangkan aspek transisi ekonomi hijau. Pada fase operasional dengan skenario transisi energi, penurunan permintaan batubara global tidak serta merta melemahkan fondasi ekonomi Kaltim.
Jajang mengungkapkan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sebesar 1,22% menyebabkan pergeseran komposisi pekerjaan dari sektor tambang yang terkontraksi menuju industri berbasis agro, pertambangan non-batubara, dan jasa rantai pasok yang lebih stabil.
Lebih lanjut, dampak pembangunan jalur kereta api tidak berhenti di Kaltim semata. Efek spillover positif diprediksi menyebar ke provinsi-provinsi tetangga melalui penurunan biaya logistik dan peningkatan mobilitas faktor produksi.
Kalimantan Tengah diproyeksikan meraup manfaat sebesar 0,42% hingga 0,49%, Kalimantan Selatan 0,35% hingga 0,42%, Kalimantan Barat 0,41%, serta Kalimantan Utara 0,38%.
“Temuan simulasi ini memberikan bukti empiris bahwa konektivitas kereta api berpotensi meningkatkan resiliensi pertumbuhan jangka panjang melalui produktivitas regional, memperkuat integrasi ekonomi Kalimantan secara sistemik, sekaligus menekankan urgensi diversifikasi ekonomi,” jelasnya.