
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) menguat setelah Undang-Undang Klarifikasi Pasar Aset Digital (CLARITY Act) didorong maju untuk pemungutan suara oleh Komite Perbankan Senat Amerika Serikat (AS). Senator AS Tillis dan Alsobrooks telah memimpin perubahan pada redaksi RUU tersebut untuk menyeimbangkan antara mengizinkan inovasi dan melindungi simpanan.
Mengutip Coin Market Cap Jumat (15/5/2026) pukul 13.30 WIB, harga Bitcoin menguat 0,87% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 80.489. Jika dilihat dalam sepekan, harga Bitcoin menguat 1,20%.
Chee Zheng Feng, Analyst DBS Bank mengatakan, didorongnya Clarity Act menandai kompromi konstruktif bagi bank dan perusahaan kripto, melarang pengembalian seperti bunga simpanan untuk stablecoin tetapi memungkinkan insentif berbasis penggunaan.
MNC Bank Agendakan RUPST pada 22 Juni 2026
Hal ini seharusnya meredakan kekhawatiran tentang pelarian simpanan dari bank, sekaligus memberi ruang bagi perusahaan kripto untuk memberi insentif penggunaan stablecoin oleh pelanggan untuk perdagangan, transaksi, atau staking.
“Dalam jangka panjang, ini seharusnya memfasilitasi transformasi stablecoin menjadi aset dengan kasus penggunaan yang produktif, mendukung proposisi nilai mata uang kripto,” ujar Chee Zheng Feng dalam keterangan resminya, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, perusahaan yang terlibat dalam ekosistem stablecoin—baik fintech maupun lembaga keuangan tradisional—dapat mendapatkan manfaat dari peningkatan kebutuhan penerbitan, penyimpanan, dan transaksi seputar stablecoin.
Lebih lanjut Feng melihat mata uang kripto terus pulih pada bulan April dan awal Mei, memberikan imbal hasil yang sebanding dengan saham. Bitcoin dan Ether mencatatkan kenaikan bulanan berturut-turut sebesar 18% dan 8% sejak akhir Maret. Kinerja tersebut secara umum sejalan dengan S&P 500 dan Nasdaq, yang naik sekitar 10% – 15% selama periode yang sama. Sebaliknya, harga emas sebagian besar stagnan.
Selain itu, mata uang kripto utama mencatat arus masuk bersih ETF yang kuat dan pembelian Digital Asset Treasury (DATCO). Bitcoin diuntungkan dari permintaan yang kuat, dengan arus masuk ETF mencapai US$ 2 miliar bersamaan dengan pembelian US$ 4 miliar oleh Strategy. Ethereum mencatat arus masuk ETF yang lebih moderat sebesar US$ 356 juta dan pembelian sekitar US$ 760 juta oleh Bitmine.
“Pembelian gabungan yang mendekati US$ 1 miliar tersebut mewakili sekitar 0,4% dari kapitalisasi pasar Ethereum pada akhir 26 Maret, sebanding dengan pembelian penting Bitcoin sebesar US$ 6 miliar, yang juga setara dengan kira-kira 0,45% dari kapitalisasi pasar Bitcoin pada akhir 26 Maret,” jelas Feng.
Fahmi Almuttaqin, Analis Reku mengatakan prospek Bitcoin masih positif meski harga minyak kembali naik ke level US$ 100 per barel baru-baru ini. Harga secara rata-rata di bulan Mei kemungkinan akan lebih rendah dibanding bulan April, sehingga inflasi bulan Mei kemungkinan akan lebih terkendali yang dapat kembali meningkatkan optimisme pasar.
“Dengan harga Bitcoin yang mampu bertahan di atas US$ 80.000 setelah data inflasi AS yang naik di atas perkiraan, prospek Bitcoin masih cukup positif,” ujar Fahmi.
Fahmi menilai sentimen Clarity Act AS berpotensi memberikan dampak luas baik terhadap Bitcoin maupun altcoin khususnya di sektor keuangan. Pergantian pimpinan The Fed juga berpotensi menciptakan sentimen positif khususnya jika arah kebijakan Warsh dirasa akan lebih suportif terhadap pasar kripto. Selain itu, dinamika geopolitik AS-Iran juga masih menjadi faktor yang cukup berpengaruh bagi pasar kripto, sinyal eskalasi maupun de-eskalasi masih akan diperhatikan oleh para pelaku pasar.
“Meskipun ketidakpastian masih cukup tinggi, banyak indikator yang saat ini mengkonfirmasi akhir dari siklus bearish,” kata Fahmi.
Terkait strategi, Fahmi mengatakan, bagi investor konservatif dapat masuk bertahap menggunakan strategi akumulasi seperti dollar cost averaging menjadi opsi yang menarik. Sedangkan bagi trader profesional, melakukan pengelolaan dana secara lebih aktif dengan riding the wave dapat berpotensi lebih mengoptimalkan keuntungan.
“Tren harga Bitcoin ke depan masih cukup positif dengan potensi berlanjutnya rally jika level harga saat ini berhasil dipertahankan,” terang Fahmi.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur memprediksi dalam skenario positif (bullish), jika inflow ETF kembali kuat dan sentimen pasar membaik, Bitcoin berpeluang naik ke kisaran US$ 90.000 hingga US$ 100.000 pada akhir semester I – 2026. Dukungan dari investor institusional dan narasi sebagai digital store of value dapat menjadi pendorong utama kenaikan.
“Secara keseluruhan, pada kuartal II – 2026 masih akan diwarnai volatilitas tinggi, namun dengan peluang kenaikan yang tetap terbuka jika faktor pendukungnya terpenuhi,” ucap Fyqieh.
MSCI Umumkan Rebalancing Index Periode Mei, Begini Efeknya ke IHSG