
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kenaikan tajam harga minyak dunia dan mandeknya negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Asia pada Jumat (15/5/2026).
Kekhawatiran investor terhadap lonjakan inflasi dan tekanan suku bunga kembali meningkat, terutama setelah gangguan di Selat Hormuz masih membatasi arus perdagangan energi global.
Indeks saham Asia emerging markets yang dihitung MSCI turun hampir 2%, dengan tekanan terbesar datang dari Korea Selatan.
Indeks KOSPI anjlok lebih dari 6% setelah saham-saham teknologi dan semikonduktor mengalami koreksi tajam. Saham Samsung Electronics jatuh 8,6%, sementara SK Hynix merosot 7,7%.
Bursa Asia Menghijau Kamis (14/5), Ditopang Optimisme AI dan Pertemuan Trump-Xi
Tekanan di pasar muncul di tengah reli panjang yang sebelumnya didorong harapan tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah. Sejak akhir Maret, indeks regional Asia sempat menguat hampir 20% setelah muncul sinyal potensi perdamaian antara AS dan Iran.
Senior Asia and Global EM Equities Investment Specialist BNP Paribas Asset Management, Song Zhe, mengatakan tekanan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi aksi ambil untung setelah reli kuat sejak April lalu.
“Pasar sedang mencerna kenaikan tajam sebelumnya, bukan sepenuhnya berubah menjadi risk-off secara luas,” ujarnya.
Fokus investor juga tertuju pada perkembangan diplomatik di Beijing, setelah Presiden AS Donald Trump menyelesaikan kunjungan kenegaraan selama dua hari ke China.
Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut sepakat menolak Iran memiliki senjata nuklir dan ingin jalur perdagangan di Selat Hormuz tetap terbuka.
Meski demikian, pasar masih khawatir terhadap lambatnya perkembangan negosiasi AS-Iran. Senior Financial Market Analyst Capital.com Kyle Rodda mengatakan kondisi itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan arah suku bunga global.
KOSPI Cetak Rekor Tertinggi Jumat (15/5), Bursa Asia Naik Saat Pertemuan Trump–Xi
“Kekhawatiran terbesar ada pada dampak harga energi yang lebih tinggi terhadap inflasi dan suku bunga,” katanya.
Harga minyak dunia sendiri terus menanjak dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan lebih dari 5%. Pernyataan Trump bahwa China ingin membeli minyak dari AS turut menopang kenaikan harga energi global.
Di kawasan Asia Tenggara, pasar Malaysia ikut tertekan meski ekonomi negara itu tumbuh lebih tinggi dari proyeksi pada kuartal I-2026. Pertumbuhan ditopang permintaan domestik yang dinilai cukup kuat menahan dampak konflik Timur Tengah.
Bank sentral Malaysia bahkan menaikkan sedikit proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026, namun tetap memperingatkan potensi kenaikan inflasi tahun ini. Meski demikian, bursa saham Malaysia dan nilai tukar ringgit sama-sama melemah sekitar 0,4%.
Bursa Asia Bervariasi di Pagi Ini (11/5), Indeks Kospi Cetak Rekor Tertinggi Baru
Sementara itu, indeks saham Thailand turun 1,1% setelah sebelumnya reli 3,7% dalam dua sesi perdagangan terakhir. Di Filipina, pasar saham melemah 0,6%, sedangkan indeks Taiwan turun 1,4% setelah saham TSMC terkoreksi.
Penguatan indeks dolar AS turut menambah tekanan di pasar Asia. Indeks dolar diperkirakan mencatat kenaikan mingguan terbaik sejak awal Maret, sehingga membebani mata uang regional seperti won Korea Selatan dan peso Filipina yang sama-sama menuju pelemahan mingguan sekitar 2%.