Bursa Saham Kembali Ambrol, IHSG 21 Mei 2026 Ditutup Anjlok 3,37 Persen

Ringkasan Berita:

  • Pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG merosot tajam sebesar 212,88 poin (3,37 persen) ke level 6.105,623 akibat aksi jual masif, meskipun sempat menguat di sesi pagi hingga menyentuh level tertinggi 6.378,811.
  • Pergerakan indeks saham blue chip (LQ45) ambles ke level 618,25 (turun harian 0,65 persen)
  • Sementara itu, saham-saham likuid berkapitalisasi besar (IDX80) mencatat koreksi harian terdalam sebesar 1,12 persen ke posisi 95,810

 

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Pasar modal Indonesia kembali diselimuti awan mendung pada perdagangan jelang akhir pekan ini.

Hal ini terlihat pada sesi penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Composite Index yang tercatat kembali mengalami koreksi tajam dan ditutup merosot signifikan pada Kamis (21/5/2026) sore.

Berdasarkan data terkini Live Feed Indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) per pukul 15:49:59 WIB, IHSG terlempar dari zona nyaman dan parkir di level 6.105,623.

Angka ini menunjukkan penurunan tajam sebesar 212,88 poin atau ambles sekitar 3,37 persen dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level 6.318,5.

Sepanjang jam perdagangan hari ini, indeks gabungan sebenarnya sempat menunjukkan taji di sesi pagi hari.

Di sesi Kamis pagi ini, IHSG Composite sempat merangkak naik hingga menyentuh level tertinggi di angka 6.378,811.

Namun, aksi jual masif yang melanda pasar membuat IHSG terus tertekan hebat hingga sempat menyentuh level terendah intraday di angka 6.080,954, sebelum akhirnya berhasil rebound tipis di menit-menit terakhir menjelang bel penutupan.

Tekanan Jual Masif Sejak Awal Pembukaan

Jika membedah grafik intraday selama Kamis 21 Mei 2026 ini, terlihat jelas adanya pola tekanan jual masif (panic selling) yang polanya seragam di berbagai indeks utama sejak bel pembukaan berbunyi.

Grafik IHSG (Composite) sendiri sempat dibuka di zona hijau di atas level 6.318,500.

Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama.

Sebelum pukul 10.00 WIB, grafik langsung menukik tajam ke bawah dan terus merosot menembus level psikologis 6.200.

Tekanan paling ekstrem terjadi setelah jeda siang sekitar pukul 13.30 WIB ke atas, di mana indeks sempat terjun bebas mendekati batas support 6.000 sebelum akhirnya ditutup sedikit menanjak di level 6.105,623 atau melemah  0,82?ri basis perdagangan harian terkini.

Sementara itu saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) pada indeks LQ45 juga menunjukkan pergerakan yang identik.

Dibuka menguat tipis di zona hijau pada pagi hari, grafik LQ45 langsung longsor melewati level 630 hingga sempat terjerembap ke area terendah harian di sekitar level 614, sebelum ditutup di level 618,25 atau turun harian 0,65 persen.

Hal ini menandakan saham-saham unggulan menjadi motor penggerak utama jatuhnya indeks hari ini.

Sementara itu saham-saham dengan likuiditas tinggi yang tergabung dalam IDX80 justru mencatatkan koreksi harian yang paling dalam secara persentase grafik di antara ketiganya, yakni anjlok sebesar 1,12% ke posisi 95,810.

Grafik menunjukkan bahwa setelah pukul 14.00 WIB, indeks ini sempat kehilangan momentum dan menyentuh area support terendahnya di level 92, yang mengonfirmasi bahwa tekanan jual tidak hanya menyasar saham lapis satu, melainkan juga merembet ke saham-saham lapis kedua (second liner).

Saham Unggulan Kompak Bertumbangan

Ambrolnya IHSG kali ini dipicu oleh merosotnya hampir seluruh indeks acuan dan sektoral di bursa domestik yang kompak memerah. Investor tampaknya cenderung menahan diri dan melakukan aksi ambil untung massal (profit taking).

Selain jatuhnya indeks LQ45 sebesar 1,97 persen, kondisi serupa juga melanda Indeks KOMPAS100 yang rontok hingga 3,1 persen ke posisi 806,568.

Tekanan paling berat melanda papan indeks DBX yang terjungkal hingga 5,86 persen ke level 2.898,418, disusul oleh indeks Jakarta Islamic Index (JII) yang melorot 4,4 persen ke level 384,293, serta Indeks IDXSMC-COM yang ikut terpangkas 4,37 persen ke posisi 392,655.

Di sisi lain, indeks berbasis perbankan seperti INFOBANK15 tercatat menjadi yang paling kokoh menahan gempuran hari ini meskipun tetap harus ditutup di zona merah dengan koreksi tipis sebesar 0,89 persen di level 840,238.

Kejatuhan massal disertai volume tekanan grafik yang tajam di lantai bursa pada perdagangan 21 Mei 2026 ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar modal mengenai arah tren pergerakan pasar domestik untuk beberapa hari ke depan, mengingat sentimen negatif tampaknya masih mendominasi perdagangan pekan ini.

(Tribunnews.com/Bobby)