IHSG anjlok 3,54 persen, saham barang baku dan energi jadi penekan utama

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (21/5/2026) sore ditutup melemah, tertekan saham-saham sektor barang baku dan energi. IHSG ditutup turun 223,56 poin atau 3,54 persen ke posisi 6.094,94. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 melemah 14,28 poin atau 2,26 persen ke posisi 616,40.

Fixed Income and Macro Strategist PT Mega Capital Indonesia Lionel Priyadi mengatakan sentimen utama pelemahan IHSG berasal dari rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui BUMN ekspor yang dinilai berpotensi memengaruhi perusahaan dan pelaku pasar.

“Sentimen utama pelemahan IHSG datang dari rencana sentralisasi ekspor komoditas oleh BUMN ekspor yang dianggap akan merugikan perusahaan maupun pemegang saham. Sentimen negatif datang dari investor domestik maupun asing,” ujar Lionel saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Pelaku pasar domestik dan asing merespons rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam (SDA), termasuk pengaturan mengenai BUMN sebagai eksportir tunggal sejumlah komoditas strategis.

Pasar juga mencermati pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN khusus ekspor sektor sumber daya alam.

PT DSI berada langsung di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan tugas memperkuat tata kelola ekspor sejumlah komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), batu bara, dan paduan besi (ferro alloy).

Salah satu alasan pembentukan BUMN khusus ekspor tersebut ialah dugaan praktik kurang bayar (underinvoicing) ekspor komoditas yang disebut merugikan negara hingga Rp 15.400 triliun selama 34 tahun.

   

IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, tekanan jual masih berlanjut hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor terkoreksi. Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 6,96 persen, diikuti sektor energi sebesar 6,74 persen dan sektor barang konsumen nonprimer sebesar 5,70 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yakni SOTS, BOBA, ENAK, APLI, dan KOBX. Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar yaitu BUKK, IRSX, ENRG, POLU, dan RAJA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.145.783 kali transaksi dengan jumlah saham diperdagangkan mencapai 35,77 miliar lembar saham senilai Rp 18,49 triliun. Sebanyak 88 saham menguat, 663 saham melemah, dan 69 saham tidak bergerak.

Bursa saham regional Asia juga bergerak variatif. Indeks Nikkei menguat 1.853,59 poin atau 3,10 persen ke level 61.658,00. Sementara indeks Shanghai melemah 84,91 poin atau 2,04 persen ke posisi 4.007,28, indeks Hang Seng turun 264,60 poin atau 1,03 persen ke level 25.386,52, dan indeks Strait Times menguat 0,80 poin atau 0,02 persen ke posisi 5.045,71.