
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Saham-saham emiten energi baru terbarukan (EBT) bergerak fluktuatif di tengah sentimen global berupa keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menarik diri dari organisasi energi bersih dunia. Riset analis menyebut, risiko utama emiten EBT seperti panas bumi salah satunya adalah komitmen dan kebijakan global.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (7/1/2026) menandatangani perintah eksklusif untuk menghentikan dukungan AS terhadap 66 organisasi global, termasuk organisasi di sektor energi bersih seperti Renewable Energy Agency dan Renewable Energy Policy Network for the 21st Century.
Pada penutupan pasar Rabu (8/1/2026), harga saham emiten pengelola panas bumi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) ditutup turun 1,67%. Berikutnya, emiten yang memiliki portofolio proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA) tergerus 9,71%.
Bahkan, saham emiten yang tengah bertransformasi dari energi fosil ke energi bersih, PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) merosot 10,42%. Sisanya, saham emiten berportofolio pembangkit listrik panas bumi dan energi angin, PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN) susut 0,52%.
Pada perdagangan intraday hari ini, Jumat (9/1/2026) hingga pukul 13.43 WIB, harga saham BREN masih tertekan 0,79% ke Rp9.475, sedangkan PGEO belum berubah dari level Rp1.180, serta ada TOBA yang mulai menguat 0,29% ke Rp885 dan OASA yang juga naik 5,38% ke Rp392.
: Ikut Tender Waste to Energy Danantara, SOFA Bentuk Konsorsium Baru
Devi Harjoto, Analis Ekuitas OCBC Sekuritas dalam risetnya menyebut risiko kunci PGEO sebagai emiten energi bersih adalah perubahan kebijakan pemerintah atas komitmen transformasi menuju energi bersih.
Devi memberikan rekomendasi beli PGEO dengan target harga Rp1.500, dengan alasan katalis positif berupa strategi ekspansi jangka panjang perseroan menuju kapasitas 1,7 giga watt (GW) pada 2028-2033, kondisi arus kas keuangan perseroan yang solid, sampai faktor akses yang kuat terhadap pembiayaan berbiaya rendah. Di sisi lain, proyeksi tersebut juga disertai dengan risiko investasi utama.
“Perubahan kebijakan pemerintah, produksi yang tidak optimal, rentan terhadap risiko pembiayaan akibat capex yang lebih tinggi, serta keterlambatan dalam rencana ekspansi,” tulis Devi.
Berbicara soal perubahan kebijakan pemerintah, Ketua Global Carbon Project Rob Jackson menilai penarikan diri AS dari organisasi energi bersih berpotensi menghambat upaya global dalam menekan emisi gas rumah kaca.
“Langkah ini memberi alasan bagi negara lain untuk menunda aksi dan komitmen mereka,” ujarnya dalam laporan The Guardian.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.