Pesona saham EBT di Indonesia kala Trump menarik AS dari Organisasi Energi Bersih

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Beberapa saham emiten energi bersih terbarukan (EBT) di lantai bursa terpantau turun signifikan pada perdagangan Kamis (8/12026), tepat sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut keanggotaan AS dari 66 organisasi global, termasuk di sektor energi bersih.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/1/2027), harga saham emiten pengelola panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) ditutup turun 1,67%. Berikutnya, emiten yang memiliki portofolio proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA) tergerus 9,71%. 

Bahkan, saham emiten yang tengah bertransformasi dari energi fosil ke energi bersih, PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) merosot 10,42%. Sisanya, saham emiten berportofolio pembangkit listrik panas bumi dan energi angin, PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN) susut 0,52%.

: IHSG Pekan Depan Berpotensi Konsolidasi, CENT hingga AGII Masuk Radar Analis

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan bahwa ada kekhawatiran investor akan tersendatnya putaran investasi global di sektor energi bersih.

“Jadi risk off, koreksi kemarin karena re-rating valuasi. Selama ini saham EBT dihargai premium karena bumbu ESG dan arus dana hijau global. Dengan cabutnya AS, investor khawatir tren green boom global akan melambat drastis,” ujar Wafi kepada Bisnis, Jumat (9/1/2026).

Pada 2025 lalu, saham-saham EBT sempat tersengat oleh kehadiran Danantara yang menerbitkan Patriot Bond untuk pendanaan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), ditambah dukungan Presiden Indonesia Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025. 

Wafi menilai, komitmen pemerintah Indonesia bagi persepsi investor dampaknya akan minor jika disandingkan dengan sentimen yang dibawa oleh negara adikuasa seperti Amerika Serikat.

“Sentimen Danantara memang kuat di 2025 sebagai penopang pendanaan domestik. Tapi sektor EBT itu capital intensive dan sangat bergantung pada standar atau arah kebijakan global. Jadi euforia lokal kalah oleh ketakutan kalau skema pendanaan hijau global bakal mandek atau bubar,” ujarnya.

Mengingat bahwa emiten EBT membutuhkan pendananaan yang besar, Wafi mengatakan bahwa berkurangnya komitmen global akan berdampak pada cost of fund emiten EBT. Hal ini juga akan mempengaruhi kondisi fundamental keuangan emiten.

“Emiten EBT butuh pinjaman bunga rendah atau green financing untuk ekspansi. Kalau AS cabut, lembaga keuangan global mungkin akan lebih ketat atau menaikkan bunga pinjaman untuk proyek hijau karena risiko politik naik,” tandasnya.