Cek rekomendasi saham ASII, DRMA, AUTO, BOLT untuk perdagangan Senin (5/1/2026)

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Kinerja pasar otomotif nasional diperkirakan menutup 2025 di bawah ekspektasi, seiring tren penjualan mobil yang terus melandai sepanjang tahun. Kondisi ini menjadi sentimen negatif yang berpotensi berlanjut ke 2026, membuat emiten sektor otomotif dan suku cadang masih menghadapi tantangan.

Untuk diketahui pasar otomotif nasional sepanjang 2025 kemungkinan besar tidak mencapai target awal. Dengan tren bulanan yang cenderung melandai, pemerintah menilai target 800 ribu unit semakin sulit diwujudkan. Artinya, penjualan mobil pada tahun lalu akan lebih rendah dibandingkan 2024.

Gaikindo mencatat penjualan wholesales (pabrik ke dealer) mobil mencapai 865.723 unit sepanjang tahun 2024. Sementara hingga November 2025, penjualan mobil baru mencapai 710.084 unit, atau turun 9,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja Indeks Saham Barang Material Berpeluang Tumbuh Positif, Ini Pendorongnya

Sejumlah analis pun memberikan rekomendasi saham emiten yang fokus menggarap komoditas otomotif dan suku cadang. Simak ulasan lengkap rekomendasi saham sektor tambang emas untuk perdagangan Senin (5/1/2026).

1. PT Astra International Tbk (ASII)

ASII terus melanjutkan strategi diversifikasi bisnis ke sektor-sektor yang lebih defensif terhadap fluktuasi komoditas, yakni tengah fokus ke mineral, infrastruktur, dan kesehatan. Di sisi otomotif, masih ada harapan untuk mengerek pangsa pasar divisi otomotif melalui segmen kendaraan listrik (EV).

ASII memperkirakan pangsa pasar BEV nasional akan naik jadi 12%-15% pada 2026. Selain itu, pada 2026 diperkirakan terjadi pemulihan ringan pada penjualan mobil seiring membaiknya kondisi makro dan potensi pelonggaran suku bunga.

Rekomendasi: Buy 

Target harga: Rp 7.100 per saham

Senior Equity Analyst Phillip Sekuritas Helen

2. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA)

DRMA memperkirakan volume ekspor akan tumbuh 50% pada 2026F, didukung oleh kontrak pasokan baru untuk salah satu model EV milik klien OEM DRMA di AS yang akan datang. Mulai 2026F, pemerintah akan menghapus insentif untuk kendaraan listrik impor CBU dan hanya mengarahkan insentif kepada unit yang dirakit secara lokal dan memenuhi persyaratan TKDN. DRMA mengonfirmasi bahwa diskusi dengan para produsen otomotif tersebut masih berlangsung.

Pada 28 November 2025, perusahaan mengakuisisi 82% saham PT Mah Sing Indonesia (MSI) dengan nilai transaksi sebesar Rp 41 miliar. MSI meningkatkan kapabilitas DRMA di segmen komponen plastik, yang semakin penting seiring adopsi material yang lebih ringan pada model EV.

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp 1.410 per saham

Analis Sinarmas Sekuritas Christine Nathania

January Effect Membuka Peluang IHSG Bergerak Positif

3. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)

Bisnis suku cadang pengganti (replacement parts) yang diperkirakan tetap kokoh secara struktural, didukung oleh peningkatan kepemilikan kendaraan dan ekspansi unit ritel bermargin lebih tinggi milik AUTO, yaitu Astra Otoservice, yang menargetkan pembukaan 15–20 gerai per tahun.

Ekspansi ekspor yang berkelanjutan, seiring prinsipal memperdalam lokalisasi di Indonesia dan memanfaatkan Indonesia sebagai basis manufaktur untuk pasar regional, serta ekspansi kapasitas pabrik di Filipina guna memenuhi permintaan yang lebih tinggi. Astra Otopower juga berkelanjutan, sudah ada 59 titik per September 2025 untik mempertegas komitmen di sektor teknologi hijau.

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp 3.200 per saham

Analis Maybank Sekuritas Paulina Margareta

4. PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT)

BOLT terus berinovasi dan melakukan pengembangan produk secara aktif dengan menjalin kerja sama baru. Hingga September 2025, BOLT telah memperoleh 12 kontrak baru dengan total nilai lebih dari Rp 6,5 miliar. Dari jumlah tersebut, dua kontrak ditujukan secara khusus untuk ekspor langsung ke India, sementara sepuluh kontrak lainnya menyasar klien domestik di sektor otomotif, alat berat, dan industri umum. 

Secara keseluruhan, kontrak-kontrak ini diperkirakan BOLT akan memberikan tambahan penjualan konsolidasi sekitar Rp 2 miliar per bulan selama dua tahun ke depan. Ke depan, BOLT juga melihat peluang besar di sektor nonotomotif. Industri alat berat, khususnya, diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan.

Rekomendasi: Hold atau swing trading

Target harga: Rp 1.100 per saham

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki