Cek strategi dan rencana ekspansi Alkindo (ALDO) genjot kinerja di 2026

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) menyiapkan sejumlah langkah ekspansi pada 2026 guna memperkuat pertumbuhan kinerja. Produsen kemasan ini mulai memperluas bisnis ke segmen kemasan konsumen atau consumer packaging, meningkatkan penetrasi pasar ekspor ke Amerika Serikat, serta membangun fasilitas produksi baru untuk mendukung peningkatan kapasitas.

Direktur Utama Alkindo Naratama Herwanto Sutanto mengatakan, ekspansi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas sumber pertumbuhan di luar bisnis industrial packaging yang selama ini menjadi kontributor utama.

Menurutnya, Alkindo selama ini banyak melayani kebutuhan kemasan industri atau business-to-business (B2B). Namun dalam beberapa tahun terakhir perusahaan mulai menggarap pasar yang lebih dekat dengan konsumen akhir melalui produk consumer packaging atau business-to-consumer (B2C).

“Selama beberapa tahun terakhir kami memang fokus pada industrial packaging yang melayani kebutuhan industri. Tapi dalam dua tahun terakhir kami mulai mengeksplorasi consumer packaging yang langsung bersentuhan dengan konsumen,” kata Herwanto kepada Kontan.

Stockbit dan Bibit Pacu Investasi Digital

Langkah ini ditempuh seiring perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama setelah meningkatnya layanan pemesanan makanan secara daring serta pertumbuhan e-commerce yang membutuhkan berbagai solusi kemasan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan Alkindo adalah kemasan berbahan kertas cokelat yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti styrofoam untuk kemasan makanan. Produk ini dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus tetap terjangkau bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Herwanto menjelaskan, selama ini terdapat dua pilihan kemasan makanan yang umum digunakan, yakni kemasan berbahan kertas putih yang relatif ramah lingkungan namun lebih mahal, serta styrofoam yang murah tetapi kurang ramah lingkungan.

Melihat kondisi tersebut, Alkindo mencoba menghadirkan solusi baru dengan memanfaatkan kertas coklat hasil daur ulang sebagai bahan kemasan makanan.

“Kami melihat ada celah di situ. UMKM membutuhkan kemasan yang ramah lingkungan tetapi tetap terjangkau secara biaya. Karena itu kami memperkenalkan kemasan kertas coklat yang bisa menggantikan styrofoam,” jelasnya.

Produk kemasan tersebut kini mulai digunakan pada berbagai layanan pengiriman makanan dan terus dikembangkan untuk berbagai kebutuhan kemasan konsumen lainnya.

Selain kemasan makanan, perusahaan juga mulai mengembangkan solusi kemasan untuk sektor non-pangan, termasuk material pengganti bubble wrap dalam proses pengiriman barang. Inisiatif ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan kemasan dalam industri perdagangan elektronik.

Siang Ini, Rupiah Melemah ke Rp 16.935 per Dolar AS

Di sisi lain, Alkindo juga memperkuat lini usaha hulu melalui anak perusahaan PT Eco Paper Indonesia (Ecopaper) yang memproduksi kertas coklat berbahan baku daur ulang. Secara struktur bisnis, Alkindo berperan sebagai operating holding yang membawahi Ecopaper sebagai produsen bahan baku utama kertas kemasan.

Herwanto menyebut Ecopaper menjadi fondasi penting dalam rantai bisnis Alkindo karena menyediakan pasokan kertas daur ulang yang kemudian diolah menjadi berbagai produk kemasan.

“Ecopaper itu membuat kertas coklat dari bahan baku daur ulang. Saya sering berseloroh bahwa kami ini bukan membuat kertas, tetapi mengolah sampah,” ujarnya.

Bahan baku kertas tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari limbah produksi industri, kertas bekas konsumsi rumah tangga dan ritel, hingga kertas pascakonsumsi yang dikumpulkan melalui jaringan pengumpul.

“Secara prinsip kertas bisa didaur ulang, tetapi tidak semua. Ada beberapa yang berasal dari industri dengan bahan kimia berbahaya yang tidak dianjurkan untuk diproses kembali,” kata Herwanto.

Dari sisi operasional, mesin kedua Ecopaper yang mulai beroperasi pada tahun 2023 menjadi salah satu faktor yang akan mendorong peningkatan kapasitas produksi. Pada fase awal pengoperasiannya, perusahaan sempat mengalami kerugian selama dua tahun akibat proses penyesuaian produksi.

Namun pada 2025 fasilitas tersebut mulai mencapai titik impas, sehingga pada 2026 diharapkan dapat memberikan kontribusi keuntungan bagi perusahaan.

“Kami sudah mencapai break even pada 2025. Tahun 2026 kami harapkan sudah bisa menghasilkan profit,” ungkap Herwanto.

  ALDO Chart by TradingView  

Saat ini tingkat utilisasi fasilitas Ecopaper telah mencapai sekitar 85% pada 2025 dan ditargetkan meningkat hingga lebih dari 90% pada tahun ini. Selain itu, perusahaan juga melakukan proses debottlenecking untuk meningkatkan efisiensi serta menambah kapasitas produksi.

Dari sisi kinerja, Alkindo menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 18% pada 2026. Sementara itu, laba bersih diproyeksikan dapat meningkat hingga sekitar 50% seiring meningkatnya kontribusi Ecopaper serta pertumbuhan bisnis consumer packaging.

Menurut Herwanto, kombinasi peningkatan kapasitas di lini hulu dan ekspansi di segmen hilir akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja perusahaan.

“Pertumbuhan itu berasal dari dua hal. Pertama dari Ecopaper yang terus meningkatkan efisiensi dan kapasitas. Kedua dari ekspansi consumer packaging yang mulai berkembang,” jelasnya.

Selain memperkuat pasar domestik, Alkindo juga mulai menggarap peluang ekspor, khususnya ke Amerika Serikat. Herwanto menilai perubahan dinamika perdagangan global membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk memperluas pasar.

Menurutnya, kebijakan tarif yang membuat produk dari China menjadi kurang kompetitif di pasar Amerika Serikat menciptakan ruang bagi produsen dari negara lain, termasuk Indonesia.

“Kami melihat ada peluang karena produk China menjadi kurang kompetitif akibat kebijakan tarif. Ini menjadi celah bagi kami untuk masuk,” katanya.

MTO Tak Diperpanjang, PIPA Siapkan Rebranding dan Ekspansi Usaha Baru

Saat ini ekspor Alkindo ke Amerika Serikat masih relatif kecil, yakni sekitar 8 hingga 10 kontainer per bulan. Meski demikian, perusahaan optimistis kontribusi ekspor dapat meningkat seiring penguatan kapasitas produksi.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, Alkindo tengah membangun pabrik baru yang difokuskan pada produksi consumer packaging. Fasilitas ini berlokasi di kawasan Padalarang, Jawa Barat, dan saat ini masih dalam tahap persiapan pembangunan.

Perusahaan telah menyelesaikan pembelian lahan dan tengah melakukan pekerjaan awal sebelum konstruksi dimulai setelah periode Lebaran. Targetnya, pabrik baru tersebut dapat selesai pada kuartal III-2026 dan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026.

Dari sisi investasi, Alkindo mengalokasikan belanja modal sekitar Rp100 miliar pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan pabrik baru, pembelian mesin produksi, serta kebutuhan modal kerja.

“Sumber pendanaan berasal dari kombinasi pinjaman bank dan dana internal perusahaan,” ujar Herwanto.

Kinerja Emiten Tambang Terimbas Tekanan Harga Batubara, Intip Prospeknya pada 2026

Selain ekspansi bisnis, Alkindo juga terus memperkuat komitmen terhadap praktik bisnis berkelanjutan. Perusahaan mengusung konsep green product, green process, dan green financing dalam pengembangan bisnisnya.

Pada aspek proses produksi, perusahaan telah memasang panel surya dengan kapasitas sekitar 3 megawatt di fasilitas Ecopaper dan berencana menambah kapasitas serupa dalam waktu dekat.

Dengan berbagai langkah ekspansi tersebut, manajemen Alkindo optimistis kinerja perusahaan dapat tumbuh lebih kuat dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya permintaan kemasan yang lebih ramah lingkungan serta peluang pasar baru di luar negeri.