
Ussindonesia.co.id Investasi saham kini semakin diminati oleh masyarakat luas sebagai instrumen untuk membangun kekayaan jangka panjang secara disiplin dan terencana.
Meskipun menawarkan potensi imbal hasil yang menarik, pasar modal tetap memiliki risiko fluktuasi yang perlu disikapi dengan pemahaman dasar yang kuat agar investor tidak terjebak pada keputusan emosional.
Kurangnya literasi keuangan sering kali membuat investor baru mengalami kerugian karena hanya mengikuti tren tanpa analisis yang matang.
Dana DP Rumah Pertama: Tiga Strategi Jitu Agar Cepat Terkumpul
Oleh karena itu, membangun strategi yang terstruktur dan praktis menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan aset di pasar ekuitas.
Melansir data dari Investopedia, terdapat tujuh tahapan krusial yang perlu diperhatikan oleh individu yang ingin mulai membangun portofolio saham secara bertahap dan terukur.
1. Menetapkan Tujuan Investasi yang Spesifik
Langkah awal yang paling menentukan adalah menentukan tujuan keuangan yang ingin dicapai. Tujuan ini sebaiknya tidak bersifat umum seperti “ingin kaya”, melainkan harus terukur secara angka dan waktu.
Misalnya, mengumpulkan dana pensiun sebesar Rp 500.000.000 dalam jangka waktu 20 tahun.
Tujuan yang spesifik membantu investor dalam menentukan profil risiko serta strategi pemilihan saham yang tepat.
Selain itu, target yang jelas berfungsi sebagai panduan agar investor tetap konsisten meskipun kondisi pasar sedang mengalami volatilitas tinggi.
2. Evaluasi Kemampuan Pendanaan
Sebelum terjun ke bursa, setiap individu wajib melakukan audit terhadap kondisi keuangan pribadinya.
Prinsip dasar dalam investasi adalah menggunakan “uang dingin” atau dana yang tidak dialokasikan untuk kebutuhan pokok maupun dana darurat.
Sangat disarankan untuk memastikan ketersediaan dana cadangan yang mencukupi untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.
Langkah ini sangat penting agar investor tidak terpaksa menjual aset sahamnya saat harga sedang terkoreksi hanya demi memenuhi kebutuhan mendesak.
Simulasi KPR 2026: Gaji Rp6 Juta, Berapa Batas Maksimal Cicilan Rumah?
3. Mengenali Toleransi Risiko dan Gaya Investasi
Setiap investor memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda terhadap penurunan nilai aset. Memahami toleransi risiko sejak awal akan mencegah kecemasan berlebih saat pasar sedang turun.
- Investor Konservatif: Biasanya lebih cocok memilih saham berkapitalisasi besar (blue chip) yang cenderung stabil dan rutin membagikan dividen.
- Investor Agresif: Cenderung memilih saham pertumbuhan (growth stocks) yang memiliki potensi kenaikan harga tinggi namun dengan risiko yang juga besar.
Selain itu, tentukan apakah Anda akan menjadi investor aktif yang mengelola portofolio sendiri secara harian, atau investor pasif melalui instrumen seperti reksadana indeks.
4. Memilih Jenis Akun Investasi yang Sesuai
Pemilihan jenis akun akan memengaruhi kewajiban pajak dan fleksibilitas penarikan dana di masa depan.
Di Indonesia, investor dapat membuka rekening saham melalui perusahaan sekuritas yang akan menyediakan Rekening Dana Nasabah (RDN).
Pastikan untuk memperhatikan detail biaya administrasi, biaya transaksi (fee buy dan fee sell), serta kemudahan proses pendaftaran yang kini mayoritas sudah dapat dilakukan secara daring atau online.
5. Memilih Broker atau Sekuritas Terpercaya
Peran broker sangat vital sebagai perantara transaksi di bursa efek. Kredibilitas broker harus menjadi prioritas utama guna menjamin keamanan dana nasabah.
Berdasarkan saran para ahli keuangan yang dikutip dari Investopedia, berikut adalah kriteria dalam memilih broker:
- Terdaftar dan diawasi oleh otoritas resmi seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
- Memiliki aplikasi perdagangan (trading system) yang stabil dan mudah dioperasikan.
- Menyediakan laporan riset, analisis emiten, dan data pasar secara real-time.
6. Proses Pendanaan Akun (Top Up)
Setelah akun investasi berhasil dibuka, tahap selanjutnya adalah menyetorkan modal awal. Untuk meminimalkan risiko fluktuasi harga, strategi dollar cost averaging atau menyetor dana secara rutin setiap bulan sangat dianjurkan bagi pemula.
Kebiasaan menyisihkan dana secara berkala ini jauh lebih efektif untuk membentuk mentalitas disiplin dibandingkan dengan menyetor modal besar dalam satu waktu secara impulsif.
Investasi sebaiknya menjadi bagian dari rencana arus kas bulanan yang tetap.
Tonton: Rekor! Konsumsi Listrik China Tembus 10,37 Triliun KWh
7. Memulai Pembelian Saham Secara Bertahap
Langkah terakhir adalah melakukan eksekusi pembelian. Hindari langsung mengalokasikan seluruh modal pada satu saham saja.
Lakukan analisis sederhana terhadap kinerja keuangan perusahaan, prospek industri, serta manajemen emiten tersebut.
Mulailah dengan nominal yang kecil terlebih dahulu sambil terus mempelajari dinamika pergerakan pasar. Seiring bertambahnya jam terbang dan pemahaman, investor dapat meningkatkan alokasi dan melakukan diversifikasi ke berbagai sektor industri untuk memitigasi risiko.