
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Prospek penyerapan pasar terhadap produk Surat Berharga Negara (SBN) ritel dinilai tidak akan pudar, meskipun tren penurunan suku bunga diprediksi berlanjut pada 2026. Kalangan analis menilai masih terdapat sejumlah katalis yang mampu mendongkrak daya tarik SBN ritel nantinya.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian, memprediksi penyerapan pasar terhadap SBN ritel cenderung tumbuh pada tahun ini dibandingkan dengan 2025. Hal itu didorong oleh terus bertumbuhnya jumlah investor di pasar modal.
“Meskipun potensi kupon akan turun di tahun ini, tetapi hal tersebut belum akan menurunkan pamor SBN ritel secara signifikan,” kata Fajar kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).
Bahkan, di tengah peluang Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga di 2026 dan berpotensi menurunkan imbal hasil yang ditawarkan SBN ritel, Fajar menilai bahwa permintaan terhadap instrumen investasi ini masih solid lantaran ditopang oleh pertumbuhan investor yang masif.
Terlebih, pemerintah melalui DJPPR kini berorientasi untuk menerbitkan surat utang dengan tenor pendek dan tengah berupaya memperkuat inklusi melalui penerbitan di pasar modal domestik. Hal-hal tersebut dinilai menjadi pendorong terhadap permintaan SBN ritel.
“Yang masih menjadi daya tarik SBN ritel adalah return lebih kompetitif dibandingkan deposito dengan tingkat stabilitas arus kas yang sama, risk free, serta potensi capital gain seiring berlanjutnya tren pelonggaran moneter,” katanya.
: Deretan Saham Blue Chips Konglomerat BYAN, DCII, AMMN Pendorong IHSG Awal 2026
Senada, Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, menilai peluang terserapnya SBN ritel di tengah persaingan instrumen ritel antara SBN dan reksa dana pendapatan tetap (RDPT), tetap terbuka lebar pada tahun ini.
Meskipun, data OJK menunjukkan total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana pada produk RDPT tercatat bertumbuh secara konsisten sepanjang 2025. Pertumbuhannya bahkan terjadi secara bulanan.
Total AUM RDPT per Desember 2025 tercatat senilai Rp244,44 triliun. Realisasi itu mencerminkan kenaikan hingga 66,93% year-on-year (YoY) dari realisasi AUM Rp146,43 triliun pada Desember 2024.
Berdasarkan data tersebut, dana kelolaan atau AUM RDPT mulai menanjak secara signifikan sejak Juli 2025. Hal itu terjadi lantaran pada periode Juli–Desember 2025, Bank Indonesia secara aktif memangkas suku bunga dari posisi 5,50% pada Juni hingga 4,75% pada akhir tahun.
: Adu Daya Tarik Reksa Dana Pendapatan Tetap vs SBN Ritel pada 2026
Meskipun begitu, di tengah potensi semakin kecilnya imbal hasil yang ditawarkan SBN ritel dibandingkan dengan RDPT lantaran pemangkasan suku bunga lanjutan, Fikri menilai instrumen ini masih memiliki daya tarik berupa likuiditas.
“Apalagi juga ada siklus tahunan, seperti Imlek dan Lebaran. Kalau mereka [investor] hanya menempatkan di deposito, saya pikir mungkin imbal hasilnya terbatas. Tapi kalau ke RDPT, mereka butuh waktu untuk mendapatkan kupon karena baru dibayar 3 bulan,” katanya, Senin (5/1/2026).
Fikri memprediksi, pemangkasan suku bunga diprediksi akan terjadi lebih dari satu kali pada 2026. Hal itu terutama akan disebabkan oleh risiko geopolitik yang belakangan panas dan inflasi akibat dampak dari bencana di Sumatra.