
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) melaju pada awal 2026 dan mengukir rekor baru 8.859. Saham blue chips konglomerat kembali ke palagan dan menjadi pendorong (top leaders) indeks komposit.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 1,27% atau 111,05 poin menuju 8.859,19. Indeks komposit hari ini dibuka pada level 8.778,73 dan sempat menyentuh posisi tertingginya di 8.859,19.
Tercatat, sebanyak 446 saham naik, 246 saham turun, dan 114 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar alias market cap mencapai Rp16.194 triliun.
Dalam jajaran top leaders, penguatan IHSG dalam 2 hari perdagangan awal tahun ini didorong oleh kenaikan sejumlah saham blue chips yang terafiliasi dengan kongolomerat nasional.
Salah satunya, saham emiten batu bara Low Tuck Kwong PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang melonjak 11,15% menjadi Rp17.450.
Selain itu, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) milik konglomerat Toto Sugiri terpantau naik 11,19% ke posisi Rp223.975 per saham. Di susul oleh saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang mencatat kenaikan sebesar 8,95% menjadi Rp7.000. AMMN merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang terafiliasi dengan Grup Salim dan keluarga Panigoro.
Berikutnya, saham induk Grup Astra, PT Astra International Tbk. (ASII) juga masuk top leaders IHSG awal 2026 dengan kenaikan 2,61% ke posisi Rp6.875 per saham.
: Harga Emas Global Memanas, Saham BRMS, ANTM, HRTA Cs Tancap Gas
Deretan saham blue chips konglomerat itu kembali unjuk gigi sebagai motor pendorong IHSG pada awal tahun ini. Tak hanya blue chips, empat saham lapis kedua milik konglomerat Grup Bakrie juga bercokol dalam jajaran top leaders IHSG year-to-date.
Merujuk data BEI, ada empat emiten Grup Bakrie tersebut, yaitu BRMS yang naik 15,91%, BUMI melonjak 26,78%, VKTR melaju 18,93%, dan DEWA terapresiasi 12,69%.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan mulai berjalannya January Effect sejak 2 Januari 2026 mendorong risk appetite pasar dan menjaga momentum bullish IHSG pada awal tahun.
Pada perdagangan pekan ini, 5-9 Januari 2026, Hari optimistis IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan dengan dukungan January Effect, berlanjutnya akumulasi investor asing, serta rilis data ekonomi domestik yang berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar.
Dari dalam negeri, terdapat beberapa indikator penting yang akan dirilis pada pekan ini meliputi data neraca dagang, inflasi, serta Consumer Confidence Index. Konsensus pasar memperkirakan neraca dagang tetap solid dan inflasi berada dalam level terkendali.
Kondisi tersebut diharapkan dapat memperkuat sentimen positif pasar, mencerminkan stabilitas makroekonomi dan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.
“Meski demikian, pergerakan IHSG tetap akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama arah kebijakan global. Namun secara keseluruhan, peluang penguatan masih terbuka,” kata Hari dalam keterangan tertulis pada Senin (5/1/2026).
Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan AS dan Venezuela, termasuk kabar serangan militer, berpotensi memengaruhi harga komoditas global, khususnya minyak, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan.
“Manajemen risiko pun tetap perlu diperhatikan, mengingat dalam kondisi pasar yang cenderung bullish, potensi aksi profit taking tetap terbuka,” ujar Hari.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang 8.725–8.780, seiring terjaganya momentum bullish.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Fanny Suherman, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, mencatat indeks-indeks saham Wall Street ditutup menguat signifikan pada perdagangan Senin (5/1/2026), meskipun AS melancarkan serangan militer ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Selain itu, pelaku pasar menilai langkah tersebut tidak akan memicu konflik geopolitik yang meluas dan berpotensi mengganggu stabilitas pasar global.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1,23%, S&P 500 naik 0,64% dan Nasdaq Composite menguat 0,69%. Saham sektor energi memimpin penguatan, seiring optimisme bahwa perusahaan minyak AS akan diuntungkan dari potensi pembangunan kembali infrastruktur energi Venezuela.
Senada, bursa saham Asia juga menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026). Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,97%, Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,03%, Kospi Korea Selatan melesat 3,43%, Taiex Taiwan menguat 2,57% dan S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,1%.
Fanny memaparkan IHSG kemarin ditutup naik 1,27%, tetapi disertai dengan net sell asing sekitar Rp9,98 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BUMI, MEDC, BBRI, EMAS dan JPFA.
“IHSG potensi koreksi wajar hari ini dengan support 8.780-8.800 dan resistance 8.880-8.900. Trading idea hari ini INET, BRMS, MBMA, UNTR, ARCI, dan HRTA.”
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.