Deretan sektor saham yang untung dan buntung saat rupiah melemah dekati Rp17.000

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah yang kian mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS menghadirkan dampak yang tak seragam di pasar saham. Di tengah tekanan mata uang, sejumlah sektor justru diuntungkan, sementara sektor lain mulai merasakan tekanan biaya dan margin, menciptakan peta saham yang diuntungkan dan tertekan secara sektoral.

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai arah pasar saham Indonesia pada 2026 masih berada dalam jalur konstruktif. IHSG diproyeksikan bergerak menuju target base case 9.400 dan optimist case 10.200, ditopang pemulihan laba emiten, perbaikan margin di sektor-sektor utama, serta pelonggaran kondisi keuangan domestik.

“Meski volatilitas global tetap menjadi risiko, arah jangka menengah IHSG masih positif selama stabilitas makro dan kredibilitas kebijakan tetap terjaga,” ujar Andrey, Senin (19/1/2026).

: Depresiasi Rupiah Bawa Yield SUN 10 Tahun Melemah ke 6,33%

Namun, optimisme berbasis ekuitas itu tidak sepenuhnya tercermin di pasar valuta asing. Menurut Andrey, rupiah cenderung bergerak terbatas karena permintaan struktural dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga global, serta kecenderungan investor asing melakukan lindung nilai. Dengan demikian, 2026 lebih tepat dipandang sebagai tahun optimisme selektif di pasar saham dengan kehati-hatian di sisi mata uang.

Tekanan terhadap rupiah juga disorot BRI Danareksa Sekuritas yang mengidentifikasi sejumlah faktor penekan nilai tukar. Chief Economist and Head of Research Helmy Kristanto menyebut pelemahan rupiah terlihat anomali di tengah kuatnya arus masuk asing ke pasar obligasi dan ekuitas.

: : Rupiah Jeblok, Purbaya Sesumbar: Kalau Saya Bank Sentral, 2 Malam Selesai

“Hasil ini membingungkan jika dibandingkan dengan korelasi historis,” paparnya dalam riset, dikutip Selasa (20/1/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah tipis 0,01% atau 68 poin ke level Rp16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026). Adapun pada saat bersamaan, indeks dolar AS juga melemah 0,74% ke level 98,66.

: : Rupiah Merosot, Investor Asing Net Buy Rp6,59 Triliun di Pasar Saham RI

Menurut Helmy, kekhawatiran defisit fiskal sempat membebani sentimen awal 2026, meski kemudian ditegaskan pemerintah akan menjaga defisit di bawah batas 3% PDB. Faktor lain datang dari penguatan indeks dolar AS (DXY) yang kembali mendekati level 100, seiring ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang lebih ketat dan data ekonomi AS yang solid.

Dari sisi domestik, kebijakan likuiditas Bank Indonesia dinilai tak lagi memperketat rupiah secara signifikan melalui operasi SRBI.

Di pasar saham, arus masuk asing tetap deras namun terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini mendorong IHSG sempat menyentuh rekor di kisaran 9.100, meski rupiah tetap berada di bawah tekanan.

Sektor yang Terdampak Pelemahan Rupiah

Dalam lanskap rupiah yang melemah, saham berbasis ekspor muncul sebagai pihak yang diuntungkan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut pelemahan rupiah secara alami menguntungkan emiten berorientasi ekspor, sementara saham berbasis impor menghadapi tekanan biaya.

Pandangan senada disampaikan Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan. Ia menilai sektor komoditas seperti pertambangan emas, nikel, batu bara, hingga crude palm oil (CPO) cenderung diuntungkan karena pendapatan dalam dolar AS meningkat, sementara sebagian biaya masih dalam rupiah.

“Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor, seperti consumer goods tertentu, farmasi, dan manufaktur dengan bahan baku impor, berpotensi tertekan akibat kenaikan biaya dan tekanan margin,” tutur Ekky.

Kondisi ini menjadikan saham-saham komoditas dan emiten dengan struktur pendapatan dolar-biaya rupiah sebagai pilihan defensif di tengah pelemahan mata uang.

Dampak pelemahan rupiah terhadap sektor perbankan dinilai relatif netral secara fundamental. Namun, Ekky mengingatkan porsi kepemilikan asing yang besar membuat saham bank tetap sensitif terhadap pergerakan arus modal. Tekanan rupiah berpotensi memengaruhi keputusan investor asing, meski kinerja inti perbankan masih solid.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai pelemahan rupiah di tengah reli IHSG menandakan arus dana asing yang masuk masih bersifat jangka pendek dan oportunistik.

“Pelemahan rupiah di tengah reli IHSG menunjukkan investor asing masuk untuk memanfaatkan peluang jangka pendek, bukan karena keyakinan struktural terhadap ekonomi domestik,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Sektor yang paling rentan adalah emiten dengan ketergantungan impor tinggi serta perusahaan dengan porsi utang dolar AS yang besar. Kenaikan biaya bahan baku dan risiko selisih kurs berpotensi menekan margin jika tidak diimbangi strategi lindung nilai yang memadai.

Untuk meredam dampak fluktuasi nilai tukar, emiten dinilai telah menyiapkan berbagai strategi mitigasi, mulai dari lindung nilai valuta asing, penyesuaian struktur utang, hingga efisiensi operasional. Keseimbangan antara pendapatan dan beban dalam mata uang yang sama menjadi kunci menjaga stabilitas kinerja.

Dari sisi peluang investasi, David mencermati saham berbasis ekspor dengan neraca keuangan solid masih prospektif. Emiten seperti PT United Tractors Tbk., saham komoditas PT Bumi Resources Tbk. dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk., serta perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dinilai relatif lebih resilien menghadapi volatilitas rupiah.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.