Efek MSCI & valuasi premium, saham big caps konglomerat risiko koreksi

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Prospek saham-saham konglomerasi pada 2026 diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi seiring kebijakan interim freeze indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga Mei 2026 serta isu valuasi yang terlalu mahal.

Keputusan MSCI membekukan perubahan komposisi indeks Indonesia memicu kekhawatiran pelaku pasar. Kondisi ini praktis menggugurkan ekspektasi sejumlah saham untuk masuk indeks global dalam waktu dekat.

Satu-satunya perubahan justru terjadi pada saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang turun kelas ke indeks small cap.

: IHSG Sesi I Terkoreksi Tipis 0,16%, Saham Konglomerat Kompak Loyo

Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto menilai saham-saham terafiliasi konglomerat dengan kapitalisasi pasar jumbo memang masih berpotensi menopang laju IHSG. Namun, risiko koreksi dinilai lebih besar dibandingkan dengan peluang kenaikan signifikan.

“Saham-saham konglo masih volatil. Dari sisi valuasi seharusnya masih bisa turun lagi. Risiko untuk turun lebih besar dibandingkan probability untuk naik, kecuali ada story baru atau spekulasi,” ujarnya, dikutip, Jumat (20/2/2026).

: : Bisikan Target Saham Terbaru Emiten Konglo Prajogo Pangestu BREN, CUAN, PTRO Cs

Sejumlah saham yang dinilai sudah overvalued antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), hingga PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) serta saham renewable energy yang fundamentalnya dinilai belum cukup kuat menopang lonjakan harga.

Di tengah tekanan tersebut, saham berbasis komoditas dinilai relatif lebih solid. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), hingga PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) disebut memiliki katalis operasional tambang dan ekspektasi kenaikan harga emas serta potensi penurunan suku bunga global.

: : Lompatan Saham Konglomerat Prajogo, Aguan Cs Dalam Sepekan Usai Bertemu Prabowo

Saham perbankan juga masih menyimpan peluang. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.  (BBRI), mulai kembali menarik minat investor, sementara PT Bank Central Asia Tbk. masih dibayangi aksi jual asing.

Ancaman Outflow Asing

Data riset Mirae Asset menunjukkan reli IHSG sekitar 22% sepanjang 2025 ternyata tidak sepenuhnya ditopang fundamental pasar. Dari 10 saham penggerak utama indeks, delapan di antaranya tergolong saham spekulatif, bahkan tidak masuk cakupan riset analis.

Tanpa kontribusi saham-saham tersebut, estimasi IHSG disebut hanya berada di kisaran 7.500–7.900, bukan sempat menembus level psikologis 9.000 hingga mencetak rekor sekitar 9.100.

Yang lebih mencolok, rasio Price to Earnings (P/E) saham terafiliasi konglomerasi tertentu mencapai 386 kali, sementara EV/EBITDA menyentuh 129,8 kali, level yang jauh di atas rata-rata historis pasar.

Euforia pasar 2025 banyak dipicu harapan masuk indeks MSCI. Namun, dengan kebijakan freeze hingga Mei 2026, potensi arus dana pasif justru berbalik arah.

Tim analis memperkirakan potensi dana pasif asing yang keluar bisa mencapai sekitar US$10 miliar. Dana aktif asing bahkan disebut telah melakukan penyesuaian lebih awal. Meski secara global, dana aktif asing tergolong kecil, angka tersebut signifikan bagi pasar domestik dan berisiko menekan IHSG lebih dalam.

Risiko bisa bertambah besar apabila terjadi skenario penurunan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.