Emas Antam diprediksi meroket pekan depan usai militer AS tangkap Presiden Venezuela Maduro

Ussindonesia.co.id – Harga emas Antam diprediksi kembali melesat dalam waktu dekat seiring melonjaknya harga emas dunia pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat. Ketegangan geopolitik global yang semakin memanas dinilai menjadi pemicu utama lonjakan harga logam mulia tersebut.

Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, apabila harga emas dunia melonjak tinggi pada perdagangan Senin hingga menyentuh level USD 4.426 per troy ounce, maka harga logam mulia di dalam negeri berpotensi diperdagangkan di level Rp 2.518.000 per gram.

“Apabila harga harga emas dunia naik, di hari Senin meloncat tinggi di USD 4.426, maka harga logam mulia itu diperdagangkan di Rp 2.518.000. Ingat, Rp2.518.000,” ujar Ibrahim dalam analisisnya yang diterima JawaPos.com, Minggu (4/1).

6 Zodiak Jingkrak-Jingkrak Kegirangan Senin 5 Januari 2026: Energi Baru, Rezeki Stabil, dan Kesuksesan Mengalir

Ia melanjutkan, dalam rentang satu pekan ke depan jika harga emas dunia masih tercatat naik hingga ke level USD 4.505 per troy ounce. Kondisi itu berpotensi mendorong harga emas Antam menembus Rp 2.610.000 per gram.

“Nah, kemudian dalam satu minggu kemudian harga emas itu naik, kemungkinan akan kembali ke USD 4.505 per troy-ounce. Nah, logam mulianya itu di Rp2.610.000,” lanjutnya.

Ibrahim menegaskan, ada kemungkinan besar hingga Sabtu pagi pekan depan harga emas Antam akan berada di kisaran Rp 2.610.000 per gram, jika tren penguatan emas dunia terus berlanjut.

Selain faktor geopolitik, pergerakan indeks dolar Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Menurut Ibrahim, indeks dolar pada Sabtu pagi ditutup di level 98,378. Jika dolar melemah, maka akan semakin menguntungkan harga emas.

“Untuk indeks dolar, Sabtu pagi ditutup di 98,378, kalau seandainya turun atau melemah, support pertama itu 98,098, suport kedua itu di 97,834,” jelasnya.

Ibrahim juga mengungkapkan bahwa fluktuasi harga emas dunia dipengaruhi dua faktor utama, yakni dinamika politik Amerika Serikat dan eskalasi geopolitik global. Dari sisi geopolitik, konflik di Eropa kembali memanas setelah Ukraina melancarkan serangan drone ke Rusia.

“Ukraina melakukan penyerangan drone, 91 drone itu ditujukan terhadap rumah dinas Putin yang membuat Rusia kembali melakukan penyerangan sebesar-besaran terhadap wilayah Kherson,” ungkapnya.

Serangan tersebut, kata dia, menyebabkan kerusakan besar di wilayah Ukraina dan memperburuk konflik Rusia-Ukraina, meski sebelumnya sempat ada pembahasan perdamaian antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Selain itu, ketegangan juga terjadi di Timur Tengah, khususnya Iran, yang tengah dilanda krisis ekonomi akibat pelemahan mata uang terhadap dolar AS. Kondisi itu memicu demonstrasi besar-besaran di berbagai kota yang berujung pada korban jiwa dan kecaman dari Amerika Serikat.

Situasi semakin memanas ketika Amerika Serikat disebut siap ikut campur apabila aparat Iran melakukan tindakan represif terhadap demonstran. Hal ini menambah tekanan geopolitik yang mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas.

Di kawasan Amerika Latin, ketegangan mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat melakukan penyerangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, lalu mengekstradisi keduanya ke Amerika Serikat.

“Bahwa begitu mudah Amerika melakukan penyerangan terhadap ibu kota Caracas, ibu kota Venezuela, dan menangkap presiden dan istrinya di esradisi ke Amerika. Ini dari segi geopolitik,” ujar Ibrahim.

Langkah Trump tersebut dinilai kontroversial karena dilakukan tanpa persetujuan Kongres AS, sehingga memicu potensi mosi tidak percaya dari Partai Demokrat. Dengan begitu, kondisi politik dalam negeri Amerika Serikat pun kembali memanas.

Di sisi lain, Ibrahim menilai kondisi ekonomi Tiongkok yang mulai membaik di akhir 2025 turut memberi sentimen positif bagi pasar global, terutama Asia. Selain itu, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang kembali melakukan stimulus USD 40 miliar per bulan melalui pembelian obligasi pemerintah juga berpotensi mendorong harga emas.

“Nah ini yang kemungkinan besar akan membuat harga emas kembali lagi mengalami kenaikan bahkan dalam perdagangan nanti pagi. Harga emas dunia kemungkinan besar akan terjadi gate up yang cukup luar biasa pasca penangkapan Maduro oleh Tentara Amerika,” tukasnya.