Emiten nikel NICL siap guyur dividen Rp63,81 miliar

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Emiten tambang nikel PT PAM Mineral Tbk. (NICL) memutuskan pembagian dividen sebesar Rp63,81 miliar kepada pemegang saham.

Direktur Utama NICL Ruddy Tjanaka mengatakan dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) 2025 yang berlangsung pada Senin (4/5/2026), ada empat mata acara yang dilaksanakan. Salah satunya ialah penggunaan saldo laba untuk pembagian dividen kepada pemegang saham.

“Kami berkomitmen memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan, salah satunya terkait pembagian dividen setiap tahun,” jelasnya dalam Paparan Publik, Senin (4/5/2026).

Pada 2025, NICL mencatatkan volume produksi dan penjualan sebesar 2,56 juta wet metric ton (WMT). Dari capaian tersebut, perseroan membukukan pendapatan Rp1,47 triliun, meningkat 2,12% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp1,44 triliun pada 2024.

Sejalan dengan itu, laba bersih perseroan tumbuh lebih tinggi, yakni 8,27% YoY menjadi Rp345,14 miliar pada 2025, dibandingkan Rp318,76 miliar pada tahun sebelumnya. Kinerja tersebut mencerminkan peningkatan efisiensi operasional serta penguatan tata kelola perusahaan.

Atas raihan kinerja tersebut, RUPST memutuskan penggunaan saldo laba Perseroan tahun buku 2025 sebesar Rp85.092.751.069,00 (Rp85,09 miliar) untuk dua hal.

: : Efek Danantara, Dividen BUMN Melejit Jadi Rp140 Triliun pada 2025

Pertama, membagikan dividen tunai sebesar Rp63.813.869.442 (Rp63,81 miliar) atau sebesar 74,99% dari saldo laba Perseroan tahun buku 2025. Karena itu, setiap saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp6,00 per lembar saham.

Kedua, sisanya Rp21.278.881.627,00 (Rp21,27 miliar) dimasukkan dan dibukukan sebagai saldo laba Perseroan.

: : Prospek Saham ADMF, BBNI, BBCA, Hingga CMRY Cs, Emiten Pembagi Dividen per Saham Terbesar April 2026

PAM Mineral termasuk emiten yang kerap membagikan cuan dividen kepada pemegang saham. Pada tahun buku 2024, perseroan mengalokasikan dividen Rp127,62 miliar atau Rp12 per saham. Jumlah tersebut mencakup 60,83% dari saldo laba pada 2024.

Ruddy Tjanaka mengatakan capaian kinerja 2025 dipengaruhi tren penurunan harga nikel global, yang berhasil diimbangi melalui peningkatan volume penjualan sebesar 13% sebesar 307.000 ton. Peningkatan kinerja ini didukung oleh efisiensi operasional yang berkelanjutan serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya di seluruh lini usaha.

Sejalan dengan strategi pertumbuhan, perseroan menargetkan produksi nikel sebesar 100% dengan proyeksi produksi mencapai 2,6 juta ton pada tahun 2025. Sepanjang tahun berjalan, kapasitas produksi tercatat sebesar 2,6 Wet Metric Ton (WMT), dengan realisasi produksi mencapai 2,56 Juta WMT dan penjualan kumulatif sebesar 10,23 Juta WMT.

“Kinerja tersebut mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga kesinambungan operasional, meningkatkan daya saing, serta mempertahankan kinerja operasional dan keuangan yang sehat,” tutur Ruddy Tjanaka.