Era baru IPO 2026: BUMN absen, swasta siap jadi mercusuar pasar modal

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Calon emiten perusahaan swasta diproyeksi siap menjadi mercusuar pasar modal usai BUMN bakal absen dari daftar antrean penawaran umum perdana saham (IPO).

Bursa Efek Indonesia (BEI) membidik enam perusahaan dengan aset jumbo atau lighthouse untuk melantai melalui skema IPO. Direktur Utama BEI Iman Rachman mengungkapkan perusahaan yang masuk dalam radar lighthouse saat ini masih dalam tahap persiapan teknis.

Namun, dia memberikan catatan penting bahwa dalam daftar antrean perusahaan mercusuar tersebut, belum terdapat nama calon emiten yang berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini menandakan geliat IPO skala besar pada tahun ini masih akan didominasi oleh sektor swasta.

: Prospek IPO 2026: Griya Idola, Vidio, hingga Bank Jakarta Bakal Go Public?

“Seharusnya [dari BUMN] belum ada, sejauh ini belum ada proses,” pungkas Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

BEI turut menargetkan sebanyak 555 pencatatan efek sepanjang tahun 2026. Dari jumlah tersebut, otoritas bursa membidik setidaknya 50 pencatatan saham baru melalui skema penawaran umum perdana.

: : BEI Bidik 6 Emiten Lighthouse IPO pada 2026, BUMN Tak Masuk Antrean

Selain fokus pada penambahan emiten baru, BEI telah menyiapkan arah pengembangan melalui masterplan untuk periode 2026 – 2030. Peta jalan itu menetapkan tujuan besar pada 2030, yaitu membangun pasar modal yang semakin inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global.

Dengan masterplan yang disiapkan, Indonesia diharapkan dapat menembus jajaran 10 besar pasar modal dunia dalam hal kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi, sekaligus memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.

: : Saham IPO 2026: BEI Estimasi 50 Emiten, RNTH Ditarget Rp15 Triliun

Absennya perusahaan pelat merah dalam daftar antrean penawaran IPO di kategori lighthouse pada 2026 dinilai tidak akan menggerus kredibilitas pasar modal domestik.

Sebaliknya, kondisi tersebut dipandang sebagai momentum bagi kemandirian sektor swasta dan kelompok konglomerasi untuk memimpin pasar modal.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan meski keterlibatan BUMN mampu mendongkrak nilai kapitalisasi pasar, ketiadaannya pada tahun ini justru menggeser narasi pasar ke arah yang lebih sehat.

Menurutnya, fokus investor kini tertuju pada kualitas fundamental perusahaan swasta, terutama di sektor infrastruktur dan pertambangan.

“Fokus bursa kini tertuju pada kualitas emiten swasta di sektor infrastruktur dan pertambangan yang secara historis mampu mencatatkan pertumbuhan laba serta dividen yang sangat kompetitif dibandingkan entitas publik,” pungkas Abida, Senin (5/1/2026).

Dia menilai bahwa ketidakhadiran perusahaan milik negara dalam bursa IPO jumbo tahun ini sebaiknya dipandang sebagai periode konsolidasi.

Hal tersebut memberikan ruang bagi pemerintah dan manajemen BUMN untuk fokus memperbaiki efisiensi internal, serta menata kembali struktur keuangan sebelum benar-benar siap melantai di bursa pada masa mendatang.

“Sementara kredibilitas IPO besar tetap terjaga melalui penguatan regulasi perlindungan investor oleh OJK dan kehadiran emiten swasta yang memiliki fundamental kuat dan transparansi tinggi,” kata Abida.

Di sisi lain, kehadiran emiten lighthouse di BEI dinilai menjadi kunci dalam memperdalam likuiditas pasar modal sekaligus menarik minat investor institusi global ke pasar domestik awal 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa kriteria ketat yang ditetapkan untuk calon emiten lighthouse secara fundamental telah memenuhi standar likuiditas internasional.

Seperti diketahui, emiten lighthouse atau mercusuar memiliki sejumlah kriteria, antara lain kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun dengan porsi saham publik (free float) sedikitnya 15% atau setara dengan Rp700 miliar.

Struktur tersebut memungkinkan institusi besar untuk bertransaksi dalam volume jumbo tanpa memicu risiko volatilitas harga yang ekstrem.

“Emiten berskala besar ini menjadi daya tarik utama bagi aliran modal asing, sebagaimana tercermin dari catatan arus masuk investor mancanegara yang masif pada awal tahun 2026. Aliran dana ini terkonsentrasi pada aset-aset berkualitas tinggi,” kata Abida, Senin (5/1/2026).

Abida memaparkan bahwa dengan struktur penawaran yang masif, emiten lighthouse berperan strategis dalam memperdalam kedalaman pasar.

Kehadiran calon emiten lighthouse disebut menyediakan suplai aset stabil bagi pengelola dana, yang selama ini mencari instrumen dengan volatilitas terjaga, tetapi memiliki kapitalisasi besar di pasar reguler.

Menurutnya, momentum itu diperkuat dengan kembalinya kepercayaan investor global terhadap aset-aset berfundamental kuat. Dengan bertambahnya emiten dalam kategori ini, pasar modal diharapkan tidak hanya tumbuh secara kuantitas, namun juga secara kualitas dari sisi nilai transaksi harian.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.