
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Memanasnya geopolitik Amerika Serikat dan Venezuela memicu penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY). Hingga pukul 11.54 WIB indeks dollar AS di level 98,74 naik 0,32% dari hari sebelumnya.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan melihat dari sisi DXY, sentimen risk off yang muncul dapat memberikan dukungan jangka pendek terhadap dolar sebagai aset safe haven. Namun, penguatan tersebut diperkirakan tidak berkelanjutan.
Menurutnya, Venezuela bukan aktor sistemik dalam ekonomi global, sehingga guncangan yang ditimbulkan tidak cukup besar untuk membalik tren pelemahan dolar yang saat ini masih dibayangi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada 2026, defisit fiskal AS yang tinggi, serta kekhawatiran atas independensi bank sentral.
IHSG Naik 0,65% ke 8.804 pada Sesi I Senin (5/1), BUMI, INCO, ANTM Top Gainers LQ45
“Dalam konteks ini, DXY berpotensi mengalami rebound teknikal ke kisaran 99,5–100,” kata Brahmantya kepada Kontan, Senin (5/01/2026).
Lebih lanjut, Brahmantya menyampaikan meningkatnya ketidakpastian dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang berpotensi bergerak melemah secara terbatas seiring fluktuasi DXY dan arus modal global.
Disamping itu, pasar minyak masih menghadapi risiko kelebihan pasokan pada 2026, terutama dari produsen non-OPEC seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak diperkirakan bersifat moderat dan masih cenderung stagnan.
OPEC+ dinilai memilih menjaga stabilitas pasar dan kohesi internal, sambul menunda keputusan strategis hingga pertemuan berikutnya pada 1 Februari mendatang.
Secara keseluruhan, isu Venezuela tidak diperkirakan menimbulkan guncangan besar bagi perekonomian Indonesia, tetapi tetap menjadi faktor risiko eksternal yang perlu dicermati, terutama dalam pengelolaan stabilitas nilai tukar, fiskal, dan kebijakan energi ke depan.