
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga Bitcoin kembali bergerak volatil setelah sempat reli menembus level US$ 81.500 pada akhir pekan lalu.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan aset kripto terbesar di dunia itu kembali terkoreksi ke kisaran US$ 76.500–US$ 77.000 pada awal pekan ini.
Mengacu data CoinMarketCap pada Selasa (19/5/2026) pukul 18.05 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di level US$ 76.958 atau melemah 4,45% dalam sepekan terakhir.
Hati-Hati, Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Berpotensi Menekan Pasar Saham
Analis Reku Andi Fauzan menilai, reli Bitcoin sebelumnya didorong derasnya aliran dana masuk (inflow) ke produk spot Bitcoin exchange traded fund (ETF) pada awal Mei 2026.
“Reli akhir pekan lalu didorong inflow kuat ke spot Bitcoin ETF pada awal Mei, termasuk arus dana lebih dari US$ 1 miliar dalam beberapa hari. Selain itu, aksi short covering juga mendorong harga naik ke area US$ 81.500–US$ 82.300 pada 5–6 Mei,” ujar Andi kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).
Namun, sentimen positif tersebut mulai memudar seiring meningkatnya arus dana keluar (outflow) dari ETF Bitcoin.
Andi mencatat, outflow ETF mencapai sekitar US$ 635 juta pada 13 Mei, termasuk penarikan dana sekitar US$ 448 juta dari produk milik BlackRock pada 18 Mei.
GOTO Siapkan Empat Strategi Hadapi Aturan Komisi Tarif, Simak Rekomendasi Sahamnya
Tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global akibat data inflasi yang masih tinggi, meningkatnya tensi geopolitik, hingga aksi likuidasi posisi long berleverage di tengah volume transaksi yang relatif tipis.
Kombinasi faktor tersebut membuat Bitcoin gagal mempertahankan level psikologis US$ 80.000.
Meski demikian, Andi menilai koreksi saat ini belum mengindikasikan perubahan tren menjadi bearish dalam jangka panjang.
Menurutnya, pelemahan harga lebih mencerminkan fase konsolidasi setelah Bitcoin gagal menembus area resistance di level US$ 82.000, di tengah siklus pasar yang mulai matang.
Menakar Efek Pelemahan Rupiah Terhadap Kinerja Grup Indofood (ICBP) dan (INDF)
“Saya tidak melihat ini sebagai tren bearish jangka panjang, melainkan fase konsolidasi. Prospek kenaikan masih terbuka pada paruh kedua 2026 apabila inflow ETF berlanjut, terjadi supply shock pasca-halving, serta ada potensi penurunan suku bunga,” katanya.
Kendati prospek jangka panjang masih dinilai positif, Andi memperkirakan tekanan dari faktor makroekonomi global berpotensi membuat Bitcoin bergerak turun lebih dulu ke area US$ 70.000–US$ 74.000 sebelum kembali rebound.
Untuk investor, ia menyarankan strategi akumulasi bertahap atau dollar cost averaging (DCA), khususnya saat harga bergerak di area support kuat.
“Strateginya tetap DCA rutin di kisaran support US$ 70.000–US$ 75.000, dengan alokasi maksimal 5%–10% dari portofolio. Hindari leverage tinggi dan fokus pada investasi jangka panjang,” ujarnya.
Adapun pada semester II-2026, Andi memproyeksikan harga Bitcoin bergerak dalam rentang US$ 75.000–US$ 85.000 per koin, dengan rata-rata berada di kisaran US$ 77.000–US$ 82.000 apabila minat investor institusi tetap terjaga.