Harga buyback emas Antam anjlok menjauh dari rekor ATH Senin (9/3)

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Harga buyback emas Antam kembali mengalami koreksi pada hari ini Senin (9/3/3026).

Berdasarkan data Logam Mulia Senin (9/3/2026), harga buyback emas Antam turun Rp65.000 ke Rp2.757.000. Posisi itu menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 pada akhir Januari 2026.

Kendati demikian, harga buyback emas Antam tercatat telah menguat 16,82% sejak awal tahun ini atau year-to-date (ytd) 2026. Banderol ini merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram.

: Ramalan Harga Emas dan Dampak Perang AS-Iran

Sebagaimana diketahui, harga buyback emas Antam bergerak sejalan dengan mahar logam mulia di pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (9/3/2026), harga emas spot turun 1,5% menjadi US$5.093,39 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex melemah 1,18% menjadi US$5.097,70 per troy ounce.

: : Harga Emas Hari Ini Senin, 9 Maret 2026 di Pasar Spot

Logam mulia tersebut sempat merosot hingga 3% ke level US$5.015 per ounce setelah mencatatkan penurunan mingguan pertama dalam lebih dari satu bulan terakhir, sebelum memangkas sebagian kerugiannya.

Penurunan terjadi ketika sejumlah produsen minyak dan gas utama di kawasan Teluk Persia memangkas produksi di tengah konflik AS dan Israel dengan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada saat yang sama, dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya, dengan indeks pengukur kekuatan dolar sempat melonjak hingga 0,7%.

: : Para Pembeli Emas Antam yang Masih Gigit Jari Jelang Lebaran 2026

Harga emas tertekan karena lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi di AS, yang berpotensi membuat bank sentral AS menahan suku bunga lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya.

Biaya pinjaman yang lebih tinggi serta penguatan dolar biasanya berdampak negatif bagi logam mulia. Selain itu, emas juga dimanfaatkan investor sebagai sumber likuiditas di tengah aksi jual yang semakin dalam di pasar saham global.

Kendati perdagangan cenderung bergejolak dan momentum kenaikan tertahan, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 18% sepanjang tahun berjalan.

Ketidakpastian perdagangan global dan geopolitik, termasuk kebijakan Presiden AS Donald Trump serta ancaman terhadap independensi bank sentral, turut mendorong permintaan terhadap aset safe haven.

Pembelian emas oleh bank sentral juga menjadi faktor pendukung. Bank sentral China menambah cadangan emas pada Februari, memperpanjang tren pembelian selama 16 bulan berturut-turut.

Analis logam Marex Capital Markets Inc. Ed Meir dalam catatan tertanggal 7 Maret 2026 menyebutkan bahwa berakhirnya konflik secara relatif cepat berpotensi melemahkan dolar dan mendorong reli emas. 

Sebaliknya, perang yang berkepanjangan dapat memicu kenaikan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS seiring ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, sehingga mengurangi peluang penurunan suku bunga.

“Ada saatnya untuk membeli, ada saatnya untuk menjual, dan ada saatnya untuk menunggu. Untuk saat ini, opsi terakhir menjadi pendekatan yang paling tepat,” tulisnya.

Adapun perang di Timur Tengah kini telah memasuki hari ke-10. Selama akhir pekan, Teheran memilih pemimpin tertinggi baru dan melanjutkan serangan di kawasan Teluk Persia, sementara Israel menyerang depot bahan bakar di ibu kota Iran dan mengancam jaringan listrik negara tersebut.

Serangan terhadap infrastruktur energi serta terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia, turut mendorong lonjakan harga minyak mentah dan gas alam.