
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 19,44% hingga hari ini Kamis (5/3/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Kamis (5/3/2026), harga buyback emas Antam naik Rp25.000 ke Rp2.819.000. Posisi itu mencerminkan kenaikan 19,44% untuk periode berjalan 2026.
Kendati demikian, harga buyback emas Antam masih terpaut dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 pada akhir Januari 2026.
: Pergerakan Harga Emas Hari Ini Kamis, 5 Maret 2026 di Pasar Spot
Sebagaimana diketahui, harga buyback emas Antam merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram. Pergerakan sejalan dengan mahar logam mulia di pasar global.
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
: : Jelang Lebaran, Antam (ANTM) Luncurkan Emas Batangan dan Gift Series Idulfitri
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
: : Cara Gadai Emas di Pegadaian, Solusi Dapat Dana Cepat untuk Lebaran 2026
Berdasarkan data Bloomberg Kamis (5/3/2026), harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,47% atau 24,38 poin ke level US$5.164,74 per troy ounce pada pukul 07.05 WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka kontrak April 2026 di Comex AS menguat 0,72% atau 36,80 per troy ounce.
Harga emas melanjutkan penguatan setelah ditutup rebound pada Rabu, seiring masuknya pemburu harga murah ke pasar yang dipenuhi ketidakpastian pada hari kelima eskalasi perang di Timur Tengah.
Melansir Bloomberg, Amerika Serikat menyatakan akan memperdalam serangan ke wilayah Iran dan menilai kemampuan militer negara tersebut semakin menurun. Belasan negara kini terseret dalam konflik, dengan Teheran menargetkan Israel dan negara-negara Teluk, sementara pasukan Israel dan AS menggempur berbagai sasaran di Iran.
AS juga dilaporkan menenggelamkan sebuah kapal perang Iran di perairan internasional, sementara Turki turut terkena dampak serangan.
Di saat yang sama, Teheran menepis laporan mengenai upaya pendekatan ke AS untuk merundingkan penghentian konflik. Iran menyebut laporan tersebut sebagai “kebohongan murni.”
Kepala analis valuta asing global Union Bancaire Privee SA Peter Kinsella mengatakan penurunan tajam ekspektasi bullish oleh hedge fund dan manajer investasi akan membatasi potensi penurunan harga emas.
Data Commodity Futures Trading Commission menunjukkan posisi beli bersih investor mendekati level terendah dalam satu dekade.
“Saya yakin kita pasti akan melihat pemulihan harga emas. Jika ada, hasil perang yang tidak konklusif justru semakin menyoroti risiko geopolitik yang berkelanjutan,” jelasnya.
Meski demikian, tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi berpotensi membatasi kenaikan emas, karena dapat memaksa bank sentral global mempertahankan suku bunga lebih lama atau bahkan menaikkannya.
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 80% bagi The Fed untuk memangkas suku bunga lebih dari seperempat poin tahun ini.
Emas kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, meski suku bunga tinggi yang menyertai kenaikan harga dapat membebani kinerjanya, seperti yang terjadi pada 2022. Menurut George Cheveley dari Ninety One, emas paling tepat dipahami sebagai lindung nilai terhadap kondisi ekstrem.
“Jadi jika inflasi tinggi, emas bereaksi. Jika terjadi deflasi, emas juga bereaksi. Hal terburuk bagi emas adalah lingkungan ekonomi yang stabil,” jelasnya.