
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia turun di bawah MYR 4.600 per ton. Penurunan berlanjut akibat penguatan ringgit dan pelemahan minyak nabati di pasar Dalian dan Chicago.
Sentimen semakin tertekan oleh laporan bahwa AS dan Iran sedang mengupayakan nota kesepahaman untuk menetapkan kerangka kerja pembicaraan yang bertujuan mengakhiri perang. Perkembangan tersebut dapat menurunkan harga minyak mentah, merugikan ekonomi biofuel dan mengurangi permintaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Seperti dikutip Tradingeconomics, Kamis (7/5), sementara itu, kekhawatiran akan permintaan semakin dalam, dengan impor oleh pembeli utama India turun 27% secara bulanan pada bulan April ke level terendah dalam satu tahun.
Sementara itu, surveyor kargo mencatat ekspor 1-25 April turun 15,7%–16,8% dari Maret, mencerminkan penurunan pasca-liburan.
Namun, penurunan dibatasi setelah Malaysia mengkonfirmasi mandat B15 akan berlaku mulai 1 Juni, naik dari B10, untuk mengekang impor bahan bakar.
Secara terpisah, harga minyak sawit diperkirakan akan naik sekitar 12% menjadi MYR 5.200 pada pertengahan Juli, menurut analis Dorab Mistry, karena permintaan biodiesel menguat dan pasokan menipis akibat kenaikan harga minyak nabati yang didorong oleh sektor energi.