
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (23/4/2026) setelah sempat jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepekan pada sesi sebelumnya.
Kenaikan ini dipicu aksi beli investor yang memanfaatkan koreksi harga, sekaligus meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada perdagangan terakhir, harga emas spot tercatat naik 0,5% menjadi US$ 4.735,65 per ons pada pukul 13.40 waktu setempat, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga 1% di awal sesi.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga ditutup menguat 0,7% ke level US$ 4.753,00 per ons.
Harga Emas Mendatar di Tengah Ketegangan AS-Iran, Investor Tunggu Data Inflasi
Analis menilai penguatan ini lebih banyak didorong faktor teknikal setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya.
“Aksi beli setelah kerugian pada hari Selasa juga terlihat di pasar logam mulia,” ujar Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals, menggambarkan adanya aksi bargain hunting di pasar emas dan perak.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar. Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik paling sensitif di Timur Tengah.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump disebut belum menetapkan tenggat waktu untuk kemungkinan gencatan senjata dengan Iran, meski tekanan diplomatik terus berlangsung.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda dimulainya kembali pembicaraan perdamaian antara kedua negara.
Situasi di kawasan juga kian memanas setelah gencatan senjata Israel–Lebanon kembali terguncang, menyusul serangan drone Israel yang menewaskan sedikitnya tiga orang di Lebanon.
Harga Emas Melonjak 1,6%, Dolar AS Melemah Jadi Pemicu Utama
Meski demikian, sebagian analis menilai pasar masih berharap ketegangan di Selat Hormuz dapat mereda.
“Harga emas sedikit terbantu oleh harapan bahwa isu Selat Hormuz bisa diredakan setelah pernyataan Donald Trump. Tapi situasinya tetap sangat rapuh dan tidak pasti,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities.
Dalam perspektif lebih luas, harga emas tercatat telah melemah sekitar 11% sejak eskalasi konflik AS–Israel–Iran pada akhir Februari.
Tekanan datang dari kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi, di tengah kondisi suku bunga tinggi yang justru menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Di tengah dinamika tersebut, perhatian pasar juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Harga Emas Anjlok: Tersengat Penguatan Dolar AS, Inflasi Hantui Investor Global!
Calon Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan dirinya tidak memberikan janji kepada Presiden Trump terkait pemangkasan suku bunga, seraya menekankan independensi kebijakan bank sentral di tengah proses konfirmasi di Senat.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lain juga ikut menguat. Harga perak spot naik 1,4% menjadi 77,80 dolar AS per ons, platinum menguat 2,1% ke 2.079,80 dolar AS, dan paladium naik 1,3% menjadi US$ 1.553,43 per ons.