Rupiah diproyeksi kembali melemah hari ini (23/4), cek sentimen yang menyeretnya

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksi kembali melemah pada perdagangan hari ini (23/4/2026). Sekedar mengingatkan, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,22% secara harian ke Rp 17.181 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (22/4/2026). 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah melemah 0,21% secara harian ke Rp 17.179 per dolar AS. 

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump disebut akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu.

Hal tersebut memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global. 

Suku Bunga BI Tetap 4,75%, Saham Properti Masih Menarik?

Langkah tersebut tampak sepihak, dan belum jelas apakah Iran, atau sekutu AS yakni Israel, akan setuju untuk memperpanjang gencatan senjata, yang dimulai dua minggu lalu.

“Trump juga mengatakan Angkatan Laut AS akan mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang,” kata Ibrahim, Rabu (22/4/2026). 

Ibrahim memproyeksikan, hari ini (23/4/2026), rupiah bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.180 – Rp 17.220 per dolar AS.

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi perkembangan eskalasi di Timur Tengah pada hari ini.

Pasar masih menunggu perkembangan harga minyak terkait perang di Timur Tengah. Selain itu pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen permintaan musiman terkait pembayaran dividen emiten yang cukup tinggi pada bulan April. 

Trisula Textile (BELL) Dapat Izin Bagi Dividen Rp 10 Miliar, Usai Laba Naik 9%

David memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.100 – Rp 17.200 per dolar AS untuk hari ini (22/4/2026). 

Di sisi lain, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, untuk hari ini pegerakan rupiah dipengaruhi sentimen geopolitik. 

“Tidak ada data ekonomi penting baik dari dalam maupun luar, rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah dalam rentang Rp 17.125 – Rp 17.250 per dolar AS,” terang Lukman.