Harga emas pecah rekor lagi dipicu gejolak Iran dan kisruh The Fed

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high di tengah ancaman pidana terhadap Federal Reserve (The Fed) dan eskalasi kerusuhan mematikan di Iran yang memperuncing risiko geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (12/1/2026), harga emas naik 1,7% menjadi US$4.585,39 per ons pada pukul 09.08 waktu Singapura.

Logam mulia tersebut sempat mendekati level US$4.600 per ons setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan bahwa bank sentral AS menerima surat panggilan dewan juri (grand jury subpoenas) dari Departemen Kehakiman terkait kesaksiannya di Kongres pada Juni lalu mengenai renovasi kantor pusat The Fed.

Langkah ini menandai eskalasi konflik Presiden Donald Trump dengan Powell, sekaligus memicu kembali kekhawatiran atas independensi otoritas moneter AS.

Di sisi lain, aksi protes berdarah di Iran turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Potensi tergulingnya Republik Islam Iran menambah ketidakpastian geopolitik dan pasar minyak global.

Trump pada Minggu menyatakan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi terkait Iran, sembari kembali melontarkan ancaman untuk mengambil alih Greenland dan mempertanyakan nilai aliansi NATO, hanya sepekan lebih setelah penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.

“Ini menjadi pengingat betapa banyak ketidakpastian yang tengah dihadapi pasar—mulai dari geopolitik, perdebatan pertumbuhan dan suku bunga, hingga kembali mencuatnya risiko institusional yang dipicu oleh berita,” ujar Charu Chanana, analis strategi Saxo Markets di Singapura.

Emas baru saja menutup tahun dengan kinerja rekor, didorong oleh kombinasi berbagai faktor pendukung, mulai dari penurunan suku bunga, meningkatnya ketegangan geopolitik, hingga menurunnya kepercayaan terhadap dolar AS.

Lebih dari selusin manajer investasi menyatakan memilih untuk tidak terlalu banyak merealisasikan keuntungan, dengan tetap memegang keyakinan terhadap daya tarik jangka panjang emas.

: : Emiten Emas Diramal Ketiban Untung Efek Tensi Geopolitik Memanas

Data ketenagakerjaan AS pekan lalu turut menopang ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini, yang mendukung aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Laporan tenaga kerja menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada bulan lalu berada di bawah perkiraan, memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan terus menurunkan biaya pinjaman guna menopang perekonomian.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini, setelah The Fed sebelumnya memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut pada paruh kedua tahun lalu, kondisi yang menguntungkan emas yang tidak memberikan bunga.

Sementara itu, Mahkamah Agung AS belum memberikan putusan terkait kebijakan tarif Trump dan menjadwalkan penyampaian pendapat berikutnya pada Rabu. Putusan yang menentang tarif tersebut berpotensi melemahkan kebijakan ekonomi andalan Trump dan menjadi kekalahan hukum terbesarnya sejak kembali menjabat di Gedung Putih.