Harga emas turun 9%, analis yakin aksi bank sentral tetap tahan harga di level tinggi

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Kenaikan harga emas yang melesat tajam dalam beberapa bulan terakhir mulai memasuki area jenuh beli (overbought).

Melansir laman Logam Mulia pada Sabtu (31/1/2026), harga emas batangan Rp 2.860.000 per gram, turun Rp 260.000 dibandingkan sehari sebelumnya di Rp 3.120.000.

Ada pun harga emas spot naik 75,13% secara tahunan menjadi US$ 4.894,23 per ons troi. Tapi menurun 8,98% secara harian. Namun, pada Kamis (29/1/2026) pagi, harga emas global sempat mencetak rekor dengan pergerakan harga mendekati US$ 5.600 per troi ons. yang kemudian ditutup di level US$ 5.375,24 per ons troi. 

Berikut Daftar Harga Emas di Galeri24 dan UBS pada Sabtu (31/1)

Meski demikian, prospek harga emas dinilai masih akan bertahan di level tinggi seiring berlanjutnya aksi akumulasi oleh bank sentral global.

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky, menilai kondisi pasar emas saat ini diwarnai oleh sinyal yang saling berlawanan antara pelaku pasar keuangan dan otoritas moneter dunia.

“Harga emas ini sudah berada di level jenuh overbought. Namun di sisi lain, bank sentral masih terus melakukan pembelian,” ujar Yanuar kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Ia menjelaskan, dari pasar derivatif, mulai muncul sinyal short di kontrak berjangka emas, khususnya dari ETF berbasis harga emas yang dikelola hedge fund. 

Sinyal tersebut mengindikasikan adanya upaya pelaku pasar mengambil keuntungan setelah reli harga yang agresif.

Namun, kondisi itu berhadapan langsung dengan strategi bank sentral berbagai negara yang justru meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari langkah lindung nilai (hedging). 

Menurut Yanuar, langkah ini terkait dengan meningkatnya risiko gagal bayar surat utang global di tengah potensi tekanan pasar keuangan internasional.

Yanuar juga menyoroti dinamika di pasar future emas yang memperkuat lonjakan harga dalam waktu singkat. Posisi short jual emas dalam posisi kosong di bursa berjangka merespons naiknya permintaan beli di luar bank sentral, sementara ketersediaan emas fisik terbatas.

Baru Dibuka dari Suspensi, Saham Abadi Lestari (RLCO) Langsung ARB 9,77%

“Kenaikan bulan ini yang tajam akibat transaksi short ditutup karena tidak tersedia fisik, ini berakibat naiknya harga emas future karena menutup short dengan buy di harga marjin,” paparnya.

Kondisi tersebut mendorong harga emas di pasar berjangka naik lebih cepat, seiring aksi short covering yang masif. 

Meski begitu, Yanuar mengingatkan bahwa pergerakan harga ke depan berpotensi semakin volatil, terutama akibat dinamika posisi ETF.

“Volatilitas bisa meningkat karena posisi ETF. Tapi secara struktural, harga emas masih akan bertahan tinggi karena bank sentral tetap menjadi penopang utama permintaan,” pungkas Yanuar.