
Ussindonesia.co.id NEW YORK. Harga minyak dunia bertahan di level tertinggi dalam hampir empat bulan terakhir, didorong meningkatnya kekhawatiran geopolitik terkait Iran serta melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).
Pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026), harga minyak Brent naik 83 sen atau 1,23% ke level US$ 68,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 82 sen atau 1,31% menjadi US$ 63,21 per barel.
Secara bulanan, kedua acuan minyak tersebut mencatat kenaikan terbesar sejak Juli 2023. Brent diperkirakan melonjak sekitar 12%, sedangkan WTI naik sekitar 10%.
Harga Minyak Dekati Level Tertinggi Dua Pekan, Dipicu Meningkatnya Risiko Geopolitik
Sentimen pasar menguat setelah Presiden AS Donald Trump kembali menekan Iran agar bersedia berunding terkait program nuklirnya. Trump memperingatkan bahwa serangan AS berikutnya akan jauh lebih besar jika kesepakatan tidak tercapai.
Iran merespons dengan menegaskan akan melawan dengan kekuatan penuh jika diserang. Situasi kian memanas setelah sebuah kapal induk AS beserta armada pendukungnya tiba di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, pasar juga mencermati peluang meredanya konflik Rusia dan Ukraina. Negosiasi trilateral antara Rusia, Ukraina, dan AS dijadwalkan kembali digelar di Abu Dhabi pada 1 Februari mendatang.
Selain faktor geopolitik, harga minyak turut ditopang oleh penurunan tak terduga stok minyak mentah AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari.
Angka ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang memproyeksikan kenaikan 1,8 juta barel.
Harga Minyak Ada di Level Tertinggi 4 Bulan, Imbas Pelemahan Dolar dan Badai di AS
Penurunan stok tersebut dipicu oleh kuatnya ekspor minyak mentah AS serta turunnya volume impor. Namun, badai musim dingin yang melanda sebagian besar wilayah AS turut menekan infrastruktur energi.
Produksi minyak domestik sempat turun sekitar 600.000 barel per hari atau sekitar 4% dari total produksi nasional, meski produsen mulai mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak.
Dari sisi eksternal, melemahnya dolar AS juga menjaga harga minyak tetap tinggi. Nilai dolar mendekati level terendah dalam empat tahun terhadap sekeranjang mata uang utama, sehingga komoditas berbasis dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Bank Sentral AS (The Fed) sendiri memutuskan menahan suku bunga, dengan alasan inflasi masih relatif tinggi meski pertumbuhan ekonomi tetap solid.
Sementara itu, gangguan produksi di Kazakhstan turut memperkuat reli harga minyak. Meski negara anggota OPEC+ tersebut berharap produksi di ladang Tengiz dapat pulih bertahap dalam sepekan, sejumlah sumber menyebut proses pemulihan berpotensi memakan waktu lebih lama.