
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi pada awal 2026, ditopang kombinasi sentimen geopolitik dan gangguan pasokan yang membuatnya kembali memasuki fase bullish.
Pada penutupan perdagangan Jumat (30/1/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$ 65,2 per barel, turun 0,32% secara harian. Namun, harga minyak WTI masih naik 13,57% secara bulanan.
Kemudian harga minyak Brent ditutup di level US$ 69,3, turun 0,39% namun masih naik 13,92% secara bulanan.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, kenaikan harga minyak yang cukup agresif di awal tahun ini dipicu kombinasi faktor teknikal dan fundamental.
“Melihat pergerakan harga minyak yang cukup agresif di awal tahun 2026 ini, memang ada kombinasi antara faktor teknikal yang sudah overbought dan fundamental yang dipenuhi ketegangan,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Harga Minyak Melonjak 3% ke Level Tertinggi Lima Bulan, Pasar Cemas AS Serang Iran
Wahyu menjelaskan, lonjakan harga minyak dalam sebulan terakhir terutama dipicu tiga faktor utama. Pertama, eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.
Menurutnya, pasar mengkhawatirkan laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran. Kekhawatiran ini beralasan mengingat Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC.
“Gangguan di Iran atau penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur 20 juta barel minyak per hari, adalah mimpi buruk bagi pasokan global,” kata Wahyu.
Faktor kedua datang dari gangguan pasokan non-OPEC. Wahyu menyebut badai musim dingin ekstrem di AS sempat memangkas produksi hingga 2 juta barel per hari. Selain itu, kondisi force majeure di Kazakhstan akibat masalah distribusi listrik juga ikut memperketat suplai global secara mendadak.
Ketiga, premi risiko geopolitik yang semakin mahal. Ketidakpastian di Timur Tengah menciptakan fear factor yang membuat investor bersedia membayar harga lebih tinggi sebagai antisipasi potensi kelangkaan pasokan ke depan.
Meski saat ini berada dalam tren bullish, Wahyu menilai, prospek harga minyak sepanjang 2026 tetap menantang. Dari sisi tren, penguatan berpeluang bertahan selama ketegangan Iran belum mereda.
Namun, ia mengingatkan, secara teknikal harga minyak saat ini sudah masuk wilayah jenuh beli (overbought), sehingga ruang kenaikan lanjutan cenderung terbatas.
Harga Minyak Makin Panas, Brent Diproyeksi Tembus US$ 70 Per Barel
Wahyu juga melihat peluang koreksi tajam tetap terbuka di sepanjang tahun 2026 ini. Ia menilai bila tensi geopolitik mereda, pasar akan kembali fokus pada fundamental pasokan-permintaan yang diproyeksi mengalami surplus.
“Banyak lembaga keuangan seperti Goldman Sachs dan J.P. Morgan memprediksi tahun 2026 akan menjadi tahun surplus minyak,” jelasnya.
Dengan volatilitas yang tinggi, Wahyu menyebut, komoditas minyak tetap layak dicermati investor pada 2026. Namun, strategi yang digunakan perlu disesuaikan.
“Komoditas minyak di tahun 2026 lebih cocok untuk trading jangka pendek (swing trade) daripada investasi buy and hold,” ujarnya.
Adapun untuk kuartal I 2026, Wahyu memperkirakan harga WTI bergerak di kisaran US$ 50 – US$ 75 per barel. Sedangkan harga minyak Brent diperkirakan berada pada rentang US$ 55 – US$ 80 per barel.